Dinamika Konsumsi dan Budaya Produktif dalam Konteks Pendidikan
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto
Menurut Baudrillard, konsumsi bukan hanya tentang dorongan untuk mengakuisisi banyak barang, memenuhi keinginan pribadi, atau menciptakan kekayaan objek semata. Sebaliknya, konsumsi merupakan bagian dari suatu tatanan yang melibatkan sistem kode tanda yang memanipulasi objek dan tanda. Konsumsi adalah suatu struktur eksternal yang mempengaruhi individu secara tidak disadari (Baudrillard, J, 2018: xxxiv).
Sebagai contoh, selama masa pembelajaran daring yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, banyak siswa merasakan tekanan ekonomi yang di luar kemampuan keluarga menengah ke bawah. Mereka terpaksa membeli pulsa dan perangkat Android meskipun sebelumnya tidak pernah direncanakan. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju konsumerisme.
Sementara itu, budaya produktif adalah tentang kemampuan individu untuk menciptakan barang atau jasa baru, sering kali dengan bantuan jaringan pemasaran yang akan menarik konsumen, meskipun konsumen tersebut mungkin sudah memiliki barang serupa. Untuk mempromosikan produknya, individu atau perusahaan akan menggunakan iklan media untuk mempengaruhi konsumen agar membeli produk mereka yang dianggap lebih berkualitas. Hubungan antara budaya konsumtif dan budaya produktif sangat penting dalam konteks perdagangan global, yang memungkinkan pemodal untuk mengendalikan apa yang dikonsumsi oleh masyarakat.
Namun, hal ini juga berdampak pada kapitalisme. Pertumbuhan kapitalisme seringkali menghasilkan kenaikan modal bagi para pemodal, sementara kemiskinan juga bertambah. Oleh karena itu, konflik antara kapitalisme dan sosialisme muncul, dengan sosialis memperjuangkan kepentingan rakyat.
Untuk mendorong budaya produktif di kalangan siswa, penting untuk memberikan contoh yang baik oleh guru, kepala sekolah, dan lingkungan sekolah. Lingkungan ini memainkan peran penting dalam membentuk budaya produktif siswa, terutama dalam lingkungan di mana siswa lebih suka dengan pendekatan praktis dan langsung. Informasi yang jelas dan praktis harus diberikan kepada siswa, dan contoh yang diberikan oleh pendidik harus diikuti oleh tindakan nyata.
Selain itu, jika lingkungan sekolah tidak mendukung budaya produktif, maka sulit bagi siswa untuk menjadi produktif. Kesadaran individu tentang produktivitas mereka sendiri sangat penting. Budaya produktif tidak dapat dipaksakan, melainkan harus muncul dari kesadaran individu.
Terlalu banyak teori teoretis yang rumit mungkin bukan solusi yang efektif. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung budaya produktif dan merancang sistem yang sesuai dengan lingkungan tersebut untuk meningkatkan produktivitas siswa. Misalnya, di lingkungan pesisir pantai, siswa mungkin lebih condong menjadi nelayan ketika dewasa karena pengaruh lingkungan mereka. Oleh karena itu, lingkungan sekolah dan sistem pendidikan harus sesuai dengan konteks tersebut.
