SOSIOLINGUISTIK, AGOES HENDRIYANTO

SOSIOLINGUISTIK, AGOES HENDRIYANTO
SHARE

MATA KULIAH SOSIOLINGUISTIK

SEMESTER  GENAP 2024-2025

PBSI STKIP PGRI PACITAN

SELASA 07.30 – 09.00 WIB

RABU 09.00 – 10.30 WIB

KONTRAK KULIAH

Mata Kuliah: Sosiolinguistik
Dosen Pengampu: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
Semester: Genap, Tahun Akademik 2025/2026
Jumlah SKS: [Isikan jumlah SKS sesuai kurikulum, misal 2 atau 3 SKS]
Jumlah Pertemuan: 16 pertemuan (termasuk UTS dan UAS)

Deskripsi Mata Kuliah:

Mata kuliah Sosiolinguistik membahas hubungan antara bahasa dan masyarakat, serta bagaimana faktor sosial memengaruhi penggunaan bahasa. Mahasiswa akan mempelajari variasi bahasa (dialek, register, gaya), perubahan bahasa, pilihan bahasa, multibahasa, alih kode, interferensi, serta isu-isu kebahasaan dalam konteks sosiokultural dan pendidikan.

Mata kuliah ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis dan praktis mengenai fenomena kebahasaan dalam masyarakat, sehingga mampu mengkaji serta menerapkan prinsip-prinsip sosiolinguistik dalam penelitian maupun pengajaran bahasa.

Aturan Perkuliahan:

  1. Kehadiran dan Ketepatan Waktu:

    • Mahasiswa wajib hadir tepat waktu pada setiap pertemuan.

    • Mahasiswa yang datang lebih dari 15 menit setelah kelas dimulai tetap boleh masuk, namun tidak diperkenankan mengisi absensi.

    • Kehadiran minimal 75% dari total pertemuan sebagai syarat mengikuti UAS.

  2. Etika Perkuliahan:

    • Mahasiswa dilarang melakukan tindakan yang mengganggu jalannya proses pembelajaran.

    • Jika harus meninggalkan kelas (misal ke kamar kecil), wajib meminta izin terlebih dahulu kepada dosen pengampu.

    • Diskusi dan debat akademik diperkenankan dalam koridor ilmiah dan etika yang sopan.

  3. Kedisiplinan Akademik:

    • Tugas dikumpulkan sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan.

    • Plagiarisme akan dikenai sanksi akademik berupa pengurangan nilai, tugas ulang, atau nilai nol pada komponen tersebut.

Komponen Penilaian:

Komponen Persentase
Keaktifan Kelas (Diskusi, Partisipasi) 20%
Kuis 10%
Tugas Mandiri 10%
Tugas Proyek (Kajian/Observasi Sosio-Bahasa) 30%
Ujian Tengah Semester (UTS) 10%
Ujian Akhir Semester (UAS) 20%
Total 100%

Penutup:

Dengan ditandatanganinya kontrak kuliah ini, mahasiswa menyatakan telah membaca, memahami, dan menyetujui seluruh ketentuan yang berlaku dalam perkuliahan Sosiolinguistik. Pelanggaran terhadap kontrak ini dapat memengaruhi hasil akademik mahasiswa.

Deskripsi Mata Kuliah Sosiolinguistik

Mata kuliah Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat. Fokus utama kajian ini adalah bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai konteks sosial serta bagaimana faktor-faktor sosial mempengaruhi variasi dan perubahan bahasa.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa akan memahami bagaimana aspek sosial seperti latar belakang budaya, kelas sosial, gender, dan situasi komunikasi memengaruhi cara individu berbahasa. Selain itu, mahasiswa juga akan mengeksplorasi bagaimana bahasa dapat menjadi alat untuk mengekspresikan identitas, membangun hubungan sosial, serta mencerminkan dinamika kekuasaan dalam masyarakat.

Dengan mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis fenomena kebahasaan dari perspektif sosial, memahami variasi bahasa dalam masyarakat, serta mengaplikasikan konsep-konsep sosiolinguistik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam penelitian linguistik.

1. Variasi Bahasa
2. Fungsi bahasa
3. Sikap terhadap bahasa
4. Komunikasi antarbudaya
5. Etnolinguistik
6. Sosiolinguistik sejarah

Deskripsi Variasi Bahasa

Variasi bahasa adalah perbedaan dalam penggunaan bahasa yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti latar belakang sosial, geografis, budaya, dan situasional. Variasi ini mencerminkan keberagaman dalam masyarakat dan menunjukkan bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai konteks komunikasi.

Secara umum, variasi bahasa dapat dikategorikan ke dalam beberapa bentuk, antara lain:

  1. Variasi Dialektal – Perbedaan bahasa yang muncul berdasarkan wilayah geografis, seperti perbedaan logat atau aksen antar daerah. Contohnya adalah perbedaan antara bahasa Jawa dialek Surabaya dan Yogyakarta.
  2. Variasi Sosial (Sociolek) – Perbedaan bahasa yang berkaitan dengan status sosial, pendidikan, atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Contohnya adalah bahasa gaul yang digunakan oleh remaja atau istilah teknis dalam komunitas profesional.
  3. Variasi Fungsional (Register) – Perbedaan penggunaan bahasa berdasarkan situasi atau konteks tertentu, seperti bahasa formal dalam pidato resmi dan bahasa santai dalam percakapan sehari-hari.
  4. Variasi Individu (Idiolek) – Perbedaan gaya bahasa yang khas bagi setiap individu berdasarkan pengalaman dan kebiasaan pribadi dalam berkomunikasi.
  5. Variasi Kronolek – Perbedaan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor usia atau generasi, misalnya istilah yang digunakan oleh generasi muda dan generasi tua yang bisa berbeda dalam makna dan penggunaannya.

