Sanggar Tari Remo; Langkah Hidupkan Kembali Seni Ludruk di Dusun Ngetep Ngromo, Pacitan

Sanggar Tari Remo;   Langkah Hidupkan Kembali Seni Ludruk di  Dusun Ngetep Ngromo,  Pacitan
Gambar: Tari Remo, Desa Ngromo, Nawangan, Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS || PACITAN – Sido rukun timbul jaya, harapan sederhana warga Ngetep yang melambung tinggi ke angkasa. Dusun Ngetep ialah sebuah dusun asri nan sejuk yang terletak di Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan.

Siapa sangka dusun kecil ini dahulu menjadi tempat berdirinya Paguyuban Ludruk “Siti Jaya” yang terkenal eksis pada masanya.

“Dahulu di Dusun Ngetep sudah ada paguyuban seni ludruk dengan nama Siti Jaya. Siti Jaya ini sebenarnya merupakan kependekan dari Sido Rukun Timbul Jaya”, ujar Miswanto, salah satu warga Dusun Ngetep.

“Harapannya mungkin dari Sido Rukun itu adalah menjadi  satu dengan harapan timbul jaya, timbul sebuah kejayaan. Dan kemudian diambil sebuah nama menjadi paguyuban ludruk ini yaitu Siti Jaya, mungkin harapannya dengan bersatunya pemuda itu akan menimbulkan sebuah kejayaan bagi warga Dusun Ngetep khususnya dan Desa Ngromo pada umumnya”, imbuhnya.

Baca Juga  Nikmati Suasana Makan Malam di "Pasar Minulyo ", SBY Gratiskan Makanan Untuk Masyarakat Pacitan

Ludruk sendiri merupakan kesenian yang tumbuh dari ekspresi rakyat. Kesenian tersebut mengangkat cerita sehari-hari sehingga dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak heran jika ludruk memiliki bahasa yang mudah dimengerti dan guyonan-guyonan yang mampu membuat penontonnya terpingkal-pingkal.

Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman kesenian ini semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Hal itu juga terjadi pada Paguyuban Ludruk Siti Jaya di Dusun Ngetep yang harus terhenti sekitar tahun 1996 silam karena tergeser oleh kesenian lain.

Budaya seni Ludruk saat dahulu menjadi hiburan warga desa Ngromo, harus dilestarikan agar sejarah budaya yang telah digoreskan oleh pendahulu masyarakat Pacitan pada umumnya jangan sampai punah tidak ada penerusnya.

Berawal dari keprihatinan tersebut, warga Dusun Ngetep berupaya untuk merintis kembali kesenian ludruk yang telah lama vakum. Sehingga pada tahun 2016 didirikan sanggar tari Remo. Tari Remo merupakan tarian yang biasanya ditampilkan pada saat acara pembukaan keseniaan ludruk.

Baca Juga  Tutup Rapim Polri, Kapolri Siap Implementasikan Instruksi Presiden Jokowi Soal Pembangunan Nasional

“Di setiap acara pembukaan ludruk itu biasanya didahului dengan tari Remo. Maka ini yang menjadi ikon ludruk dan kami mencoba untuk kembali menghidupkannya”, ucap Miswanto,

Pelatih Sanggar Tari Remo, berharap dengan keberadaan  sanggar tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kesenian ludruk. Selain itu, sanggar ini juga diharapkan menjadi cara agar generasi muda Dusun Ngetep dapat mencintai  kesenian lokal. Tak hanya itu, kini tari remo juga dapat kembali dinikmati oleh masyarakat.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, sanggar ini selalu melaksanakan kegiatan latihan rutin. Berbekal ketekunan dan semangat adik-adik dalam belajar tari Remo, kini tarian tersebut sering kali diminta untuk tampil sebagai hiburan dalam kegiatan hajatan masyarakat.

Selain itu, tari ini juga kerap menjadi pengisi acara event-event penting tingkat desa maupun tingkat kecamatan.

Baca Juga  Narasi Tengah

Melalui kegiatan yang telah memberikan warna terutama untuk hajatan dan perayaan hari besar di Desa Ngromo, maupun kecamatan Nawangan,  sanggar tari ini mendapatkan penghargaan dari camat Nawangan atas partisipasi yang diberikan dalam melestarikan kebudayaan di Kecamatan Nawangan.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan penghargaan dari Kecamatan Nawangan  atas pertisipasi kami dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Nawangan ini dan pada saat itu tariRremo menjadi salah satu unggulan yang ada di daerah Nawangan dalam rangka lomba sinergitas tingkat Provinsi Jawa Timur”, jelas Miswanto.

Tentu harapan kedepannya tidak hanya tari remo saja yang kembali hidup tapi juga dengan Paguyuban Ludruk Siti Jaya. Terakhir, jika bukan kita lalu siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Penulis: Wulan Nursetyani-STKIP PGRI Pacitan