Keterampilan Membaca, Agoes Hendriyanto

Keterampilan Membaca, Agoes Hendriyanto
SHARE

KETERAMPILAN  MEMBACA

AGOES HENDRIYANTO, S.P.,M.Pd

SEMESTER 1

Mata kuliah ini membahas hakikat dan proses membaca, jenis-jenis membaca, langkah-langkah kegiatan membaca, faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, membaca intensif dan ekstensif, dan pengembangan kemampuan membaca skimming dan scanning. Setelah menempuh Mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan konsep-konsep tentang membaca.

Mata kuliah ini membekali mahasiswa berupa kemampuan memperluas wawasan melalui membaca tingkat lanjut. Untuk memeroleh kemampuan tersebut, mahasiswa berlatih menerapkan metode SQ3R, teori skema, kecepatan membaca efektf, membaca kritis dan kreati f, membaca karya sastra, memerapkan formula keterbacaan, dan menilai kemampuan membaca siswa.

PERTEMUAN 1 Kontrak Kuliah

Tugas 1.

Buatlah simpulan dari artikel  penulis Agoes Hendriyanto dengan cara searching di Google ataupun repository STKIP PGRI Pacitan

Tugas  2.

Artikel yang saudara gunakan untuk kerjakan tugas 1 Silakan saudara baca dengan Gunakan Metode SQ3R

Aturan penulisan:

  1. Ketik dengan gunakan kertas A4, jarak  spasi 1,5
  2. Margin sebagai berikut:  margin kiri 4, top margin 4, margin kanan 3, dan bottom margin 3
  3. Jumlah minimum 750 kata, dengan menggunakan huruf time roman 12
  4. Silakan memilih 2 artikel ilmiah yang saudara sukai dan sarikan, sebagai Tugas 1 dan Tugas 2
  5. Jangan lupa tulis sumber referensi
  6. Tulisan dikumpulkan kolektif ke ketua kelas, berbentuk soft file dan dikumpulkan saat pembelajaran luring

Dikumpulkan via email: rafid.musyffa@gmail.com

 

Materi Dibawah Ini Silakan Dibaca Yaaa…. UAS

Hakikat dan Proses Membaca 2-3

PERTEMUAN 4 MEMBACA SQ3R

METODE MEMBACA SQ3R (SURVEI, QUSTION, READ, RECITE, REVIEWER) !!!!!!!!!

Metode SQ3R ini merupakan suatu metode yang sangat populer dan banyak digunakan orang karena metode ini hasilnya sangat memuaskan. Biasanya metode ini digunakan untuk belajar secara mendalam, misalnya dalam menghadapi ujian ataupun presentasi.

SQ3R ini merupakan singkatan dari lima langkah strategis dalam proses membaca seperti berikut :
1. Survey ( Meninjau )
Sebelum kita mulai membaca buku perlu dilakukan terlebih dahulu survey teks. Survey disini berarti meninjau atau mengamati isi teks secara sekilas.

2. Question ( Bertanya )
Setelah melakukan survey dan kita sudah mendapatkan gambaran umum mengenai teks maka langkah selanjutnya adalah mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya yang relevan dengan gagasan-gagasan utama yang perlu kita ketahui. Pertanyaan ini berguna untuk menentukan apa yang ingin kita ketahui. Secara tidak langsung pertanyaan ini dapat membantu kita menentukan tujuan membaca.

3. Read ( Membaca )
Kegiatan ini berupa membaca baris demi baris yang dilakukan dengan tidak terlalu cepat dan hati-hati. Pada langkah ini, kita membaca secara aktif dan teliti dalam rangka mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan pada langkah ke dua. Dalam proses membaca ini kita bisa membuat catatan-catatan , menandai bagian-bagian penting, dan membuat garis bawah atau tanda-tanda tertentu.

4. Recite ( Menceritakan kembali )
Langkah ini disebut dengan langkah pengendapan dan perenungan. Langkah ini dapat dilakukan setelah selesai membaca atau berhenti sejenak setiap kali selesai membaca suatu bab atau bagian, untuk berusaha mengingat dan menceritakan kembali jawaban-jawaban yang kita peroleh atas pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya.

5. Review ( Mengulangi / Meninjau ulang )
Setelah membaca teks secara keseluruhan, hendaknya kita tidak langsung mengakhiri kegiatan membaca, melainkan melakukan review terlebih dahulu. Review di sini dilakukan dengan meninjau ulang. Review bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :
* Dengan melakukan tinjauan ulang atas semua pertanyaan dan jawaban kita.
* Dengan meninjau ulang bagian-bagian penting dalam teks yang telah kita tandai sebelumnya.
Tahap ini bertujuan membantu kita untuk menemukan pokok-pokok penting yang perlu diingat kembali, menemukan bagian penting yang belum dipahami, membantu memperdalam pemahaman kita, serta membantu mengingat apa yang telah kita peroleh dalam jangka waktu yang lama.

