Sekilas Aspek Demografi Kabupaten Pacitan

Sekilas Aspek Demografi Kabupaten Pacitan
SHARE

Demografi terkait erat dengan isu kependudukan.  Demografi sendiri berasal dari kata Yunani yaitu Demos yang berarti rakyat atau penduduk dan Grafein yang berarti menulis. Demografi dapat pahami sebagai tulisan yang berisi tentang penduduk. Demografi is the scientific study of human populations in primarly with the respect to their size, their structure (compotition) and their development (change) (IUSSP, 1982) Demografi mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumlah, struktur (komposisi)
penduduk dan perkembangannya (perubahannya).

Oleh karena itu pada bagian ini akan dibahas beberapa hal yang terkait dengan terkait penduduk Kabupaten Pacitan.Pacitan merupakan salah satu kabupaten yang termasuk di wilayah Provinsi Jawa Timur. Menyebut Pacitan terbayang berbagai karakter yang khas yang menyertainya.

Berdasar pada buku Pacitan dalam Angka Tahun 2020 yang di terbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan terungkap
bahawa Kabupaten Pacitan mempunyai jumlah penduduk pada akhir tahun 2019 sebanyak 602.095 jiwa tersebar di 12 kecamatan, yakni Kecamatan Arjosari, Bandar, Donorojo, Kebonangung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan. Mayoritas penduduk Kabupaten Pacitan beragama Islam.

Baca Juga  Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Dukung Kegiatan Pengajian Rutin Jum'at

Adapun rincian dari jumlah penduduk segi agama pada tahun 2019 adalah penganut Islam 601.238 orang, Protestan 558 orang, Katolik
berjumlah 292 orang, Hindu 4, dan Budha sebanyak 3 orang. Secara umum Kecamatan Pacitan masih tercatat sebagai kecamatan yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk paling tinggi, yakni 1.011 jiwa/km2 dan Kecamatan Pringkuku sebagai kecamatan yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk paling rendah dengan angka 280 jiwa/km2.

Masih berdasar pada data dari BPS tahun 2020 penduduk Pacitan mengalami pertumbuhan sebesar 0,16 persen. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2019 penduduk lakilaki terhadap penduduk perempuan sebesar 95,40 berarti untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 95-96 penduduk laki-laki. (Sumber: BPS Kab. Pacitan 2020).

Baca Juga  AYAH

Sebagaimana daerah lain di Indonesia pada umumnya, Pacitan juga mempunyai angka natalitas yang cukup tinggi. Gambaran umum piramida penduduk Pacitan menunjukkan struktur penduduk usia produktif di kabupaten Pacitan masih relatif tinggi khususnya Laki-laki.

Dengan tingkat kematian rendah namun tingkat kelahirannya cukup tinggi, maka beban tanggungan pada usia kerja juga semakin besar. Data menunjukkan masih tingginya usia harapan hidup masyarakat Pacitan (Sumber: BPS Kabupaten Pacitan 2017). Dengan demikian Pacitan masih menjanjikan sebagai tempat yang membahagiakan bagi penduduknya.

Akan tetapi karena keterbatasan lapangan kerja yang ada di Pacitan, sebagian warga Pacitan menjadi perantau di berbagai tempat di seluruh Indonesia. Para perantau asal Pacitan bekerja di berbagai bidang baik pemerintahan maupun swasta di tempat tujuan.

Apabila ditelaah sektor pertanian masih menjadi mobil penggerak ekonomi sebagian besar masyarakat Pacitan. Akan tetapi sektor itu tidak dapat menjadi tumpuan sepanjang tahun bagi mereka karena kondisi alam serta berjalannya kegiatan sektor pertanian masih mmepunyai ketergantungan terhadap musim. Pada saat penghujan sebagian besar wilayah Pacitan mempunyai debit air yang melimpah tetapi sebaliknya pada musim kemarau sebagian besar wilayah Pacitan juga mengalami kekeringan.

Baca Juga  Fakultas Ilmu Budaya UNS, Selenggarakan  Lokakarya Publikasi Jurnal Internasional Bidang Humaniora

Hal itu terjadi berulang pada setiap tahunnya sehingga masyarakat Pacitan yang menggantungkan ekonominya dari sektor pertanian mengalami pasang surut dan harus pandai mencari jalan keluarnya agar tetap bertahan hidup. Meskipun pertanian menjadi sektor utama penggerak ekonomi tetapi terdapat ironi.

Di berbagai kecamatan tersebut infrasutruktur yang mendukung pertanian tampak belum layak bahkan yang ada masih memerlukan perbaikan agar berfungsi secara maksimal. Irigasi, bendungan, atau dam masih dalam jumlah terbatas sehingga belum mampu membantu petani saat musim kemarau.

Sumber referensi: Indartato, dkk. (2021). Sosial Budaya Masyarakat Pacitan Sebuah Perkenalan. Nala Karya: Ponorogo

 


SHARE
prabangkara