Bima sebagai Simbolisasi Rukun Islam Kedua; Sunan Kalijaga Bertemu Nabi Khidir

Bima sebagai Simbolisasi Rukun Islam Kedua; Sunan Kalijaga Bertemu Nabi Khidir
Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.
SHARE

Oleh:  Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum. (*)

Berdirinya Kesultanan Demak bukan berarti suasana kemudian menjadi damai. Pergolakan demi pergolakan muncul seiring dengan usaha sultan Demak Raden Patah untuk menyatukan kembali wilayah Majapahit yang sudah porak poranda akibat perang saudara dan beberapa makar. Namun demikian usaha Islamisasi melalui jalur kebudayaan tetap dilaksanakan oleh para wali khususnya melalui seorang waliyullah cendekia yang bernama sunan Kalijaga.

Dalam pentas perdana wayang kulit di halaman masjid Demak, sunan Kalijaga mementaskan lakon jamus Kalimasada jinarwa. Lakon ini sudah dengan sukses mengislamkan tokoh tertua Pandawa yaitu Yudistira atau Dharma Kusuma. Karena memiliki kitab Jamus Kalimasada, maka Yudistira kemudian direpresentasikan sebagai rukun Islam yang pertama yaitu kalimat syahadat. Yang kehadirannya secara legal formal dimunculkan dalam bentuk sekaten setiap bulan Maulud, tepat dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kesuksesan itu kemudian mendorong sunan Kalijaga untuk memberi nuansa Islam  kepada tokoh Pandawa kedua yang bernama Bima atau Bratasena. Sesuai dengan kedudukannya sebagai Pandawa yang nomor 2, Bima kemudian diasosiasikan dengan rukun Islam kedua yaitu mendirikan salat. Salat diperintahkan untuk didirikan pagi dan petang sebanyak lima kali.

Gambar: Dewa Ruci Ketemu Bima (Werkudara)
Gambar: Dewa Ruci Ketemu Bima (Werkudara)

Sebagaimana tercantum dalam Alquran: Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS Hud: 114). Karena salat itu merupakan senjata bagi kaum muslimin dan didirikan lima kali dalam sehari, maka disangkitlah bahwa Bima itu memiliki kuku Pancanaka. Kuku ini diperoleh dari seekor gajah yang berhasil di tewaskan oleh Bima. Gajah tersebut dalam bahasa Jawa disebut sebagai liman yang mirip dengan kata lima. Pancanaka juga dapat diartikan sebagai senjata yang lima.

Baca Juga  Universitas Terbuka Terbaik Kinerja Anggaran Kategori PTN

Karena kedudukan seperti ini, maka Diceritakan bahwa Bima ini adalah tokoh yang selalu berdiri sebagaimana salat yang selalu harus didirikan setiap saat. Hal ini diperkuat Serat Wedhatama berikut.

Sembah raga punika,
pakartine wong amagang laku,
sesucine asarana saking warih,
kang wus lumrah limang wektu,
wantu wataking wawaton.

Artinya bahwa sembah raga itu adalah pekerjaannya Orang yang sedang menjalankan laku batin. Cara bersucinya adalah dengan menggunakan air, yang lazim adalah salat lima waktu, inilah hal yang sudah menjadi dasar yang kuat.

Gambaran pertemuan manusia dengan Tuhan dijelaskan dengan wejangan Dewa Ruci tentang hakikat diri berikut.

30. lairing suksma anèng sirèki | batining suksma uga nèng sira | mangkene ing pralambange | kadi wrêksa tinunu | ananing kang kukusing agni | kukus kalawan wrêksa | lir toya lan alun | kadya menyak lawan puhan | raganira ing rèh obah lawan mosik | 

Sukma lahir itu ada dalam dirimu, batin sukma juga didirimu, perlambangnya seperti kau dibakar, ada api dan ada asep yang menyatu, ombak dan air juga menyatu, seperti mentega dan susu itu juga menyatu,ragamu ada yang mengerakan dan memerintah Dalam serat Dewaruci digambarkan bahwa perjuangan Bima dalam mencari air suci adalah suatu gambaran pertemuan dengan Tuhan. Manusia itu ibarat wayang sedangkan yang menggerakkan adalah Tuhan yang digambarkan sebagai dalang.

Bahwa sesungguhnya Tuhan ini  ada di dalam diri manusia sebagaimana digambarkan dalam kutipan berikut.