Variasi bahasa ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat.

Deskripsi Fungsi Bahasa

Bahasa memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam konteks sosial, budaya, dan akademik. Fungsi bahasa dapat dikategorikan berdasarkan tujuannya dalam interaksi dan penyampaian pesan.

  1. Fungsi Instrumental

    • Bahasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan seseorang.
    • Contoh: Meminta bantuan, menyatakan permintaan, atau memberikan instruksi.
  2. Fungsi Regulatif

    • Bahasa digunakan untuk mengatur atau mengendalikan perilaku orang lain.
    • Contoh: Memberikan perintah, larangan, atau aturan dalam suatu kelompok sosial.
  3. Fungsi Interaksional

    • Bahasa digunakan untuk menjalin hubungan sosial dan membangun interaksi antarindividu.
    • Contoh: Percakapan sehari-hari, sapaan, humor, dan ekspresi emosi.
  4. Fungsi Personal

    • Bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, atau ekspresi diri seseorang.
    • Contoh: Mengungkapkan kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan dalam komunikasi.
  5. Fungsi Representasional/Informasional

    • Bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi, ide, atau fakta kepada orang lain.
    • Contoh: Pemberitaan di media, laporan penelitian, atau ceramah akademik.
  6. Fungsi Heuristik

    • Bahasa digunakan untuk mencari dan menggali informasi atau memahami suatu hal.
    • Contoh: Bertanya, berdiskusi, atau melakukan wawancara untuk memperoleh pengetahuan baru.
  7. Fungsi Imajinatif

    • Bahasa digunakan untuk mengekspresikan kreativitas, imajinasi, atau menciptakan dunia fiksi.
    • Contoh: Menulis puisi, novel, dongeng, atau bermain peran dalam drama.
  8. Fungsi Metalingual

    • Bahasa digunakan untuk menjelaskan bahasa itu sendiri, seperti dalam tata bahasa atau pembelajaran bahasa.
    • Contoh: Menjelaskan arti kata, aturan gramatikal, atau penggunaan istilah tertentu dalam komunikasi.

Fungsi-fungsi ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam interaksi sosial, pendidikan, dan budaya.

Deskripsi Sikap Bahasa

Sikap bahasa merujuk pada perasaan, pandangan, dan kecenderungan individu atau kelompok terhadap suatu bahasa atau variasi bahasa tertentu. Sikap ini dapat bersifat positif, negatif, atau netral, yang kemudian mempengaruhi cara seseorang menggunakan, mempertahankan, atau bahkan mengganti bahasa dalam komunikasi sehari-hari.

Jenis-Jenis Sikap Bahasa

  1. Sikap Positif terhadap Bahasa

    • Ditunjukkan melalui kebanggaan dalam menggunakan bahasa tertentu.
    • Mempertahankan dan melestarikan bahasa dalam berbagai situasi.
    • Contoh: Seseorang yang bangga menggunakan bahasa daerahnya dan berusaha mengajarkannya kepada generasi muda.
  2. Sikap Negatif terhadap Bahasa

    • Adanya perasaan kurang menghargai atau bahkan menolak penggunaan bahasa tertentu.
    • Menghindari penggunaan bahasa tertentu karena dianggap tidak modern, kurang bergengsi, atau tidak relevan.
    • Contoh: Seorang anak muda yang enggan berbicara dalam bahasa daerah karena dianggap ketinggalan zaman.
  3. Sikap Netral terhadap Bahasa

    • Tidak menunjukkan preferensi khusus terhadap suatu bahasa.
    • Menggunakan bahasa berdasarkan kebutuhan dan konteks komunikasi tanpa adanya dorongan emosional tertentu.
    • Contoh: Seorang bilingual yang menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya tanpa merasa lebih condong ke salah satu bahasa.

Faktor yang Mempengaruhi Sikap Bahasa

  • Identitas Sosial: Bahasa sering dikaitkan dengan identitas budaya, suku, atau kelompok tertentu.
  • Prestise dan Status: Bahasa yang dianggap lebih bergengsi atau memiliki nilai ekonomi tinggi cenderung lebih dihargai.
  • Pendidikan dan Media: Paparan terhadap bahasa melalui pendidikan dan media mempengaruhi bagaimana seseorang memandang suatu bahasa.
  • Kebijakan Bahasa: Regulasi pemerintah terhadap penggunaan bahasa dalam pendidikan, administrasi, dan media mempengaruhi sikap masyarakat terhadap bahasa tersebut.

Sikap bahasa memiliki dampak besar terhadap kelestarian dan perkembangan bahasa. Sikap positif dapat mendorong pelestarian bahasa daerah, sedangkan sikap negatif dapat menyebabkan pergeseran bahasa dan bahkan kepunahan bahasa tertentu.

SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER

Nama: [Tuliskan nama lengkapmu]
Kelas: [Tuliskan kelasmu]
Mata Pelajaran: [Tulis nama mata pelajaran terkait]
Hari/Tanggal Pengumpulan: Selasa, 28 April 2026

Petunjuk:
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar. Dikerjakan di kertas folio bergaris, ditulis tangan dengan rapi dan lengkap.

  1. Jelaskan perbedaan antara dialek, idiolek, dan ragam bahasa!
    Berikan contoh konkret dari lingkungan tempat tinggal atau kampus Anda untuk masing-masing istilah tersebut.

  2. Apa yang dimaksud dengan variasi bahasa berdasarkan situasi?
    Uraikan jenis-jenis variasi situasional bahasa serta contoh penggunaannya dalam konteks pendidikan dan sosial masyarakat.

  3. Bahasa dan identitas sosial sangat berkaitan erat. Jelaskan bagaimana penggunaan bahasa dapat mencerminkan status sosial, pendidikan, atau kelompok etnis seseorang.
    Sertakan contoh penggunaan bahasa dalam konteks masyarakat Indonesia yang mencerminkan hal tersebut.

