Bambu Menjadi Pilihan Kontruksi Pondasi Ramah Lingkungan

Bambu Menjadi Pilihan  Kontruksi Pondasi Ramah Lingkungan
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || Maka dari itu diperlukan material bangunan lain yang lebih mudah ditemukan dimana-mana, berkelanjutan, dan merupakan sumber daya alam yang melimpah. Sehingga dipakailah material alam lain yaitu bambu yang merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang memiliki rongga dan beruas-ruas pada batangnya.

Bambu sendiri juga sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia dari jaman penjajahan dan bahkan sebelumnya. Bambu banyak digunakan serta dimanfaatkan dengan berbagai cara dari dijadikan sebagai senjata, alat kesenian seperti angklung dan suling, bahan makanan, sampai dijadikan sebagai material bangunan untuk pondasi konstruksi.

Sudah banyak juga rumah-rumah khususnya di pedesaan yang menggunakan bambu sebagai pondasi untuk membangun rumah mereka. Penggunaan bambu sebagai pondasi konstruksi rumah menjadi pilihan yang baik karena mampu menghemat uang untuk konstruksi, memiliki kuat tarik yang bisa disejajarkan dengan baja, dan ramah lingkungan.

Menghemat biaya konstruksi

Bambu mulai menjadi salah satu material yang dilirik oleh dunia arsitektur sebagai alternatif sebagai material utama dalam konstruksi bangunan. Material bambu mudah ditemukan karena proses panen yang tidak membutuhkan waktu yang lama. Hal ini disebabkan karena bambu tergolong rerumputan dan tidak seperti kayu yang harus menunggu puluhan tahun baru dapat dipanen.

Oleh karena itu, ketersediaan material bambu yang mudah didapat dan harganya lebih terjangkau dari material baja membuat bambu menjadi sebuah pilihan bagi konstruksi bangunan. Selain itu, pembangunan saat ini mengarah kepada penggunaan teknologi rumah tahan gempa.

Baca Juga  Danrem 061/Sk Dukung Sepenuhnya Rapimnas Relawan Siaga Tahun 2021

Tulisan khusus tentang Rumbutampa (rumah bambu tahan gempa) , masih sangat sedikit, karena arsitek dan ahli bambu belum tentu paham tentang gempa. Sebaliknya, ahli gempa belum tentu paham tentang sifat bambu dan desain rumah bambu. Rumah bambu yang artistik telah banyak dibangun, namun umumnya hanya menonjolkan sisi keindahan saja, belum tentu tahan terhadap goncangan gempa (Tineu Indrianeu, 2017, hlm 221).

Mampu menggantikan baja

Dalam penggunaan material konstruksi bangunan, baja dipilih sebagai salah satu cara terbaik. Namun perlu digaris bawahi bahwa baja terbuat secara tidak alami. Sejatinya baja terbuat dari bijih besi yang tergolong sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Namun permintaan baja terus menerus meningkat sehingga menyebabkan harga baja yang semakin lama semakin tinggi. Disisi lain tersedia alternatif pengganti baja berupa bambu.

Dibuktikan dalam suatu penelitian bahwa daya tarik yang dihasilkan oleh bambu cukup tinggi dan hampir sama dengan dua kali tarikan baja. Bambu memiliki kekuatan tarik yang cukup tinggi, antara 100-400 Mpa, hampir sama dengan kekuatan tarik tulangan baja setara dengan ½ hingga ¼ dari tegangan ultimate tulangan baja menunjukkan hasil yang sama dan kekuatan tarik bambu bisa mencapai 1.280 kg / cm2 (Surya Sefgan, Farlin Rosyad, 2019, hlm 29).

Ramah lingkungan

Secara tradisional penggunaan bambu sebagai bahan struktur bangunan telah dilakukan sejak lampau karena kemudahan dalam mendapatkan serta biaya yang dikeluarkan cukup terjangkau. Bambu merupakan tanaman berumpun yang hidup di daerah tropis dan subtropis dan termasuk dalam famili gramineae (rumput-rumputan) dan terdapat hampir di seluruh dunia kecuali Eropa. Jumlah yang ada di daerah Asia Tenggara dan Asia Selatan kira-kira 80% dari keseluruhan yang ada di dunia.

