“Gua Kali Alang” Sebagai Tandon Air Bersih Warga Desa Padi Saat Kekeringan Melanda Sebagian Wilayah Pacitan
Oleh : Iega Wulan Rahayu
Air merupakan sumber daya alam yang sangat vital dan diperlukan untuk menentukan keberlanjutan kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini (Mawardi, 2014). Dalam segala macam kegiatan manusia, air merupakan kebutuhan pokok untuk dapat melangsungkan hidup dan melaksanakan berbagai macam kegiatan, seperti keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, mencuci, keperluan industri, keperluan perdagangan, keperluan pertanian dan peternakan, keperluan pelayaran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, air sangat berfungsi dan berperan bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini (Ambarwati, 2014).
Indonesia adalah salah satu negara terkaya dalam kaitanya dengan sumber daya air, karena menyimpan 6% potensi air dunia. Sumber air di Indonesia yang melimpah ini tercantum dalam laporan badan kerjasama lintas negara. Water Environment Partnership in Asia (WEPA).
Di Indonesia, Produsen utama air bersih adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan kapasitas produksinya saat ini sebesar 153.881 L/detik yang mencakup 19%-20% kebutuhan pokok Indonesia dengan efisiensi produksi 72,97% dan kebocoran sebesar 32,57%. Dikutip dari laman intitut teknologi bandung, (Permana, 2020).
Namun pulau terpadat yang jumlah penduduknya mencapai separuh dari negara ini terancam mengalami krisis air. Kajian resmi pemerintah memprediksi bahwa Jawa akan kehilangan hampir seluruh sumber air bersih pada tahun 2040. Hal ini merupakan salah satu alasan dibalik wacana pemindahan ibu kota, bahwa 150 juta orang di pulau terpadat di Indonesia akan kekurangan air, bahkan hingga sekedar untuk makan dan minum penduduk belum tentu akan tercukupi.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan sejumlah faktor pemicu krisis air diantaranya mulai dari adanya perubahan iklim, dan adanya pertumbuhan penduduk hingga alih fungsi lahan.
Diambil dari data ketersediaan air yang disusun Pusat Litbang Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, satu orang di Jawa bisa mendapat 1.169 m3 per tahunnya. Ketersediaan air yang setara 58 truk tangki air berbobot 20.000 per liter itu dilabeli status “ada tekanan”. Ketersediaan air untuk setiap penduduk jawa diprediksi akan terus menurun hingga mencapai 476 m3 per tahun pada 2040. Angka itu dikategorikan kelangkaan total. Angka itu tercantum dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun Bappenas tahun 2019.

Berkaitan dengan adanya isu krisis air dan perubahan iklim yang akan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu wilayah di Indonesia yakni kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang juga mengalami krisis air sudah menemukan titik terang. Pacitan adalah salah satu kabupaten yang tepatnya terletak di bagian selatan barat daya Jawa Timur. Dari segi daerahnya Pacitan memang istimewa. Kondisi geografisnya terdiri dari bebatuan karst. Bebatuan berongga ini akan dengan cepat menyerap air permukaan ketika hujan. Namun karst identik dengan keberadaan gua yang mudah ditemui. Bahkan beberapa goanya termasuk ke dalam kawasan Geopark Gunung Sewu yang sudah diakui sebagai salah satu UNESCO Global Geopark. Saking banyaknya gua di Pacitan, kota ini dijuluki sebagai Kota 1001 Gua.
Selain mempunyai keindahan, gua di pacitan sebagian besar juga memberikan manfaat bagi warga sekitar. Salah satunya di Desa Padi, Tulakan, Pacitan, Jawa Timur ini. Saat paceklik tiba masyarakat begitu kesulitan mengakses air bersih. Kemarau berkepanjangan bahkan menghambat pasokan PDAM ke desa mereka. Dengan ditemukannya sebuah goa yang berada di pelosok desa tersebut sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Gua tersebut memiliki mata air yang melimpah. Masyarakat setempat menamainya Gua Kali Alang. Mata air di Gua Kali Alang bahkan tak pernah habis. Gua ini menjadi andalan warga dalam bertahan di tengah krisis air bersih.
