Ramadan Bulan Penuh Berkah
Oleh: Prof. Dr. KH. A. Satori Ismail, MA
PRABANGKARANEWS.COM || Jakarta, Sidang shalat Jumat yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, marilah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala yang tiada henti-hentinya mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian. Shalawat dan salam semoga senantisa dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya, keluarganya dan para pengikutnya.
Kita senantiasa diperintahkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Dalam artian bahwa kita wajib melaksanakan semua perintah Allah subhanahu wata’ala dengan sungguh-sungguh dan harus meninggalkan semua larangan Allah subhanahu wata’ala secara total dikutip dari laman www.istiqlal.or.id.
Sidang shalat Jumat yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan maghfirah, bulan diwajibkan shiyam dan diturunkan Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia. Bulan ibadah dan pembinaan kaum muslimin menuju derajat muttaqiin.
Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan beban orang lain maka Allah subhanahu wata’ala mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan ucapan selamat kepada umat Islam di awal bulan Ramadhan untuk mengingatkan akan keutaman bulan penuh berkah ini. Beliau bersabda:
Artinya: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)
Ma’asyiral muslimin wa zumratal mukminin raimakumullah, bulan Ramadhan adalah bulan di mana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan bagi kita umat Islam adalah bulan yang sangat kondusif untuk beramal shaleh, untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih baik.
Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah subhanahu wata’ala, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah subhanahu wata’ala. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31,
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ… تُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)
Oleh karena itu, di bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah subhanahu wata’ala. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubat dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah (ampunan), rahmat dan karunia Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 52,
وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ
Artinya: Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” (QS. Hud [11]: 52
Tiga amalan untuk menggapai jaminan ampunan di bulan Ramadhan:
1. Orang yang puasa penuh sebulan ramadhan akan mendapat ampunan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Barang siapa melakukan puasa Ramadhan sematamata karena keimanan dan mencari ganjaran, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Artinya: “Shalat lima waktu, ibadah jum’at hingga jum’at berikutnya, ibadah Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi diantara waktu-waktu itu asalkan dosa-dosa besar dihindari.” (HR Muslim)
Puasa adalah perisai. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Artinya : “Puasa adalah perisai (yang melindungi pelakunya dari keburukan)”.
2. Qiyam Ramadhan (Shalat Terawih) selama sebulan
Ibadah yang sangat ditekankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam Ramadhan adalah Qiyamu Ramadhan atau sholat malam atau yang biasa dikenal dengan sholat tarawih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa yang melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘aliahi).
3. Qiyam pada malam al-qadar
Di antara jaminan ampunan pada bulan Ramadhan adalah qiyam atau menghidupkan malam ramadhan dengan berbagai macam ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya : “Barangsiapa yang qiyam pada malam al-qadr dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang masa lampau.”
Bulan Ramadhan adalah bulan di mana kebaikan pahalanya dilipatgandakan, oleh karena itu jangan membiarkan waktu siasia tanpa aktifitas yang berarti. Di antara aktifitas yang sangat penting dan berbobot tinggi, namun ringan dilakukan oleh umat Islam adalah memperbanyak dzikir, doa dan istighfar. Bahkan doa orang-orang yang berpuasa sangat mustajab, maka marilah kita perbanyak berdoa untuk kebaikan diri kita, keluargaa kita, umat Islam dan semua bangsa Indonesia, khususnya yang sedang ditimpa kesulitan dan musibah.
Doa dan istighfar pada saat mustajab adalah:
• Saat berbuka puasa
• Sepertiga malam terakhir, yaitu ketika Allah SWT. turun ke langit dunia dan berkata: “Siapa yang bertaubat? Siapa yang meminta? Siapa yang memanggil, sampai waktu shubuh” (HR Muslim)
• Memperbanyak istighfar pada waktu sahur. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 18,
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Artinya: “dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariat [51]: 18)
• Mencari waktu mustajab pada hari Jum’at, yaitu disaat-saat terakhir pada sore hari Jum’at.
• Duduk untuk dzikir, do’a dan istighfaar di masjid, yaitu setelah menunaikan shalat Shubuh sampai terbit matahari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, maka seakanakan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna” (HR At-Tirmidzi). (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
