PRABANGKARANEWS.COM || JAKARTA – Webinar yang diselenggarakan oleh Political and Publik Policy Studies (P3S) dengan tema yang menarik dengan judul “Menelisik Potensi Pemimpin Muda Milenial Tampil di Pilpres 2024”, yang dilaksanakan dengan menggunakan Zoom Meeting dengan moderator Bang Rikardo Marbun, dengan narasumber yang Jerry Masie, Ph.D Direktur P3S, dan Dr. Emrus Sihombing pakar Komunikasi Politik, yang dilaksanakan mulai pukul 14.00 WIB yang berakhir 16.00 WIB, hari Rabu (25/5/2020).
Dua narasumber Jerry Masie, Ph.D dan Dr.Emrus Sihombing menyoroti politik elektoral yang ada di Indonesia, seorang pemimpin hanya berdasarkan popularitas dan elektabilitas saja.
“Popularitas lebih banyak berhubungan dengan dikenalnya seseorang, baik dalam arti positif, ataupun negatif. Sementara elektabilitas berarti kesediaan orang memilihnya untuk jabatan tertentu. Oleh sebab itu dalam konteks politik, elektabilitas dapat diartikan sebagai tingkat ketertarikan masyarakat umum terhadap figur politik, partai, atau lembaga politik. Hal ini juga meliputi kemungkinan masyarakat untuk memilih partai politik tersebut maupun kandidat yang maju dalam pesta demokrasi,” tegas Jerry Masie, Ph.D.
“Oleh sebab itu para kandidat akan berlomba-lomba mempromosikan diri agar menjadi pemimpin yang populer dikenal oleh masyarakat luas. Untuk mengenalkan kepada khalayak pemilih juga memerlukan media yang membutuhkan biaya. Jika di USA jika ada kandidat potensial di suatu negara bagian maka ada penggalangan dana publik yang kredibiltasnya bisa dipertangungjawabkan untuk membiayai kader yang potensial namun tidak mempunyai dana untuk memperkenalkan diri kepada publik,” jelas Jerry.
“Hal tersebut seharusnya bisa untuk dilakukan di Indonesia dengan membentuk lembaga keuangan publik untuk menghimpun dana publik untuk membiayai kandidat yang mempunyai kualitas yang baik,” jawab Jerry.
Jerry Massie melihat potensi pemimpin milenial ada dua kandidat yang mempunyai peluang untuk maju sebagai calon presiden yaitu Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono yang mempunyai partai pengusung yang siap untuk mengusungnya maju meramaikan bursa Capres 2024. Berbeda dengan Erik Thohor, Sandiaga Uno yang bukan ketua partai politik. Padahal untuk pencalonan memelrlukan kendaraan partai politik.
“Sedangkan Capres potensial lainnya sangat tergantung pada gabungan partai politik apakah mau mengusung atau tidak. Sekarang ini sudah mulai diformulasikan tingkat popularitas dan elektabilitas generasi milenial yang mempunyai potensi untuk dipasangkan. Untuk melihat potensi untuk dicalonkan,” jawab Jerry.
“Berdasarkan pengalaman tahun lalu sering pada akhir-akhir tahapan pencalonan ada pasangan kejutan yang sebelumnya belum diperkirakan atau belum pernah diuji di publik,” tandas Jerry.
Lebih jauh Jerry Massie, jika kita melihat perkembangan politik dalam kaitannya dengan pilihan baik kepala daerah, legislatif, pilihan presiden besarnya biaya pencalonan sangat tinggi yang harus dibayarkan oleh kandidat. Oleh sebab itu banyak sekali pemimpin yang berkualitas yang tidak bisa berkompetisi disebabkan tidak mempunyai modal yang cukup.
Dr. Emrus Sihombing pakar komunikasi dalam webinar menggaris bawahi bahwa politik popularitas dan elektabilitas dengan jalan pembingkaian terhadap kandidat yang dilakukan oleh media online, media sosial, media elektronik yang masih masif. Hal ini dilakukan dengan pilihan kategorisasi dengan menonjolkan sisi positif kandidat dan menghilangkan sisi negatif calon, untuk membangun opini citra yang positif di mata khalayak pemilih. Tujuannya hanya satu meningkatkan popularitas dan elektabilitas dari kandidat yang dibingkai ataupun diframing.
“Selain itu juga menyoroti kandidat yang layak menjadi pemimpin muda milenial Indonesia yang mempunyai visi masa depan, tahu aturan, tidak tergiur dengan rayuan uang, punya kemampuan untuk berkolaborasi, dedikasi, loyalitas, dan komitmen untuk membangun masa depan Indonesia. Ibaratkan seorang pemimpin seperti burung Rajawali dengan kuatnya cengkeraman dan kemampuan sayapnya untuk terbang dengan membawa misi dan visi masa depan Indonesia, “tutup Jerry Masie, Ph.D.
Penulis: A Hendriyanto