  4. Analisislah fenomena variasi bahasa  yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus Anda.
    Jelaskan penyebab terjadinya dan berikan contoh dialog yang menunjukkan peristiwa tersebut.

  5. Sebagai calon pendidik, bagaimana Anda menyikapi keberagaman bahasa di ruang kelas yang multikultural?
    Uraikan strategi pembelajaran yang dapat Anda terapkan agar tetap menjaga keharmonisan dan memaksimalkan pemahaman siswa terhadap materi bahasa Indonesia.

Deskripsi Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antarbudaya adalah proses pertukaran pesan antara individu atau kelompok yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Komunikasi ini tidak hanya melibatkan bahasa verbal, tetapi juga aspek nonverbal seperti gestur, ekspresi wajah, norma sosial, dan nilai-nilai budaya yang dapat mempengaruhi cara berinteraksi.

Baca Juga  Bioskop Mini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan, Wadah Edukasi dan Pelestarian Sejarah Daerah

Ciri-Ciri Komunikasi Antarbudaya

  1. Melibatkan Perbedaan Budaya
    • Setiap individu membawa nilai, norma, dan kebiasaan dari budayanya masing-masing.
  2. Menuntut Pemahaman Lintas Budaya
    • Diperlukan kesadaran dan keterbukaan terhadap perbedaan budaya agar komunikasi berjalan efektif.
  3. Bersifat Dinamis
    • Pola komunikasi dapat berubah seiring dengan interaksi dan pengalaman antarbudaya.
  4. Mempengaruhi Identitas dan Persepsi
    • Komunikasi antarbudaya membentuk cara individu memandang dirinya sendiri dan kelompok lain.

Hambatan dalam Komunikasi Antarbudaya

  • Perbedaan Bahasa → Kesulitan memahami makna kata atau istilah tertentu.
  • Stereotip dan Prasangka → Pandangan yang sudah terbentuk sebelumnya dapat menghambat pemahaman.
  • Perbedaan Nilai dan Norma → Misinterpretasi dapat terjadi karena perbedaan aturan sosial.
  • Gaya Komunikasi Berbeda → Budaya tertentu lebih ekspresif, sementara budaya lain lebih formal.

Pentingnya Komunikasi Antarbudaya

  • Meningkatkan toleransi dan saling pengertian.
  • Mencegah kesalahpahaman dan konflik dalam interaksi sosial.
  • Memfasilitasi kerja sama dalam lingkungan global dan multikultural.
  • Mendorong adaptasi dan integrasi dalam masyarakat yang beragam.

Dengan memahami komunikasi antarbudaya, seseorang dapat lebih efektif dalam berinteraksi dengan individu dari latar belakang budaya yang berbeda, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan profesional.

Deskripsi Etnolinguistik

Etnolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan budaya dalam suatu kelompok etnis. Ilmu ini meneliti bagaimana bahasa mencerminkan dan dipengaruhi oleh budaya, adat istiadat, nilai-nilai, serta cara berpikir suatu masyarakat.

Fokus Kajian Etnolinguistik

  1. Bahasa sebagai Cerminan Budaya
    • Setiap bahasa mengandung konsep, istilah, dan struktur yang unik, mencerminkan cara masyarakatnya memahami dunia.
  2. Variasi Bahasa dalam Masyarakat Etnis
    • Dialek dan variasi bahasa yang berkembang dalam suatu kelompok etnis menggambarkan identitas dan solidaritas kelompok tersebut.
  3. Perubahan Bahasa dan Pengaruh Budaya
    • Interaksi dengan budaya lain dapat menyebabkan perubahan dalam kosa kata, tata bahasa, atau fonologi suatu bahasa.
  4. Bahasa dan Sistem Kepercayaan
    • Kosakata dalam suatu bahasa sering kali mencerminkan kepercayaan, mitos, atau sistem religius masyarakat yang menggunakannya.

Contoh Kajian Etnolinguistik

  • Bahasa dan Pandangan Dunia → Suku Inuit memiliki banyak kata untuk menggambarkan salju, menunjukkan bagaimana lingkungan mereka mempengaruhi bahasa.
  • Bahasa dan Tradisi → Bahasa Jawa memiliki tingkatan bahasa (ngoko, madya, krama) yang mencerminkan sistem sosial dan penghormatan dalam budaya Jawa.
  • Bahasa yang Terancam Punah → Banyak bahasa etnis yang punah karena dominasi bahasa mayoritas dan globalisasi.

Pentingnya Etnolinguistik

  • Menjaga kelestarian bahasa dan budaya lokal.
  • Memahami pola pikir dan perspektif suatu kelompok etnis.
  • Meningkatkan kesadaran terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia.

Etnolinguistik berperan penting dalam mendukung pelestarian bahasa-bahasa minoritas serta dalam memahami keterkaitan erat antara bahasa dan identitas budaya suatu masyarakat.

Sejarah Sosiolinguistik

Sosiolinguistik sebagai cabang ilmu linguistik berkembang dari kebutuhan untuk memahami hubungan antara bahasa dan masyarakat. Studi ini muncul sebagai reaksi terhadap pendekatan linguistik struktural yang lebih menekankan pada aspek internal bahasa tanpa mempertimbangkan faktor sosial.

Perkembangan Sejarah Sosiolinguistik

  1. Awal Kajian (Sebelum Abad ke-20)

    • Kajian hubungan antara bahasa dan masyarakat sudah ada sejak zaman kuno.
    • Filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles membahas bagaimana bahasa mencerminkan pemikiran dan kehidupan sosial.
    • Pada abad pertengahan, ahli bahasa Arab seperti Ibn Khaldun juga menyoroti hubungan antara bahasa, budaya, dan perubahan sosial.
  2. Abad ke-19: Munculnya Kajian Dialektologi

    • Kajian tentang dialek mulai berkembang dengan penelitian tentang variasi bahasa berdasarkan wilayah.
    • William Labov, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiolinguistik, menunjukkan bahwa variasi bahasa tidak hanya terkait dengan geografi, tetapi juga dengan faktor sosial seperti kelas dan status ekonomi.
  3. Tahun 1950-an – 1970-an: Lahirnya Sosiolinguistik Modern

    • William Labov dalam penelitiannya di New York (1966) menemukan bahwa pengucapan dan pemilihan kata dipengaruhi oleh kelas sosial.
    • Basil Bernstein (1971) mengembangkan teori kode bahasa (restricted code dan elaborated code) yang menghubungkan bahasa dengan latar belakang sosial.
    • Dell Hymes memperkenalkan konsep etnografi komunikasi, yang menekankan bahwa penggunaan bahasa tergantung pada konteks sosial dan budaya.
  4. Perkembangan Kontemporer (1980-an – Sekarang)

    • Kajian tentang bahasa dan gender berkembang dengan penelitian oleh Deborah Tannen dan Robin Lakoff.
    • Studi tentang bahasa dan kekuasaan berkembang dengan pendekatan kritis dari Norman Fairclough dalam Critical Discourse Analysis (CDA).
    • Globalisasi dan teknologi mempercepat penelitian tentang bilingualisme, multikulturalisme, dan bahasa digital.

Kesimpulan

Sejarah sosiolinguistik menunjukkan perkembangan dari studi dialektologi hingga kajian yang lebih kompleks tentang bahasa dalam masyarakat. Ilmu ini terus berkembang seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang mempengaruhi penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

CONTOH JUDUL  SOSIOLINGUISTIK

Berikut beberapa contoh judul penelitian sosiolinguistik:

  1. Variasi Bahasa dan Dialek

    • “Perbedaan Dialektal dalam Komunikasi Masyarakat di Kabupaten Pacitan”
    • “Pengaruh Dialek Jawa dalam Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja Kota Surakarta”
  2. Perubahan dan Pergeseran Bahasa

    • “Pergeseran Bahasa Jawa di Kalangan Generasi Muda: Studi Kasus di Yogyakarta”
    • “Pengaruh Globalisasi terhadap Penggunaan Bahasa Daerah di Kalangan Mahasiswa”
  3. Bahasa dan Identitas Sosial

    • “Bahasa sebagai Identitas Budaya: Studi pada Komunitas Suku Baduy”
    • “Gender dan Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi di Media Sosial”
  4. Bilingualisme dan Multilingualisme

    • “Kode-Switching dalam Interaksi Mahasiswa Bilingual di Kampus”
    • “Fenomena Campur Kode dalam Percakapan Sehari-hari di Kalangan Remaja Urban”
  5. Sikap Bahasa dan Kebijakan Bahasa

    • “Sikap Masyarakat Terhadap Bahasa Daerah: Studi di Kalangan Pelajar”
    • “Efektivitas Kebijakan Bahasa dalam Dunia Pendidikan di Indonesia”
  6. Bahasa dalam Interaksi Sosial

    • “Kesantunan Berbahasa dalam Komunikasi Antar Generasi di Lingkungan Keluarga”
    • “Strategi Kesopanan dalam Wawancara Kerja: Kajian Sosiolinguistik”

Berikut Artikel dengan Gunakan Kajian Sosiolinguistik

  1. Klik     https://drive.google.com/file/d/16SPIoW1jDYvdozMid53S7Pf9UPa_Ltq1/view?usp=sharing
  2. Klik    Language Harmony in the Song ‘Raiso Dadi Siji’: Code Switching and Code Mixing, the Realization of Multilingual Education

BUKU SOSIOLINGUISTIK1

BUKU SOSIOLINGUISTIK 2

 KONTRAK KULIAH

RPS-MATA KULIAH SOSIOLINGUISTIK 

 HAKIKAT SOSIOLINGUISTIK 

Metode Penelitian Bahasa

Metode yang dapat digunakan dalam upaya menemukan kaidah dalam tahap analisis data terdapat 2 yakni Metode Padan dan Metode Agih

METODE PADAN

Metode padan menggunakan alat penentu yang berada di luar bahasa, sedangkan metode agih menggunakan alat penentu yang merupakan bagian dari bahasa itu sendiri. 

Metode padan digunakan terhadap objek bahasa yang dikaji atau diteliti memiliki hubungan dengan hal-hal diluar bahasa yang bersangkutan, bagaimanapun sifat hubungan tersebut.

Alat penentu dalam metode padan terbagi menjadi lima macam, yaitu referent bahasa, referensial, pragmatis, reaksi lawan tutur, dan aspek sosial. 

Penjelasan 
  • Referent bahasaAlat penentu dalam metode padan referensial
  • ReferensialAlat penentu dalam metode padan referensial
  • PragmatisAlat penentu dalam metode padan pragmatis
  • Reaksi lawan tuturAlat penentu dalam metode padan pragmatis
  • Aspek sosialAlat penentu dalam metode padan

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berasal dari luar bahasa. Metode padan digunakan untuk menemukan petunjuk dalam bagian analisis data. 

Teknik pilah unsur penentu merupakan teknik dasar untuk melaksanakan metode padan. 

Dlam dunia riset, teknik analisis data sangat penting dalam memproses dan menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan. Terdapat dua macam teknik analisis data, yaitu teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. 

Beberapa jenis teknik analisis data, antara lain: 
  • Analisis Deskriptif
  • Analisis Inferensial
  • Analisis Regresi
  • Analisis Korelasi
  • Analisis Eksploratif
  • Analisis Cluster
  • Analisis Komponen Utama (PCA)
  • Analisis Data Multivariat

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak bebas libat cakap dan catat. Teknik simak bebas libat cakap merupakan teknik yang tidak melibatkan peneliti ke dalam percakapan, peneliti hanya berperan sebagai pengamat (Mahsun,2005 :91).