Dengan kedalaman sekitar 7 meter, gua tersebut memiliki banyak celah. Air yang keluar dari celah-celah tersebut merupakan air yang bersih dan tidak keruh. Hal tersebut sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mata air dari gua Kali Alang tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai hal, seperti minum, masak, mandi, mencuci, keperluan industri, keperluan perdagangan, keperluan pertanian dan peternakan, dan kebutuhan lainnya.
Akses untuk mengambil air bersih dari gua Kali Alang pun terbilang mudah, dikarenakan walaupun berada dipojokan desa, gua tersebut masih berada dilingkungan masyarakat. Sehingga tidak perlu jauh-jauh menyusuri hutan. Masyarakat bisa menyusuri jalan menggunakan kendaraan seperti motor ataupun mobil. Kemudian di parkir disalah satu rumah warga setempat yang berada sekitar 100 meter di depan gua. Lalu, dari rumah salah satu warga tersebut masyarakat bisa berjalan kaki untuk sampai di gua kali Alang. Jalanan yang datar membuat gua Kali Alang cukup mudah untuk ditempuh.
Dengan potensi mata air yang dimiliki serta latar belakang tempatnya yang cukup jauh dari daerah perkotaan, menjadikan gua tersebut dilirik oleh sebuah Perusahaan Perencanaan Konstruksi yakni PT. Daya Cipta Dianrancana. Dengan dikenalnya gua Kali Alang oleh PT Daya Cipta Dianrancana tersebut memunculkan adanya proyek pembangunan sebuah bendungan yang cukup besar sebagai tempat penampungan air. Tampungan air dari gua kali Alang tersebut dialirkan ke berbagai wilayah menggunakan pipa paralon yang besar.
Supley air dari gua Kali Alang menggunakan paralon besar yang dialirkan ke berbagai wilayah tersebut semakin memudahkan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Masyarakat setempat tidak perlu antri jerigen lagi untuk menyuplai air yang dibutuhkan. Kini Masyarakat setempat dapat mengambil air yang disalurkan dari pipa paralon besar tersebut dengan menggunakan slang kecil yang dapat dialirkan secara langsung dari paralon besar ke rumah masing-masing.
Bahkan dengan adanya proyek pembangunan sebuah bendungan sebagai tempat penampungan air bersih dan adanya supley air menggunakan paralon besar, tidak hanya masyarakat setempat saja yang memperoleh manfaatnya. Berbagai wilayah yang jaraknya cukup jauh dengan gua Kali Alang tersebut, seperti wilayah Sidomulyo, Tumpang, dan lain-lain, memperoleh supley air bersih dari gua Kali Alang dengan mudah karena adanya penyaluran air tersebut.
Selain potensi air bersih yang dihasilkan, gua kali Alang tersebut juga memiliki keindahan yang memukau, kedalaman yang cukup panjang, dan juga banyak ikan yang hidup di perairan gua Kali Alang tersebut. Bahkan banyak masyarakat memancing ikan yang hidup diperairan gua Kali Alang ini untuk dimanfaatkan sebagai lauk pauk.
Dengan ditemukannya gua kali Alang ini sangat membawa keberuntungan bagi masyarakat. Krisis air yang terjadi di Desa Padi, Tulakan, Pacitan, Jawa Timur, dapat ditanggulangi. Yakni dengan memanfaatkan, menjaga, dan memaksimalkan sumber air dari gua Kali Alang tersebut. Dengan adanya dukungan dari PT Daya Cipta Dianrancana semakin menambah nilai guna. Kini Masyarakat Desa Padi, Tulakan, Pacitan, Jawa Timur, tidak perlu terlalu khawatir akan adanya krisis air dan perubahan iklim yang terjadi.
Referensi :
Ambarwati. (2014). Manfaat air bagi kehidupan manusia, artikel lingkungan hidup.
Mawardi. (2014). Air dan Masa Depan Kehidupan. Tarjih : Jurnal Tarjih Dan Pengembangan Pemikiran Islam.
