Buku “Sekar Macapat” dalam Babad Tlatah Pacitan dan Hubungannya dengan Kerajaan Yogyakarta
PRABANGKARANEWS || PACITAN – Dengan menyebut nama Allah, penulis memulai dengan mengucapkan salam literasi sejarah kepada Pacitan, kota yang dipenuhi misteri. Dalam citra Babad Tlatah Pacitan, diperkirakan pada abad ke-19 M, seorang pembesar dari Keraton Yogyakarta, R. Ngabehi Prawiro Winoto Pengsiunan Ing Ngawing, menuliskan sejarah Pacitan.
Di dalam buku tersebut, terdapat catatan mengenai asal-usul nama Kabupaten Pacitan, mulai dari kedatangan para ulama Wali Songo hingga kisah Pangeran Mangku Bumi/Sri Sultan HB I sebelum mendirikan Kerajaan Yogyakarta pada abad ke-17 M.
Naskah tersebut tersimpan dengan baik di Museum Kota Yogyakarta, menunjukkan panjangnya sejarah dan berbagai kenangan, baik suka maupun duka, yang terkait dengan peran Pacitan dalam berdirinya Kerajaan Yogyakarta pada masa itu.
Menurut catatan sejarah, Bupati Pacitan pertama, “Eyang Setro Ketipo,” diangkat sebagai bagian administrasi pemerintahan Kerajaan Yogyakarta pada abad ke-17 M. Eyang Setro Ketipo adalah seorang abdi setia Pangeran Mangkubumi/Sri Sultan HB I yang berasal dari Loano/Kutoarjo (Purworejo, Jawa Tengah).
Beliau, bersama dengan Patih Lengkur/Noto Puro dari Yogyakarta, dan beberapa abdi dalem Kerajaan Yogyakarta lainnya, mengabdi dengan setia di Pacitan, membawa tata kelola pemerintahan yang modern pada masa itu. Eyang Setro Ketipo dan Patih Lengkur dimakamkan di Kompleks Pemakaman Wonokitri, Desa Widoro, Kecamatan Pacitan. Sementara itu, beberapa punggawa Kerajaan Yogyakarta lainnya dimakamkan di lokasi yang dikenal sebagai Patih Notopuran.
Makam Patih Lengkur/Notopuran dan punggawa Kerajaan Yogyakarta di abad ke-19 M diberi tanda berupa lambang “Keraton Yogyakarta,” meskipun seiring waktu, sebagian besar makam tersebut dipindahkan oleh ahli warisnya ke Kota Yogyakarta atau kota lainnya.
Cerita ini menjadi bukti bahwa Kota Pacitan telah memiliki tata kelola pemerintahan yang modern dan menjadi bagian integral dari Kerajaan Yogyakarta pada abad ke-17 M. Semoga Allah memberikan berkah kepada keluarga, rakyat, dan penerus yang setia kepada Nabi Muhammad.
Penulis: Amat Taufan
Editor: M Rafid M