METODE AGIH 
Metode agih adalah metode analisis data yang menggunakan alat penentu dari bahasa yang ditelitiMetode ini digunakan untuk menganalisis bentuk kebahasaan, seperti kata majemuk. 
Alat penentu metode agih Kata, Fungsi sintaksis, Klausa, Silabe kata, Titinada. 
Teknik dasar metode agih 
  • Teknik bagi unsur langsung (BUL)
  • Teknik ini membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur

Teknik lanjutan metode agih 

  • Teknik sisip
  • Teknik ganti
  • Teknik lesap
  • Teknik ubah ujud
  • Teknik baca markah
  • Teknik perluas

Contoh penggunaan metode agih 

  • Menganalisis bentuk kebahasaan, khususnya kata majemuk
  • Menganalisis jenis slang dalam dialog pada novel
  • Menganalisis gaya bahasa kiasan dan fungsi gaya bahasa pada lirik lagu

Cara kerja metode agih 

  • Membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur
  • Menggunakan alat penentu dasar bahasa yang diteliti
  • Mengganti suatu unsur oleh unsur lain dalam suatu konteks tertentu
  • Perluasan, penghilangan satuan lingual, dan penyisipan suatu satuan lingual tertentu

Materi Lanjut Pertemuan 4

Tugas 2

PERINTAH TUGAS KELOMPOK

Mahasiswa diminta menyusun bagian Pendahuluan dalam bentuk tulisan ilmiah dengan tema Sosiolinguistik. Penulisan harus memperhatikan kaidah akademik serta menggunakan sumber referensi yang relevan.

Pendahuluan yang disusun harus memuat beberapa komponen berikut:

  1. Latar Belakang
    Menguraikan alasan pentingnya topik penelitian dalam kajian sosiolinguistik, menjelaskan fenomena bahasa yang terjadi di masyarakat, serta relevansi kajian tersebut dengan perkembangan sosial dan budaya.
  2. Dasar Teori
    Menjelaskan konsep-konsep utama dalam sosiolinguistik yang berkaitan dengan topik penelitian, seperti variasi bahasa, alih kode, campur kode, pilihan bahasa, atau hubungan bahasa dengan masyarakat, dengan mengutip pendapat para ahli.
  3. Penelitian Terdahulu
    Menguraikan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik yang dipilih. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan persamaan dan perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan.
  4. Research Gap (Celah Penelitian)
    Menjelaskan kekurangan atau ruang yang belum banyak diteliti dalam penelitian terdahulu sehingga penelitian yang dilakukan memiliki kontribusi ilmiah.

Ketentuan Penulisan

  • Diketik menggunakan font Times New Roman ukuran 12
  • Spasi 1,5
  • Panjang tulisan 2–3 halaman
  • Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
  • Menyertakan minimal 5 referensi ilmiah (buku atau jurnal)
  • Dikerjakan secara kelompok maksimal 3 orang

Berikut masalah yang dibahas dalam ilmu sosiolinguistik, yaitu:

  • Identitas sosial dari penutur. Identitas ini biasanya dari segi penutur yang bisa anggota keluarga, orang terdekat atau orang terdekat. Diajukan pertanyaan siapa identitas penutur itu dan apa hubungannya dengan lawan bicara sang penutur.
  • Identitas sosial dari pendengar.  Identitas yang diketahui sebaliknya dengan penutur. Cara mengetahui identitas ini melalui sudut pandang si penutur. Sama seperti identitas si penutur, bisa berupa anggota keluarga maupun orang terdekat.
  • Lingkungan sosial.   Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan tempat tutur yang biasanya tergantung dengan kondisi atau situasi terjadi di sana. Misalkan, berbicara keras di tempat ramai agar bisa terdengar atau berbicara tenang di perpustakaan agar tidak mengganggu orang yang fokus membaca buku. Analisis diakronik dan sinkronik Analisis ini berasal dari dialek-dialek sosial yang berdasarkan dengan kedudukan dalam kelas-kelas sosial tertentu.
  • Penilaian sosial yang berbeda.  Penilaian sosial ini berdasarkan dari penutur. Dilihat dari bentuk perilaku serta pandangan kelas sosial dari penutur di masyarakat, semua itu berdasarkan pandangan subyektif sang penutur.
  • Tingkatan variasi atau ragam linguistik.  Tingkatan variasi atau ragam linguistik ini mempunyai hubungan yang bersifat heterogen. Biasanya berdasarkan dari dialek yang bervariasi, adanya fungsi sosial, serta mulainya politik bahasa. Ini juga menjadi asal mula di mana bahasa merupakan alat komunikasi dalam masyarakat.
  • Penerapan praktis dan penelitian sosiolinguistik Adanya penelitian terhadap topik yang berkaitan dengan sosiolinguistik memiliki hubungan dengan praktik, seperti masalah pengajaran, pembakuan bahasa, penerjemahan, dan konflik sosial yang berasal dari perbedaan bahasa.

Perintah Tugas 2.

  1. Tulis data berdasarkan judul yang telah saudara tulis pada Tugas 1. Tulis  dalam  bentuk word.  Font Times Roman 12, margin 3 cm, dengan spasi 1,5.
  2. Bautlah dalam bentuk matrik, tabel ataupun lainnya yang memudahkan saudara dalam menganalisis.
  3. Dikumpulkan pertemuan yang akan datang !

