Teknologi Pengerasan Jalan, Gunakan Teknologi Daur Ulang Jalan Aspal
PRABANGKARANEWS.COM || Karet dikenal karena kualitas elastisnya. Hampir semua produk dan peralatan industri sampai rumah tangga menggunakan komoditi ini. Ada dua tipe karet yang dikenal luas, karet alam dan karet sintetis. Karet alam dibuat dari getah (lateks) dari pohon karet, sementara tipe sintetis dibuat dari minyak mentah.
Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Merujuk pada data statistik 2017, produksi karet alam Indonesia sekitar 3,6 juta ton dengan perkebunan karet terluas di dunia yang mancapai 3,64 juta hektare. Sekitar 85% produksi yang diekspor masih berupa karet mentah, selebihnya untuk konsumsi dalam negeri.
Rendahnya permintaan ekspor karet mentah menyebabkan kelebihan suplai dalam negeri sehingga harga karet turun drastis. Untuk menstabilkan harga karet tersebut, salah satu upayanya adalah meningkatkan konsumsi domestik.
Pemanfaatan karet itu diterapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang dan Kementerian Perindustrian dalam bidang infrastruktur. Salah satunya sebagai bahan tambah untuk aspal atau dikenal aspal karet.
Upaya tersebut didukung Presiden Joko Widodo yang menginstruksikan agar penggunaan aspal campur karet di seluruh jalan nasional di Indonesia. “Saya perintahkan seluruh (jalan) kabupaten dan provinsi di Indonesia pakai aspal karet. Sudah dicoba di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Hasilnya bagus.”
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono merespon instruksi itu dengan memperluas penggunaan aspal karet dalam penanganan jalan nasional. Tahun ini rencananya ada 93,66 kilometer jalan nasional menggunakan aspal karet sebanyak 2.542 ton. Namun, asumsi penggunaan karet hanya 7% terhadap aspal sehingga jumlah karet yang terserap sekitar 177,9 ton.
Pencampuran karet alam dan aspal untuk perkerasan jalan dinilai memiliki keunggulan. Aspal karet memiliki tingkat perkerasan lebih baik. “Tidak mudah meninggalkan jejak roda pada saat aspal basah dan daya tahan lebih tinggi dibanding aspal biasa,” kata Menteri Basuki dikutip dari majalah kiprah.pu.go.id Jum’at (29/7/2022).
Sumber: kiprah.pu.go.id
