Prof. KRT. Sahid Hadinagara “Pahlawan dalam Rahim Jawa”

Prof. KRT. Sahid Hadinagara “Pahlawan  dalam Rahim Jawa”
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || UNS – Grup Riset Filologi Melayu Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan konferensi internasional. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Cloud Meeting pada Kamis (29/9/2022).

Prof. KRT. SAHID HADINAGARA,  dalam Seminar International Grup Riset Filologi Melayu Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya  UNS Surakarta mengambil materi Pahlawan dalam Rahim Jawa.

Prof Sahid menjelaskan bahwa, seorang pahlawan lahir dari “Rahim Budaya KUAT yang melatarbelakanginya. Kepahlawanan RA. Kartini lahir dari kungkungan budaya priyayi yang kuat. Derita, tekanan, tantangan, dan cobaan perit dari tradisi Jawa yang mengungkung, justru membuatnya kuat.

“Selain itu juga Hj. Rangkayo Rasuna Said, lahir di tengah kehangatan budaya Maninjau yang KUAT di Sumatra Barat. Kisah yang menceritakan jiwa kepahlawanannya dimulai sejak Memulai hijrah ke dalam kehdupan pesantren di Padang Panjang. Dalam kepungan Tekanan dan rintangan budaya kuat yang agamis, Rasuna Said justru menunjukkan pemikiran kritis dan berani,” jelas Sahid.

“Diponegoro, pangeran dari Mataram Islam, memutuskan keluar dari kultur Besar budaya Jawa dan menyulut peperangan melawan kezoliman Kompeni Belanda. Hal serupa terjadi pada diri Ki Ageng Surya Mataram, seorang filsuf besar yang memilih untuk hidup dalam Kandungan Semesta alam Jawa.  Bukan dalam Kungkungan Budaya yang menjerumuskan,” jelas Prof Sahid.

Baca Juga  Dinilai Berhasil Wujudkan Jatim Bangkit, Kapolda Jatim Diberi Penghargaan Lencana Jer Basuki Mawa Beya

“Kata Self (istilah untuk menandai jati diri Pahlawan), adalah kesatuan dan titik koordinat dari empat unsur utama kehidupan, yaitu: Tuhan YME sebagai sumber dari segala sumber pencipta kehidupan, yang secara kodratiah memiliki kekuatan hidup (jasmani) dan daya hidup (rohani), an sekaligus menjadi bagian dari lingkungan dan semesta raya. Hubungan antarbagian tidak hanya fungsional, melainkan eksistensial,” jelas Prof Sahid.

“Self dalam Rahim Jawa dianugerahi rasa seni dan keindahan serta kemampuan menciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjalani kehidupannya dan melaksanakan tugasnya untuk memayu hayuning bawana,” ujar Prof. KRT. SAHID HADINAGARA.

Prof. KRT. SAHID HADINAGARA  menjelaskan Self dalam Rahim Jawa adalah SOSOK intensional terpilih yang terbuka memiliki pemikiran, tekat, keinginan, semangat, dan mampu menyerap kekuatan 4 unsur secara laras. Sosok yang mampu menterjemahkan isyarat, symbol, lambang, verbal, matafisik, dan bahkan qolbu sebagai jalan menuju apa yang diinginkan secara ideal.

Baca Juga  Pembelajaran Berbasis Modul Filsafat Bahasa di STKIP PGRI Pacitan

Kegiatan yang mengusung tema ‘Pahlawan Nusantara dari Berbagai Perspektif’ Prof. Dr. Sahid Teguh Widodo dari UNS dalam konferensi International mengatakan  kata kunci Pahlawan adalah: perjuangan, pengorbanan, dan Integritas moral.

Mari, kita melihat bersama “Latar” budaya para Pahlawan Nusantara, lahir dari satu situasi keras (lahir dan batin) yang menempanya. Pahlawan adalah “orang besar” yang memiliki mimpi besar; lahir dari peristiwa Budaya yang besar. Dalam Dunia pewayangan juga dikisahkan tentang “Kawah Candradimuka” (Sekolah Bagi Tokoh-Tokoh Besar).

“Tanah  Jawa merupakan pusat sejarah elite, selama berabad-abad dibentuk dan membentuk dirinya sendiri menjadi sifat karakteristik dasar.  Oleh sebab itu  muncullah ajaran hidup dan kehidupan; ilmu dan ngelmu kasamurnan, yaitu: sangkan paraning dumadi (menuju kesempurnaan);  manunggaling kawula lan gusti (menyatu dengan berbagai sifat memayu hayuning bawana (Kosmologi Jawa); daya-dinayan;  mad-sinama dan tenggang rasa,” jelas Prof Sahid.

Prof Sahid dalam paparannya menjelaskan politik Ideal menurut filosofi Jawa sebagai berikut;

  • Nagara mawa tata, desa mawa cara “Negara memiliki hukum, desa memiliki aturan’
  • Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati  ‘Rasionalitas, dan kontekstual, paripurna’
  • Dikena iwake, ora buthek banyune ‘tercapai keinginannya, tanpa merusak suasana
Baca Juga  Kemensos Siapkan 1 Juta Bibit Mangrove Untuk Antisipasi 'Megathrust'

Sedangkan ekonomi ideal menurut Prof Sahid;

  • Tuna Sathak Bathi Sanak, ‘merugi sejumlah uang, tetapi beruntung mendapat saudara.
  • Sithik Edhang, Berbagi, Adil, jangan mau menang sendiri.
  • Rewang,  Sambatan.
  • Ngalong (nyumbang).

Sedangkan kondisi sosial yang ideal sebagai berikut;

  • Karyenak tyasing sasama;  luwih becik pager mangkok, tinimbang pager tembok.
  • Ajining dhiri gumantung ing lathi (ilat, ulat, glagat, kemat).
  •  Ngono ya Ngono ning Aja Ngono.
  • Raja kaya, pitik iwen, kebo sapi, wanci enjing aglar ing pangonan, suruping surya bali marang kandhange dhewe-dhewe datan sarana kinancingan.
  • Non-Konfrontatif (ajur-ajer, lumrah, manggon (-ake), mungguh).

Pahlawan yang lahir dari Tanah Jawa umumnya mendalami filosofi baik dalam hal politik, ekonomi dan sosial budaya tersebut.  Guna mewujudkan cita-cita.  (*)


SHARE