Ada beberapa cara untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan sosiolinguistik. Berikut ini adalah beberapa contohnya:

  1. Wawancara: Cara ini dapat dilakukan dengan bertanya langsung pada informan atau responden mengenai penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana penggunaan bahasa dipengaruhi oleh faktor sosial seperti usia, gender, atau latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya.
  2. Kuesioner: Survei kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data secara massal dari banyak responden dengan cara memberikan pertanyaan yang terstruktur. Dalam hal sosiolinguistik, kuesioner dapat digunakan untuk mengetahui penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, seperti penggunaan bahasa dalam keluarga atau lingkungan kerja.
  3. Observasi: Dalam sosiolinguistik, observasi dapat dilakukan dengan mengamati penggunaan bahasa dalam situasi nyata, seperti dalam kelompok masyarakat tertentu atau dalam acara formal atau informal.
  4. Rekaman audio dan video: Cara ini dapat digunakan untuk merekam penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti percakapan informal antara teman atau keluarga, atau penggunaan bahasa dalam situasi formal seperti pidato atau presentasi.
  5. Data sekunder: Data sekunder seperti dokumen atau publikasi yang terkait dengan bahasa dan masyarakat dapat digunakan untuk analisis sosiolinguistik. Contohnya adalah data dari sensus atau laporan resmi dari pemerintah.

Jika Anda ingin mengumpulkan data sosiolinguistik melalui video percakapan di YouTube, berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:

  1. Tentukan topik atau konteks yang ingin Anda amati. Misalnya, Anda ingin mengumpulkan data tentang penggunaan bahasa slang dalam percakapan remaja di lingkungan perkotaan.
  2. Gunakan fitur pencarian di YouTube dan cari video percakapan yang relevan dengan topik atau konteks yang ingin Anda amati. Pastikan bahwa video yang Anda pilih memiliki transkripsi teks, sehingga Anda dapat lebih mudah mengamati penggunaan bahasa.
  3. Lakukan transkripsi teks dari video percakapan. Anda dapat menggunakan software transkripsi seperti Transcribe atau menggunakan layanan penerjemah transkripsi profesional. Pastikan transkripsi yang dihasilkan akurat dan lengkap.
  4. Analisis transkripsi teks. Anda dapat menganalisis transkripsi teks untuk mengidentifikasi penggunaan bahasa slang dalam percakapan, misalnya kata-kata slang yang digunakan, cara pengucapan yang digunakan, dan bagaimana penggunaan bahasa slang dapat mempengaruhi interaksi sosial dalam percakapan tersebut.
  5. Catat hasil analisis Anda dan buat kesimpulan dari data yang telah Anda kumpulkan. Dalam kesimpulan, Anda dapat menjelaskan temuan Anda dan mengaitkannya dengan topik atau konteks yang Anda amati.

Pastikan bahwa Anda selalu menghormati privasi dan hak cipta saat menggunakan video di YouTube. Jangan menggunakan video tanpa izin atau mengunggah video yang tidak sah.

Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat tabel atau matriks dari data penelitian:

  1. Tentukan variabel atau parameter penelitian yang akan dijadikan kolom dan baris pada tabel atau matriks. Variabel ini harus relevan dan signifikan untuk tujuan penelitian Anda.
  2. Buat tabel atau matriks dengan kolom dan baris yang sesuai dengan variabel yang telah ditentukan. Kolom biasanya diberi label untuk menunjukkan variabel yang diukur, sedangkan baris dapat diberi label untuk menunjukkan unit pengukuran atau kategori yang berbeda.
  3. Masukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam tabel atau matriks tersebut. Pastikan data terorganisir dengan rapi sehingga mudah dibaca dan diinterpretasikan.
  4. Gunakan format yang sesuai dengan jenis data yang Anda miliki. Misalnya, data kualitatif dapat dikelompokkan ke dalam kategori, sedangkan data kuantitatif dapat dihitung rata-ratanya.
  5. Buat ringkasan atau deskripsi singkat dari tabel atau matriks tersebut, termasuk hal-hal yang menonjol dari data, seperti pola atau tren yang muncul. Ringkasan ini dapat membantu pembaca memahami data dengan lebih baik dan mengidentifikasi temuan yang signifikan dalam penelitian Anda.
  6. Gunakan software atau aplikasi khusus untuk membuat tabel atau matriks jika diperlukan, seperti Microsoft Excel atau SPSS. Ini akan membantu Anda membuat tabel atau matriks dengan lebih mudah dan profesional.
  7. Terakhir, pastikan bahwa tabel atau matriks yang Anda buat terlihat rapi dan mudah dibaca. Gunakan font dan format yang konsisten, dan hindari penggunaan warna atau desain yang terlalu mencolok atau mengganggu

  Masyarakat Bahasa

 Hubungan Masyarakat dengan Bahasa 

Hubungan Masyarakat dengan Bahasa

Hubungan masyarakat dengan bahasa sangat erat karena bahasa adalah salah satu alat komunikasi utama dalam interaksi sosial dan aktivitas sehari-hari. Bahasa memungkinkan orang untuk menyampaikan ide, gagasan, dan emosi mereka kepada orang lain, serta membentuk dan memperkuat hubungan sosial.

Dalam konteks hubungan masyarakat, bahasa digunakan untuk membangun citra dan branding perusahaan atau organisasi. Bahasa juga digunakan dalam publikasi, iklan, dan konten media sosial untuk menciptakan kesan positif dan menarik bagi konsumen atau masyarakat umum.

Selain itu, bahasa juga memainkan peran penting dalam komunikasi interpersonal antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Bahasa yang digunakan dalam kelompok atau komunitas tertentu dapat membedakan dan mengidentifikasi anggotanya, serta dapat memperkuat rasa solidaritas dan identitas kelompok.

Namun, bahasa juga dapat menjadi sumber konflik dan perbedaan dalam masyarakat. Perbedaan bahasa atau dialek yang digunakan oleh kelompok yang berbeda dapat menciptakan ketegangan dan kesalahpahaman antara mereka. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang bahasa dan budaya masyarakat yang berbeda dapat membantu memperkuat hubungan antara kelompok yang berbeda dan mendorong toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.

