Pengembangan Seni Kethek Ogleng Melalui Kurikulum Muatan Lokal
Oleh : Nila Handayani (*)
Pembelajaran muatan lokal sebenarnya sudah digelorakan sejak dahulu dalam dunia pendidikan. Akan tetapi jika kita lihat realitanya tentu belum berjalan sebagaimana yang telah diharapkan, bahkan terdapat beberapa sekolah yang belum atau tidak menerapkan muatan lokal. Hal tersebut tentunya patut menjadi perhatian semua pihak khususnya Dinas Pendidikan, pemerintah, masyarakat, guru maupun siswa.
Kegiatan pembelajaran muatan lokal ini adalah program pendidikan yang isi dan medianya berkaitan dengan lingkungan sosial, lingkungan budaya, lingkungan alam dan juga kebutuhan pembangunan suatu daerah yang perlu diajarkan kepada siswa. Pada dasarnya kegiatan muatan lokal ini bertujuan untuk mengajarkan kepada peserta didik agar memiliki wawasan mengenai keadaan lingkungan dan kebudayaan yang berlaku di daerahnya. Kegiatan ini berupa ekstrakurikuler untuk mengembangkan suatu potensi dan kompetensi sesuai dengan ciri khas, potensi, maupun keunggulan daerah.
Untuk menyentuh langsung kearifan lokal, banyak hal yang perlu diangkat dalam proses pembelajaran seperti bahasa daerah, adat istiadat, seni, cerita rakyat, dan sebagainya. Pada kurikulum muatan lokal ini memiliki fungsi salah satunya untuk melestarikan kebudayaan daerah. Dalam hal ini tentunya juga diperlukan adanya kerja sama dan peran antara lembaga-lembaga yang ada di daerah khususnya suatu lembaga yang isinya telah ditetapkan sebagai muatan lokal.
Kabupaten Pacitan adalah wilayah kecil yang terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Pacitan memiliki sejuta wisata atau potensi alam sehingga dijuluki dengan Kota 1001 Goa. Terdapat goa-goa yang indah dan juga pegunungan yang sering ditemukan fosil manusia purba dan alat-alat ourbakala. Selain itu, Pacitan juga memiliki potensi budaya yang tentu dapat dikembangkan dan dilestarikan, salah satunya adalah Seni Tari Kethek Ogleng.
Kurikulum muatan lokal adalah sebuah harapan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah, yaitu Seni Tari Kethek Ogleng melalui jalur pendidikan yang ada di Kabupaten Pacitan. Hal ini adalah salah satu upaya untuk mendidik generasi muda dan generasi penerus yang akan mewarisi dan menjaga kebudayaan asli dari ancaman kepunahan. Kebanggaan kita terhadap kebudayaan dapat dilihat dari sejauh mana kita menghargai kebudayaan tersebut. Menghargai dalam arti melestarikan dan menjadikannya simbol kebanggan dalam kehidupan kita.
Suatu hal yang luar biasa untuk negeri kita tercinta khususnya Kabupaten Pacitan, kabupaten yang terletak di ujung barat daya Jawa Timur ini mempunyai sebuah kesenian yang patut untuk mendunia. Seni Tari Kethek Ogleng, dimana penciptanya adalah asli dari orang Pacitan yaitu Bapak Sutiman yang merupakan warga Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Kethek Ogleng ini pertama kali digagas oleh Bapak Sutiman terhadap hasil interaksinya dengan seekor kera yang sedang bermain-main di antara dahan pohon yang rindang kala itu. Seni Kethek Ogleng ini sangat sederhana, karena memang kesenian ini terlahir dari lingkungan masyarakat biasa.
Meskipun sederhana, namun kesenian ini mampu menghibur banyak penonton dan salah satu generasi penerus telah membuktikan eksistensi Seni Kethek Ogleng dengan ikut serta dalam acara Roadshow Kethek Ogleng yang diadakan setiap hari Minggu di berbagai tempat wisata di Pacitan. Gerakan dalam tari Kethek Ogleng Pacitan murni hasil menirukan atau imitasi dari gerakan kera yang alamiah.
Gerakan ini adalah salah satu gerakan yang membedakan dengan gerakan tari lainnya. Keunikan gerak tari Kethek Ogleng ini terletak pada keaslian gerakan kera yang sedang bermain-main di alam bebas. Gerakan-gerakan tersebut tidak hanya sebatas gerakan, akan tetapi mempunyai makna yang terhubung dengan kehidupan manusia. Selain itu, Seni Kethek Ogleng Pacitan juga mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Perjuangan Kethek Ogleng mulai dari awal berdirinya hingga saat ini tentunya penuh dengan semangat perjuangan disamping adanya berbagai keterbatasan fasilitas yang tidak mendukung. Perjuangan tersebut tentu sangat perlu diwariskan kepada generasi penerus, hal terpenting adalah membangun generasi muda untuk mengenal, mempelajari, mendalami dan memahami Kethek Ogleng. Mempelajari dalam arti bahwa ‘apa dan bagaimana kesenian Kethek Ogleng dilaksanakan’ maupun sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Tentunya para generasi penerus ini tidak lepas dari dunia pendidikan atau bangku sekolah. Sekolah sangat mempunyai porsi besar untuk dapat membangun jiwa dan karakter peserta didik. Di sekolah akan diajarkan banyak hal karena waktunya terjadwal, teratur dan terprogram. Dengan memasukkan kurikulum kesenian Kethek Ogleng menjadi hal yang sebenarnya wajib, wajar dan tidak berlebihan diantara banyaknya pelajaran yang ada. Kurikulum muatan lokal ini memberikan peluang besar untuk membangun kompetensi peserta didik dalam banyak hal dan tentu bisa dijadikan wadah untuk melestarikan kearifan lokal maupun kreatifitas lokal agar selalu dapat berkembang.
Hambatan terbesar kemungkinan adalah pada aplikasi atau penerapannya. Misalnya piranti alat untuk mengiringi atau juga sulit menemukan pelatih yang dekat dengan wilayah sekolahnya. Hal tersebut mungkin masih menjadi problematika dari para pengurus sekolah untuk merealisasikan. Dengan segala keterbatasan tersebut tentu ada jalan keluarnya dan itu semua tergantung tingkat kesadaran baik dari pihak warga sekolah maupun orang tua atau juga peserta didiknya. Dengan berlandaskan semangat yang tinggi dan menikmati seluruh rangkaian prosesnya maka akan tercipta kecintaan akan warisan yang begitu membanggakan.
(*) Generasi Peduli Seni Budaya Lokal