Baca Juga  Ajang Motocross World Championship 2022 Sumbawa, NTB Berjalan Sukses; Wakil Indonesia Tembus 10 Besar Kelas MX2

Bambu merupakan hasil dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable), murah, mudah ditanam, pertumbuhan cepat, dapat mereduksi efek pemanasan global (global warming) serta memiliki kuat tarik sangat tinggi yang dapat dipersaingkan dengan baja tulangan maka bambu dipilih sebagai pengganti tulangan alternatif baja (Felix Pratama Y, Inggar Septhia Irawati, 2020, hlm xiv).

Bambu menghasilkan oksigen 30% lebih dari pohon. Hal ini membantu mengurangi karbon dioksida gas yang menyebabkan pemanasan global. Rumpun bambu dapat menyerap karbon dioksida hingga 12 ton per hektar, yang membuat bambu menjadi pengisi ulang udara segar yang efisien. Oleh karena itu, penggunaan bambu sangat efisien dalam menyerap karbon dioksida dan berkontribusi terhadap pengurangan efek rumah kaca.

Penggunaan bambu sebagai alternatif konstruksi pengganti baja merupakan salah satu terobosan yang mumpuni namun belum diterapkan pada banyak jenis konstruksi. Terdapat banyak keunggulan dari pemakaian bambu sebagai pondasi konstruksi, salah satunya adalah harganya yang lebih murah jika dibandingkan dengan baja.

Selain itu, penggunaan bambu juga ikut menambah jenis bangunan tahan gempa karena bambu dapat menahan erosi. Dengan harga yang jauh lebih murah dari baja, daya tarik yang dihasilkan oleh bambu justru setara dan bahkan lebih. Bambu merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan memiliki jangka waktu pertumbuhan yang relatif cepat.

Baca Juga  Jadi Orang Pertama Penerima Vaksin Covid-19 di Kalbar, Pangdam XII/TPR : Masyarakat Tidak Perlu Takut

Bambu juga berfungsi menyerap karbondioksida sehingga mereduksi efek dari penggunaan rumah kaca. Oleh sebab itu, dari keunggulan dan manfaat yang diberikan oleh bambu sebagai alternatif pondasi konstruksi, masyarakat Indonesia perlu menggunakan bambu sebagai pondasi pada bangunannya dan mengurangi penggunaan baja sehingga dapat meminimalisir penggunaan bijih besi.

Daftar Pustaka :

Indrianeu, Tineu. (Desember, 2017). Hubungan Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Konstruksi Rumah Tahan Gempa dengan Perilaku Masyarakat dalam Menjaga Pelestarian Lingkungan. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 26(2), 219-230.

Melkior Jonathan Suwandi. (2022, 23 Juni). Bambu Menjadi Solusi untuk Pondasi Konstruksi. https://kumparan.com/melkior-jonathan-suwandi/bambu-menjadi-solusi-untuk-pondasi-konstruksi-1yIpaig9Anl/full

Sefgan, Surya. Rosyad, Farlin. (Mei, 2019). Variasi rajutan bambu petung sebagai pengganti tulangan baja dari kuat lentur fs 4,7 Mpa. Jurnal Forum Mekanika, Vol.8(1), 29-35.

 

Y, Felix Pratama. Irawati, Inggar Septhia. 2020. Pengaruh Bentuk Takikan Pada Kuat Lekat Bambu Petung dengan Beton. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

 

Ft.unsoed.ac.id. (2016, 19 Oktober). Bambu Tidak Kalah Kuat Dari Baja Sebagai Material Tulangan Untuk Rumah Sederhana. Diakses pada 18 Juni 2022, dari http://ft.unsoed.ac.id/bambu-tidak-kalah-kuat-dari-baja-sebagai-material-tulangan-untuk-rumah-sederhana-

 

Kompas.com. (2009, 5 November). Mau Tahan Gempa? Pakai Struktur Bambu!. Diakses pada 18 Juni 2022, dari https://tekno.kompas.com/read/2009/10/05/08102563/~Properti~Konstruksi.

 

 


SHARE