Dalam hal ini, hubungan masyarakat harus dapat mengambil peran sebagai mediator untuk memfasilitasi dialog dan mempromosikan pemahaman dan toleransi antara masyarakat yang berbeda. Dalam mengelola hubungan masyarakat, penting untuk memperhatikan bahasa dan penggunaannya dengan hati-hati, karena bahasa dapat memengaruhi persepsi dan interaksi sosial antara individu dan kelompok..

 VERBAL REPERTOIR DAN MASYARAKAT  BAHASA 

“Verbal repertoire” adalah istilah yang digunakan dalam sosiolinguistik untuk mengacu pada semua bentuk bahasa dan dialek yang dikuasai oleh seseorang atau kelompok. Verbal repertoire mencakup semua bahasa, dialek, aksen, slang, atau variasi bahasa lainnya yang dapat digunakan oleh seseorang atau kelompok dalam berbagai situasi dan konteks.

Baca Juga  Menguri-uri Budaya Bangsa, Korem 071/Wijayakusuma Dukung Festival Dalang Anak dan Remaja Se-Eks Karesidenan Banyumas

Verbal repertoire dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti latar belakang sosial dan budaya, pendidikan, tempat tinggal, pengalaman hidup, dan kontak dengan berbagai komunitas bahasa dan budaya. Seseorang atau kelompok yang memiliki verbal repertoire yang luas dapat berkomunikasi dengan lebih efektif dan efisien dengan orang-orang dari berbagai latar belakang sosial dan budaya.

Verbal repertoire juga dapat berubah dan berkembang seiring waktu dan pengalaman hidup. Misalnya, seseorang yang pindah ke kota baru atau bekerja di lingkungan yang berbeda dapat mengembangkan verbal repertoire yang baru dan mengadaptasinya untuk situasi dan konteks yang berbeda.

Penting untuk diingat bahwa verbal repertoire seseorang tidak harus selalu dianggap sebagai indikator yang akurat untuk menilai bahasa atau kemampuan komunikasi mereka. Orang dapat memiliki verbal repertoire yang luas dan terampil dalam berbagai bahasa dan dialek, tetapi juga dapat memiliki kekurangan dalam hal kemampuan komunikasi dan komunikasi efektif dalam situasi tertentu.

 KEDWIBAHASAAN 

Kedwibahasaan adalah kondisi atau keadaan di mana masyarakat atau individu dapat menggunakan dua atau lebih bahasa dengan lancar dan efektif dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi kedwibahasaan terjadi ketika individu atau kelompok masyarakat dapat menggunakan lebih dari satu bahasa secara aktif dalam interaksi sosial dan komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Dalam konteks Indonesia, kedwibahasaan dapat merujuk pada kemampuan dan kebiasaan individu atau kelompok masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah atau bahasa asing dalam interaksi sosial dan komunikasi sehari-hari. Kondisi kedwibahasaan ini berkaitan dengan banyak faktor, seperti latar belakang etnis, lingkungan tempat tinggal, pendidikan, dan kontak dengan bahasa dan budaya lain.

Kedwibahasaan memiliki banyak manfaat, seperti memperluas wawasan dan pengetahuan tentang budaya dan kebiasaan masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Kedwibahasaan juga dapat memperkaya kemampuan komunikasi individu dan kelompok masyarakat, sehingga memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan orang dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.

Namun, kondisi kedwibahasaan juga dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti konflik bahasa, ketidakpastian identitas, dan kesulitan dalam memilih bahasa yang tepat dalam situasi yang tepat. Oleh karena itu, penting bagi individu dan masyarakat untuk memiliki kesadaran dan keterampilan dalam mengelola dan memanfaatkan kondisi kedwibahasaan dengan baik, sehingga dapat memperoleh manfaat yang optimal dari penggunaan bahasa yang berbeda.

-Ringkasan KEDWIBAHASAAN 

 CAMPUR KODE

Alih kode merupakan peralihan klausa dari suatu bahasa ke klausa bahasa lain, sedangkan campur kode merupakan penyisipan unsur bahasa lain di saat menggunakan suatu bahasa secara dominan.

Alih kode memiliki dua klasifikasi utama:

  1. Klasifikasi Gramatikal: a. Alih Kode Tag (Tag Code-Switching): Terjadi ketika penutur menambahkan ekspresi singkat dalam bahasa lain pada akhir ujaran atau kalimat. Misalnya, “Hadiahnya bagus banget. Thanks!”b. Alih Kode Antarkalimat: Terjadi ketika satu kalimat penuh dalam bahasa lain diapit oleh kalimat-kalimat berbahasa utama. Contohnya, “Ini motor lama. But the engine still feels like new. Harganya pun tidak terlalu mahal.”c. Alih Kode Intrakalimat: Terjadi ketika kata, frasa, atau klausa dalam bahasa lain muncul dalam kalimat berbahasa utama. Contoh: “James Maddison, gelandang serang kesebelasan Leicester City, memiliki kemampuan dribbling yang baik dan passing yang akurat.”
  2. Klasifikasi Kontekstual: Klasifikasi ini berkaitan dengan alasan-alasan yang mendorong terjadinya pengalihan kode.
    • Alasan Situasional: Terjadi karena situasi yang berubah, seperti latar, topik, partisipan, dan tujuan interaksi.
    • Alasan Metaforis: Terjadi karena penutur memiliki kemampuan bilingual dan menerapkan alih kode sebagai metafora untuk memperkaya ujaran atau kalimatnya dalam berkomunikasi.
Fenomena itu berbentuk penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa tertentu dalam suatu kalimat atau wacana bahasa lain, yang dinamai gejala campur kode (code mixing). Berdasarkan hal tersebut campur kode dapat didefinisikan sebagai “penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam suatu wacana menurut pola-pola yang masih belum jelas” (Nababan dalam Ohoiwutun 1995:69).

