Jerry Massie, Boro-boro ERP, ETLE Saja tak Jelas Kebijakannya
Oleh: Jerry Massie (Direktur P3S)
Kalau ERP pantas diterapkan di 5 negara makmur dan maju. Tapi kalau diterapkan Indonesia barangkali belum bisa masih butuh waktu.
Pasalnya, kita masih negara sedang berkembang dan bukan negara maju tapi masih negara mundur.
Kalau ERP diterapkan di Singapura, Swedia, Jerman, Inggris yg terapkan sangat masuk akal.
Di Swedia kebijalan ini bisa dilakukan lantaran Pendapatan Bulanan Swedia dilaporkan sebesar 4,212 USD pada 2022-11. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu 4,050 USD untuk 2022-10.
Data Pendapatan Bulanan Swedia diperbarui bulanan, dengan rata-rata 4,295 USD dari 1996-01 sampai 2022-11, dengan 323 observasi.
Nah, kalau Indonesia pendapatan kita di bawah standar. UMP saja di atas Rp 3 juta.
Sedangkan di negara seperti Amerika Serikat income statement mereka pertahun $60-80 Dollar jauh di atas kita.
Yang membuat saya heran, program ETLE atau tilang elektronik mati suri tak jelas seperti apa aplikasinya di lapangan?
Padahal, anggaran negara cukup besar dalam pilot project ini.
Sebetulnya kalau diuji coba dulu dan diterapkan dulu di 3 kota besar di Indonesia Jakarta, Surabaya dan Medan atau Makasar. Barangkali masih bisa.
Tapi ini sudah dipasang dipuluhan kota di Indonesia tapi hasilnya kembali ke tilang manual.
Ini menurut aaya, hanya buang-buang anggaran saja. Kerap membuat kebijakan di Indonesia tanpa pikir panjang dan kajian yang komprehensif terlebih dulu langsung tancap gas.
Tanpa memikirkan manfaat, dampak, sampai keuntungannyan atau saya sering sebut kebijakan tiba saat tiba akal.
Padahal, 1 ETLE saja harganya senilai Rp3,1 miliar. Di DKI ada 70 ETLE maka pembuatannya menelan dana Rp75 miliar.
Nah kalau di seluruh Indonesia berapa miliar saja anggaran yang digelontorkan berbanding dengan hasil yang didapat tak seusai.
