Peringati Hari Menanam Pohon Nasional Sekaligus Launching Watu Mejo Mangrove Park Pacitan
PACITAN, – Tanggal 28 November diperingati sebagai Hari Menanam Pohon Nasional. Dimana masyarakat diminta untuk menanam minimal satu pohon per orang atau yang dikenal dengan One Man One Tree.
Salah satu lokasi penanaman pohon berjenis mangrove dilakukan di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan. Diikuti sebanyak 800 peserta terdiri dari unsur TNI Polri, instansi sekolah, komunitas penggiat kebencanaan dan warga masyarakat. Kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari Launching Watu Mejo Mangrove Park. Dihadiri dan diresmikan langsung oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji dan Sekretaris Utama BNPB, Lilik Kurniawan.
“Kita ini tinggal di daerah rawan bencana, ada banyak sekali potensi seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan sebagainya. Kuncinya adalah kesiapsiagaan. Terkait dengan ancaman banjir bandang di tahun 2017 silam, kita harus bisa melakukan upaya upaya preventif,” terang Lilik dalam sambutannya.
Ia berharap penanaman mangrove sebagai upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus juga daerah tujuan wisata edukasi, sehingga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.
“Kegiatan penanaman pohon kali ini dihadiri oleh BNPB Nasional, Pemprov Jawa Timur yang diwakili oleh BPBD Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Pacitan termasuk Pak Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Pacitan, CEO Rumah Zakat, seluruh relawan bencana yang berada di lingkup Kabupaten Pacitan,” ujar Acik.
Penanaman pohon di kawasan pesisir pantai merupakan kegiatan yang nantinya dapat berdampak baik untuk sekitar.
Seperti yang dikatakan Azal, salah satu bahwa, “tujuan acara pada hari ini, selain memperingati Hari Menanam Pohon Nasional yaitu untuk mengedukasi warga sekitar terkait pengurangan resiko bencana yang mana wilayah Pacitan berada di lempeng Indo-Australia yang bisa sewaktu-waktu terjadi gempa bumi yang dahsyat dan mengakibatkan tsunami.
Jadi, upaya kita selain edukasi pada masyarakat yaitu dengan penanaman pohon yang semoga saja kedepannya bisa memininalisir dampak tsunami.”
Nila Handayani & Desy Safitri
