Cindelaras: Misteri Telaga Mata Air CinDelaras di Pacitan
Oleh: Amat Taufan
Di tanah Pacitan yang kaya akan cerita rakyat, terdapat sebuah kisah misterius yang telah bertahan selama berabad-abad. Kisah ini berkisah tentang Cindelaras, seorang pangeran dari kerajaan Majapahit yang berani memulai petualangan di wilayah perbatasan dengan Tanah Pasundan. Namun, apa yang membuatnya begitu istimewa adalah perjalanan hidupnya yang penuh misteri di tengah hutan belantara, hingga ia dikenal sebagai Sang Mahraja Hutan, atau lebih dikenal sebagai “Cindelaras.”
Pada abad ke-13 M, Raja Panji mendapat perintah dari ayahandanya, Prabu Briwijaya, untuk mendirikan kerajaan di wilayah perbatasan. Bersama sebagian pengawalnya, ia menjelajahi hutan belantara yang penuh rintangan. Perjalanan mereka membawa mereka dari Mojokerto hingga ke tepian Gunung Lawu, Slogo Himo, Gunung Megalamat (Nawangan/Pacitan), Gunung Manukan (Tremas/Pacitan), Tlogo Bolosingo (Pacitan), Taman Asri (Pringkuku), dan akhirnya ke lokasi yang sekarang dikenal sebagai Telaga Mata Air CinDelaras.
Kisah ini mencapai puncak ketika Raja Panji alias Cindelaras bertemu dengan seorang wanita tua janda dari dusun Dadapan, yang terkenal dengan julukan Rondo Dadapan. Rondo Dadapan memberikan pertolongan kepada Sang Pangeran yang sedang dalam kesulitan. Untuk menjaga rahasianya, Cindelaras mengganti namanya dan diangkat sebagai anak oleh Rondo Dadapan.
Di bawah bimbingan Sang Ibu Rondo Dadapan, Cindelaras bermimpi untuk mendirikan sebuah kerajaan di wilayah Selatan Jawa. Ia melakukan tapa di lokasi Telaga Mata Air CinDelaras, dan dari situlah petunjuk-petunjuk penting dalam perjalanan hidupnya muncul. Akhirnya, Cindelaras berhasil mendirikan Kerajaan Wiranti/Wirati di Kalak/Donorojo/Pacitan dengan gelar Sultan Wiranti, yang juga dikenal sebagai Raja Panji atau Panembahan Kalak.
Cindelaras mengisahkan kisah ini kepada rakyatnya dengan cara yang kreatif. Ia menyebut dirinya sebagai “Sang Mahraja Hutan” dan kerajaannya sebagai “Cindelaras” atau “Ayam Alas/Hutan.” Meskipun lokasi Telaga Mata Air CinDelaras sekarang sudah jauh dari laut, beberapa situs bersejarah seperti citus siput/keong laut masih dapat ditemukan di sekitarnya.
Telaga ini tetap menjadi tempat yang sakral dan dihormati oleh masyarakat setempat. Sumber air yang berasal dari Telaga Mata Air CinDelaras masih digunakan oleh warga setempat, terutama saat musim kemarau yang sulit mencari air bersih. Kisah ini adalah bagian dari warisan budaya yang kaya di Pacitan, mengingatkan kita akan keajaiban sejarah dan kebijaksanaan yang melintasi waktu. (*)
