Dosen FIB UNS Bahas Legenda Pangeran Samudra di Gunung Kemukus

Dosen FIB UNS Bahas Legenda Pangeran Samudra di Gunung Kemukus
SHARE
SURAKARTA (PRABANGKARANEWS) – Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, mengupas legenda dan mitos seputar Pangeran Samudra dalam acara Jagongan, sebuah siaran langsung di Radio RRI 95,2 FM. Acara bertema “Mengulik Legenda Pangeran Samudra dan Pesugihan Gunung Kemukus” tersebut dipandu oleh Ali Marsudi dan berlangsung pada Jumat pagi (13/12/2024).

Pangeran Samudra dikenal sebagai putra dari Raja Kertabumi Bhre Wirabhumi dan Dewi Ontrowulan, pasangan dari era Majapahit. Sebagai tokoh penting, Pangeran Samudra turut berperan dalam penyebaran agama Islam pada masanya. Namun, seiring waktu, muncul berbagai cerita negatif terkait Gunung Kemukus di Sragen, tempat peristirahatan terakhir Pangeran Samudra dan Raja Brawijaya V.

Baca Juga  Penyerahan Mahasiswa KM 7 kepada SDN 1 Klepu untuk Kolaborasi dalam Meningkatkan Literasi dan Numerasi

Gunung Kemukus, yang berlokasi di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, selama ini dikenal sebagai destinasi ziarah. Sayangnya, lokasi ini juga menyimpan stigma negatif sebagai tempat pesugihan. Stigma ini diyakini berasal dari penyimpangan fakta sejarah yang tidak diketahui secara pasti asal-usulnya.

Menurut Dr. Asep, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa stigma tersebut berakar dari rekayasa kolonial Belanda pada masa Perang Diponegoro (1824-1830). Kekalahan Pangeran Diponegoro pada 1830 membuat Belanda khawatir jika masyarakat Jawa bersatu kembali melalui pengaruh para bangsawan dan ulama. Maka, dibuatlah narasi tandingan yang membelokkan sejarah tentang makam-makam ulama dan tokoh pendukung Diponegoro, termasuk Gunung Kemukus.

Dr. Asep berharap upaya untuk memulihkan citra Gunung Kemukus dapat dilakukan melalui ziarah keagamaan dan kajian akbar yang melibatkan ulama-ulama nasional. Langkah ini bertujuan agar Gunung Kemukus tidak lagi dikenal karena stigma negatif, melainkan sebagai tempat ziarah yang memperkuat aspek spiritual dan keagamaan masyarakat sekitarnya.

Baca Juga  Singapura Siap Luncurkan Kapal Tempur Multiperan (MRCV) Pertama: Simbol Inovasi Maritim di Era Digital

Penulis: Nimas Nilam Cahyaning Savitri