Baca Juga  Upaya Meningkatkan Kebugaran Lansia Melalui Senam di Dusun Kepek

Kelebihan dari metode SQ3R adalah :
* Dapat menangkap, memahami dan membaca suatu informasi maupun bacaan secara detail atau menyeluruh dari suatu bacaan dengan cepat dan tepat.
* Metode SQ3R mampu mempertahankan dan memperdalam pemahaman dalam pikiran pelajar dengan jangka waktu yang lebih panjang.
* Metode SQ3R bisa membantu pelajar untuk lebih berkonsentrasi dalam menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan serta membantu memfokuskan bagian-bagian yang tersulit dalam membaca.
* Mendorong pelajar lebih aktif baik dalam menggali informasi dari suatu bacaan demi mendapatkan jawabannya.
* Memiliki langkah-langkah yang sudah jelas dan terarah , sehingga pelajar akan mudah terarah langsung pada inti materi bacaan tersebut.

Kelemahan dari metode SQ3R adalah :
* Kurang efektif untuk pemahaman , dikarenakan kurangnya satu langkah WRITE ( menulis ) yang berfungsi untuk mencatat informasi yang telah ditemukan dan dianggap penting yang mampu meningkatkan daya ingat kita dalam bentuk catatan.
* SQ3R lebih mengacu kepada metode membaca untuk belajar secara mendalam, seperti ujian dan presentasi, sehingga kurang efektif untuk pembelajaran yang lain.
* Metode SQ3R hanya dapat dilakukan di tempat yang tidak ramai / bising karena memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi.
* Metode ini hanya bisa diterapkan oleh mayoritas pelajar yang mempunyai kemampuan berpikir secara cepat, logis dan sistematik.
* Seiringnya perkembangan teknologi, metode SQ3R ini akan kalah saing dengan sistem pembelajaran yang menggunakan video yang lebih interaktif.

Demikian penyampaian pengalaman dan tanggapan dari saya , Sekian dan terima kasih pak atas kesempatannya.

Sumber Referensi :
Santoso , Anang. dkk. 2022. MKWU4108 Edisi 2 Bahasa Indonesia. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Membaca Sebagai Proses (4-5)

MEMBACA INTENSIF DAN EKTENSIF 6

MEMBACA PUISI PERTEMUAN 7

MID TEST 

Kerjakanlah soal-soal berikut ini dengan baik.

Bacalah artikel berikut dengan menerapkan teknik SQ3R!!!!!!!!!!!

Sisi Positif Parenting Budaya Jepang

Oleh: Buyung Okita 

Parenting menjadi isu yang hangat dewasa ini. Semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk lebih mempelajari bagaimana ilmu-ilmu parenting agar dapat diimplementasikan bagi putra-putrinya, atau sebagai bekal untuk membina rumah tangga di kemudian hari.

Secara sederhana terdapat 4 jenis gaya parenting, yaitu gaya asuh otoriter, berwibawa, permisif, dan terlalu protektif. berikut adalah sedikit penjelasan mengenai keempat gaya asuh tersebut.

Secara sederhana gaya asuh otoriter adalah gaya asuh di mana orangtua memaksakan kehendaknya tanpa begitu memperhatikan atau mempedulikan bagaimana perspektif sang anak.

Gaya asuh orangtua berwibawa adalah gaya asuh di mana orangtua menjadi panutan yang teladan, memberikan batasan yang cermat untuk putra-putrinya, dan memberikan pujian untuk upaya yang telah putra-putrinya lakukan.

Gaya asuh permisif adalah gaya asuh di mana orangtua tidak memberikan batasan kepada anak-anaknya, semisal tidak memberikan garis yang jelas apa yang boleh dilakukan atau tidak. Memercayakan putra-putrinya untuk melakukan apa yang ia inginkan, cenderung tidak mengintervensi kecuali untuk hal yang bersifat sangat serius.

Gaya asuh overprotektif adalah gaya asuh di mana orangtua sangat melindungi putra-putrinya dari segala hal buruk, rasa sakit, pengalaman yang buruk, dan lain-lain. Karena itu banyak membatasi putra-putrinya di berbagai aspek.

Pernahkah Anda melihat di media seperti film atau kartun digambarkan bahwa anak-anak di Jepang merupakan anak yang patuh? Walaupun di balik itu terdapat unsur kompetitif yang muncul karena adanya harapan orangtua agar putra-putrinya dapat lulus masuk ke sekolah atau kampus yang bergengsi.