31. yèn pamoring kawula lan Gusti | lawan suksma kang sinêdya ana | iya anèng sira gone | lir wayang sarirèku | saking dhalang polahing ringgit | minăngka panggung jagad | kêlir badanipun | amolah lamun pinolah | sapolahe kumêdhèp lawan ningali | tumindak saking dhalang || 32. kang misesa amisesa sami | datan antara pamoring karsa | jêr tanpa rupa-rupane | wus ana ing sirèku | pamirsane rupa sajati | ingkang ngilo Hyang Suksma | wayangan puniku | iya sira ran kawula | mêngko-mêngko ngong asung katrangan malih | mangkene gampangira ||

Bahwa pertemuan antara hamba dan Tuhan dan Sukma yang menjadi tujuan itu ada di dalam diri manusia seperti tubuh manusia itu adalah wayang sedangkan yang menggerakkan wayang adalah dalang sedangkan yang menjadi panggung adalah jagat, kelir adalah badannya.  Sementara wayang itu bergerak kalau digerakkan, yaitu gerakannya tingkah lakunya dan penglihatannya dilakukan oleh dalang.

Baca Juga  Dandim Ponorogo Apresiasi Sinergitas TNI Polri Dalam Pam Lebaran Idul Fitri 1446 H

Yang berkuasa dan yang dikuasai adalah, tidak ada jarak di antara keduanya, karena semua rupa sudah ada di dalam diri manusia, diri manusia ini adalah rupa yang sejati yang merupakan cermin dari yang Sukma, wayangan itu adalah dirimu yang disebut sebagai hamba, nantilah akan ada keterangan lagi, beginilah cara gampangnya.

Pertemuan Bima dan Dewa Ruci sepertinya sangat mengesan terhadap pikiran Sunan Kalijaga. Hal itu kemudian diwujudkan dalam salam satu suluk tentang beliau yang berjudul Suluk Linglung. Dewa Ruci disubstitusi secara Islam menjadi Khidir sebagai wali penjaga lautan.

Dalam percakapan Seh Malaya (Sunan Kalijaga) dengan Khidir, Seh Malaya disuruh masuk ke dalam telinga Khidzir.

3. Lahgita mara Syeh Melaya aglis, amanjinga guwa garbaning wang, Syeh Melaya kaget tyase, Dadya metu gumuyu, Pan angguguk turira aris, saking pundi marganya, kawula geng luhur, antawis mangsa sedhenga, saking pundhi marganing gen kula manjing, dening buntet kewala.

4. Nabi Khidir angandika ris, gedhe endhi sira lawan jagad, kabeh iki sak isine, alas samudra gunung, nora sesak ing garba mami, tan sesak lumebewa, ing jro garba ningsun, Syeh Melaya duk miarsa, langkung ajrih kumel sandika tur neki, ningleng ma’bitingrat.

5. Iki dalan talingan iki, Syeh Melaya manjing sigra-sigra, wus prapta jero garbane, andalu samudra gung, tanpa tepi nglangut lumaris, liyep adoh katingal, Nabi Khidir nguwuh, eh apa katon ing sira, dyan umatur Syeh Melaya inggih tebih, tan wonten kang katingal.

Baca Juga  Pemerintah Beri Intensif Fiskal Dorong Riset dari Badan Usaha

Cepatlah Seh Malayah masuk ke tubuhku. Seh Malaya kaget sampai tertawa terkekeh  sambil bicara sopan: Lewat mana jalannya saya masuk, sebab semua tertutup. Lewat telinga ini. She Malaya segera masuk, setelah sampai dalam yang dilihat samodra luas tanpa tepi yang tidak terlihat. Nabi Khidzir bertanya. Apa yang kelihatan olehmu. Aduh, jauh tidak ada yang kelihatan.

Artinya beberapa karakter Bima kemudian berikan dengan kepentingan dakwah Islam.
1. Bima selalu berdiri sesuai dengan tuntutan agama Islam bahwa salat harus didirikan dalam suasana apapun.
2. Bima memiliki senjata kuku Pancanaka yang diperoleh dari liman atau gajahsesuai dengan keadaan salat wajib yang terdiri dari lima waktu.

3. Bima memiliki kisah perjalanan di lautan serta perjuangan yang bersifat fisik hal ini sesuai dengan kepercayaan orang Jawa bahwa salat lima waktu adalah bagian dari sembah raga.  Sembah raga itu berhijab adalah dengan air yang disimbolkan dengan Bima yang terjun ke dalam lautan Minangkalbu.

4. Dalam perjalanan ke laut tersebut Bima bertemu dengan gambaran roh izafi atau dewa Ruci dan memperoleh pencerahan spiritual hal ini sesuai dengan pandangan Islam bahwa salat itu adalah Mikraj atau perjalanan spiritual seorang muslim dengan Tuhannya.

5. Dewa Ruci sederajat dengan simbol wali Islam Nabi Khidir.
Demikian suatu perjalanan filosofi yang menarik tentang ketuhanan. Sunan Kalijaga secara lihai menggabungkan simbol Islam dengan kekayaan budaya yang ada. Bima yang aslinya pahlawan dalam Mahabharata dengan sukses diadopsi sebagai simbol spiritual Islam, yaitu menjalankan salat.

(*) Guru Besar Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret