Makna Gurindam 12 Pasal 4 Karya Ali Haji
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Jawi: راج علي حاج بن راج حاج احمد) atau juga dikenal dengan nama pena beliau adalah Raja Ali Haji (lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1808 – meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga (masa kini bagian dari Provinsi Kepulauan Riau), ca. 1873) adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.
Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.
Gurindam pasal yang keempat
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Makna dan arti:
Hati itu kerajaan di dalam tubuh.
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh.
Artinya : Jagalah hati dari perbuatan yang dilarang oleh agama.
Apabila dengki sudah bertanah.
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Artinya : Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir.
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Artinya : Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya.
Pekerjaan marah jangan dibela.
Nanti hilang akal di kepala.
Artinya : Amarah adalah perbuatan sia-sia, jaga lah amarah kita.
Jika sedikitpun berbuat bohong.
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Artinya : Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain.
Tanda orang yang amat celaka.
Aib dirinya tiada ia sangka.
Artinya : Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain.
Bakhil jangan diberi singgah.
Itulah perompak yang amat gagah.
Artinya : Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah
Barang siapa yang sudah besar.
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Artinya : Jagalah setiap perbuatan kita
Barang siapa perkataan kotor.
Mulutnya itu umpama ketor.
Artinya : Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.
Di manakah salah diri.
Jika tidak orang lain yang berperi.
Artinya : Jika kita berbuat kesalahan kita harus minta maaf.
Pekerjaan takbur jangan direpih.
Sebelum mati didapat juga sepih.
Artinya : Jangan mengambil pekerjaan yang haram.
Sumber: Wikepedia.org