Tentunya unsur kompetitif di satu sisi merupakan hal yang positif, tetapi karena tingkat kompetitif yang tinggi dari harapan orangtua membuat putra-putri merasa tertekan. Bagaimanakah stereotip mengasuh ala orangtua di Jepang yang dapat kita lihat sebagai hal yang positif?

Baca Juga  SBY Kembali ke Cikeas Usai Empat Hari di Pacitan

1. Hubungan antara orangtua dan anak yang sangat dekat

Ibu dan anak memiliki hubungan yang sangat dekat. Setidaknya sampai usia 5 tahun anak tidur bersama orangtuanya. Ibu juga selalu menemani di manapun anaknya berada.

Tidak jarang dapat dilihat bahwa ibu menggendong anaknya sambil melakukan kegiatan rumah seperti menyapu, memasak, berbelanja, dan lain-lain. Bahkan hampir setiap perempuan yang telah melahirkan dan menjadi ibu rela untuk berhenti bekerja dan fokus untuk mendidik anaknya di rumah.

Pada usia antara 0-5 tahun, anak diperbolehkan melakukan apa saja. Mungkin budaya ini sedikit berbeda dengan negara lain. Yang dimaksud diperbolehkan melakukan apa saja adalah membiarkan anak berksplorasi dengan kegiatan yang ia lakukan.

Namun orangtua tetap menstimulus dengan hal yang positif dan menjadi role model yang baik. Filosofi ini menunjukan, dengan anak dibiarkan aktif menandakan bahwa sang anak tumbuh sehat.

Pada usia 0-5 tahun, anak juga diajak untuk bersosialisasi dengan keluarga dan kerabat sehingga dapat lebih mengenal saudara dan sosial. Orangtua di Jepang juga beranggapan bahwa sebisa mungkin menemani putra-putrinya sehingga anak merasakan kasih sayang orangtuanya.

2. Orang tua adalah cerminan anak

Studi di Amerika dan Jepang pernah dilakukan untuk mengetahui bagaimana orangtua mengasuh anaknya. Orangtua di Amerika cenderung bersifat netral dan menunjukan anak cara untuk membuat suatu piramida, sesudah itu membiarkan anaknya untuk membuat piramida dengan apa yang telah diajarkan atau dengan caranya sendiri.

Sedangkan orangtua Jepang cenderung mentransmisikan apa yang ia lakukan kepada anaknya, sehingga orang tua sepenuhnya menjadi role model bagi anaknya.

Setelah fase usia 5 tahun di mana anak boleh bereksplorasi melakukan sesuatu, lalu usia 5-15 tahun anak mulai diajari untuk melakukan kegiatan seperti membersihkan rumah, belajar untuk disiplin, dan melakukan apa yang dilakukan oleh orangtua.

Fase ini mengajari anak-anak untuk dapat berkontribusi melakukan cara-cara yang telah dilakukan secara turun temurun. Fase ini orangtua memberikan batasan yang jelas mengenai hak dan kewajiban, apa yang boleh dilakukan atau tidak.

Oleh karena itu kegiatan pendidikan moral di sekolah juga mulai diajarkan tidak hanya sebagai mata pelajaran dan diselipkan di mata pelajaran lain, tetapi juga anak diberikan ruang untuk melakukan kegiatan sosial seperti saling melayani, kegiatan makan siang di sekolah, dan kegiatan lain yang juga kerap dilakukan di sekolah-sekolah Indonesia.

Kegiatan sekolah dan rumah yang bersifat rutin, meskipun terkesan monoton merupakan cara Jepang untuk menbuat anak-anak belajar untuk disiplin.

3. Orangtua dan anak adalah setara

Setelah anak berusia 15 tahun, orang tua mulai memberikan ruang untuk anak dapat lebih mandiri dengan mengurangi batasan yang diterapkan pada fase sebelumnya.

Hubungan tidak hanya sebagai orangtua dan anak, tetapi juga sebagai teman dan setara. Anak didukung untuk menjadi pribadi yang mandiri, dapat berpikir dan menentukan pilihan dan lebih bersifat demokratis.

Fase ini untuk mempersiapkan anak melakukan kegiatan keterampilan bagi dirinya sendiri dan keluarga serta belajar bertingkah laku yang baik dan sopan (menurut adat Jepang). Anak diajarkan untuk mulai independen dan dipersiapkan untuk dapat siap menjadi orang dewasa.

Setelah usia 20 tahun anak dianggap resmi menjadi dewasa dengan biasanya diadakan upacara hari kedewasaan yang diselenggarakan di distrik/kota setempat yang diikuti oleh pemuda berusia 20 tahun.

Baca Juga  Menemukan Keindahan dalam Setiap Langkah Perjalanan

4. Memperhatikan tentang perasaan dan emosi

Selain mengajari dan mempersiapkan anak untuk dapat hidup di komunitas sosial masyarakat yang lebih luas, anak juga diberikan semangat untuk dapat memahami dan menghormati perasaanya sendiri.