Fenomena itu berbentuk penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa tertentu dalam suatu kalimat atau wacana bahasa lain, yang dinamai gejala campur kode (code mixing). Berdasarkan hal tersebut campur kode dapat didefinisikan sebagai “penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam suatu wacana menurut pola-pola yang masih belum jelas” (Nababan dalam Ohoiwutun 1995:69).

Menurut Muysken (2000) dalam Harya (2018), campur kode berbeda dengan alih kode karena tidak memiliki intensi khusus. Campur kode terjadi ketika dua penutur menggunakan dua bahasa yang berbeda dalam satu ujaran, bahkan tanpa perubahan situasi. Campur kode juga melibatkan peleburan leksikon dan gramatika dari kedua bahasa dalam satu ujaran.

Muysken mengidentifikasi tiga jenis campur kode:

  1. Penyisipan: Terjadi ketika leksikal atau frasa asing disisipkan ke dalam struktur bahasa lain. Contoh: “Jadi orang tuh jangan suka nge-judge.”
  2. Alternasi: Biasanya terjadi pada tingkat klausa, di mana penutur bergantian antara dua bahasa. Contoh: “Gara-gara pandemi, saya jadi lebih sering bersyukur, kayak, I count my blessings.”
  3. Leksikalisasi Kongruen: Memungkinkan penggunaan dua tata gramatika bahasa yang berbeda secara bersamaan, dengan penekanan pada kesamaan struktur. Contoh: “Meeting hari ini akan membahas tentang urgent agenda yang akan dilakukan within this week.”

Alih kode dan campur kode memang memiliki jenis-jenis dengan ketentuan yang beragam. Alih kode dilakukan dengan tujuan tertentu, seperti perubahan topik atau kehadiran orang ketiga dalam percakapan, sementara campur kode terjadi tanpa maksud atau kesadaran yang khusus dari penutur.

TUGAS 2

BUATLAH VIDEO

Tuturan dalam masayarakat Bilingual atau Multilingual sering terlihat gejala campur kode dan alih kode. Buatlan Video durasi minimal 3 menit yang menggambarkan peristiwa bahasa tersebut. 

Assalamualaikum wr.wb

  Haiiii

 Perkenalkan saya Suci Fitrianingsih, saya mahasiswa STKIP PGRI Pacitan dari Program Studi   Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 4. Disini saya ingin memenuhi tugas mata kuliah Sosiolinguistik meteri  kedwibahasaan, penggunaan dua bahasa atau lebih dalam waktu bersamaan dilakukan baik oleh satu orang maupun lebih.

Kali ini saya akan menyampaikan topik tentang wisata di Kota Pacitan dalam masa pandemi covid 19. Kota  Pacitan. dikenal dengan kota 1001 goa, di Kota Pacitan bukan hanya goa saja yang menjadi tempat wisatanya, akan tetapi  yang lebih banyak dominannya adalah wisata pantainya. Masyarakat ora iso lepas soko wisata mergo wisata kenek ngo ngrefresh pikiran sing kesel, awak lungkrah saka sibuke yang setiap harinya bekerja maupun  sekolah. Biasane masyarakat ataupun wisatawan berkunjung ke tempat wisata di hari weekend yaiku sebtu mbi minggu utowo libur kerja, libur sekolah, tanggal abang dan sebagainya yang datang bermai-ramai baik dengan keluarga maupun teman.

Di masa pandemi covid 19 ini tempat wisata dikota Pacitan sepi dan pengunjungnya mengalami penurunan sing biasane sedurunge masa pandemi covid 19 para pengunjung baik dari dalam kota maupun luar kota akeh sing mengunjungi tempat wisata sing eneng Pacitan.

Di awal masa pandemi covid 19 tempat wisata di Kota Pacitan dilock down utowo ditutup. Pemerintah kabupaten dan dinas pariwisata kota Pacitan menutup tempat pariwisata dan menghimbau masyarakat ataupun wisatawan untuk sementara waktu tidak mengunjungi tempat wisata agar penyebaran virus covid 19 tidak menyebar luas.

Tempat wisata bakal dibuka sampai dengan beberapa waktu kedepan dengan mengamati penyebaran virus covid 19 iki sampai menurun, Pemerintah kabupaten dan Dinas Pariwisata tegas nerapkne aturan iki mergo virus iki penyebarane cepet.

Tempat wisata di Kota Pacitan dibuka kembali oleh Pemerintah Kabupaten  Pacitan dan dinas Pariwisata Kota Pacitan dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan yaiku 3 M Mencuci tangan, memakai masker, dan mejaga jarak. Pangggon wisata sing di lock down utowo ditutup ning Pacitan yaiku goa tabuhan, goa gong, pantai klayar, pantai ngiroboyo, pantai banyu tibo, pantai buyutan, pantai kasap, pantai srau, pantai watukarung, pantai pancer, pantai teleng ria, pantai watubale, pantai pidakan, pantai taman, sungai maron, banyu anget, beiji park, senthono gentong, pantai soge

Nek Pacitan diberlakokne panggon wisata sing di buka dingo uji coba lan simulasi. Tahap simulasi kui dingo khusus wisatawan lokal utowo khusus masyarakat kota Pacitan, koyoto panggon sing dingo simulasi antara laine goa gong, goa tabuhan, banyu anget sedangkan tempat pariwisata yang digunakan untuk uji coba oleh dikunjungi masyarakat luar kota koyoto pantai sing wis tak sebutne mau.

Mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan tentang wisata dikota Pacitan di masa pandemi covid 19.

Matur nuwun

Wassalamualaikum wr.wb.

 

Contoh Video Kedwibahasaan