Orangtua mengajarkan anaknya untuk melakukan hal yang tidak mempermalukannya. Contohnya tidak menegur anaknya atau menasehati anaknya di muka umum ketika melakukan hal yang dirasa kurang pantas.

Orangtua memilih menunggu situasi dan tempat yang lebih privasi untuk menasehatinya. Anak diajarkan untuk dapat memiliki sikap empati dan saling menghormati orang lain.

Orangtua di Jepang tidak menggangap gaya asuh mereka menjadi gaya asuh yang terbaik. Begitu pula dewasa ini nilai budaya barat pun menginsipirasi cara orangtua di Jepang mendidik anaknya. Namun meskipun terjadi pergeseran dan perubahan, gaya asuh orangtua di Jepang yang menyayangi putra-putrinya tidak berubah.

Setelah membaca sedikit stereotip gaya asuh orangtua di Jepang, dapat dipahami bahwa gaya asuhnya merupakan perpaduan antara sedikit gaya permisif, gaya authoritative (berwibawa).

Sumber: https://www.kompasiana.com/buyungokita/%205f22b2a4d541df59d84bebe2/sisi-positif-parenting-budaya-jepang?page=all#section2

Jawablah pertanyaan berikut ini berdasarkan artikel di atas.

  1. Berdasarkan hasil survey (meninjau) Anda, topik/subtopik apa saja yang menurut Anda penting?
  2. Tuliskan daftar pertanyaan (question) berkaitan dengan informasi yang Anda perlukan pada bacaan tersebut.
  3. Berdasarkan hasil membaca (read) Anda, Informasi apa yang Andaperoleh dari bacaan tersebut.
  4. Ceritakan/jelaskan (recite) pengalaman membaca Anda berkaitan dengan bacaan/wacana tersebut.
  5. Berdasarkan langkah akhir dari SQ3R (review), apakah informasi yang Anda perlukan sesuai daftar pertanyaan sudah cukup?
  6. Sebutkan kelebihan dan kelemahan metode SQ3R setelah saudara mengerjakan soal di atas. Berdasarkan pengalaman  membaca gunakan metode SQ3R !

Dikumpulkan via email: rafid.musyffa@gmail.com Tanggal 15/11/2022. sampai pukul 24.00 WIB

Teknik Pengajaran Membaca (9-10)

Tugas Ketiga

Silakan Buat Video membaca Puisi dengan durasi minimal 3 menit.  Saudara Upload di Youtube.

Kumpulkan dalam bentuk link diupload di Whattsapp kelas Membaca

 

Membaca Kritis dan Kreatif (10-11)

Manfaat Membaca Kreatif

Membaca kreatif akan memberikan banyak manfaat sesuai bahan bacaan yang dibaca. Banyak tema bacaan bermanfaat yang dapat dibaca, misalnya bacaan tentang siraman rohani, pemikiran para budayawan, informasi cara merawat kesehatan tubuh, informasi soal cara membuat makanan, atau barang.

Ada juga yang memberikan informasi soal cara memanfaatkan lahan milik sendiri, misalnya membudidayakan tanaman hias, atau tanaman obat. Apabila Anda tertarik untuk memelihara ternak, dari buku pun Anda dapat belajar cara merawat, memilih makanan atau pakan yamg diperlukan, dan sebagainya. Pilihan lain untuk menambah pengetahuan antara lain, cara membuat bangunan dan menata ruangan secara artistik, termasuk cara merenovasi suatu bangunan agar terkesan lebih nyaman dan indah.

Tugas Keempat

Pilih Bacaan yang berupa buku, silakan mengunjungi perpustakaan. Baca  dengan kreatif bacaan tersebut. Review Buku tersebut dan buat catatan.

  • Kata/frasa/kalimat yang mengantarkan pada gagasan pokok
  • Ide pokok atau gagasan sentral dalam setiap bab.
  • Setiap penjelasan penting yang ada pada setiap bab.
  • Sertai pendapat atau asumsi penulis mengenai hal-hal tertentu.
  • Tulis  data atau fakta yang mendukung gagasan.
  • Susun catatan atau gagasan saudara setelah membaca bahan bacaan tersebut dan susun ber bab.

Tulis dalam format Msword, Font times romans 12, dengan margin 3 cm,.

Format sebagai berikut.

  • Nama / NIM
  • Judul buku yang direview /penulis
  • Pendahuluan (Bukan copy paste namun setelah membaca saudara tuliskan kembali yang tersimpan dalam memori saudara
  • Bab 1
  • Bab 2
  • Bab 3
  • dst
  • Simpulan (Bukan copy paste namun didasarkan pada pemahaman saudara tentang buku tersebut.

Membaca Cepat 12