Research Gap dan Novelty: Landasan dan Kebaruan dalam Penelitian

Research Gap dan Novelty: Landasan dan Kebaruan dalam Penelitian
SHARE

PRABANGKARANEWS || Research gap dan novelty merupakan dua konsep penting yang menjadi dasar dalam setiap penelitian ilmiah. Research gap mengacu pada celah atau kekurangan dalam literatur atau pengetahuan yang ada, yang belum terjawab atau terjelaskan secara memadai oleh penelitian sebelumnya. Identifikasi research gap membantu peneliti untuk menentukan fokus penelitian yang relevan dan signifikan. Dengan memahami area yang belum dieksplorasi ini, penelitian dapat diarahkan untuk memberikan kontribusi baru yang berdampak dalam bidang keilmuan tertentu. Oleh karena itu, kemampuan untuk menemukan dan mendefinisikan research gap merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses penelitian.

Novelty, di sisi lain, adalah elemen kebaruan atau orisinalitas yang menjadi nilai tambah dalam penelitian. Novelty dapat berupa pendekatan baru, metode inovatif, atau hasil yang memberikan perspektif baru terhadap suatu masalah. Kebaruan inilah yang membedakan penelitian terkini dari penelitian sebelumnya, sekaligus menjadi alasan utama mengapa penelitian tersebut layak untuk dilakukan. Dengan merespon research gap yang telah diidentifikasi, novelty memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, atau solusi praktis untuk tantangan yang dihadapi masyarakat. Kombinasi yang sinergis antara pengidentifikasian research gap dan penyajian novelty adalah kunci untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan bermanfaat

Baca Juga  Harris Horatius: Perjalanan Gemilang dari Runner-Up hingga Meraih Emas Asian Games 2022

Perbedaan antara Research Gap dan Novelty dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Research Gap (Kesenjangan Penelitian)

  • Definisi: Research gap adalah celah atau kekurangan dalam pengetahuan yang ada di bidang penelitian tertentu. Hal ini menunjukkan aspek-aspek yang belum terjelaskan, belum terjawab, atau belum diteliti secara memadai dalam literatur sebelumnya.
  • Fokus: Berorientasi pada apa yang belum diketahui atau dipahami.
  • Tujuan: Menunjukkan perlunya studi baru untuk mengisi kekurangan dalam penelitian sebelumnya.
  • Contoh:
    Dalam bidang teknologi pendidikan, mungkin ada banyak penelitian tentang e-learning, tetapi belum ada yang secara khusus meneliti efektivitas e-learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SD di daerah pedesaan.

2. Novelty (Kebaruan Penelitian)

  • Definisi: Novelty adalah keunikan, kebaruan, atau kontribusi asli yang ditawarkan oleh suatu penelitian. Ini adalah apa yang membuat penelitian tersebut inovatif atau berbeda dari penelitian yang telah ada.
  • Fokus: Berorientasi pada apa yang baru dan unik yang ditambahkan ke bidang pengetahuan.
  • Tujuan: Memberikan kontribusi signifikan dengan menghadirkan ide, pendekatan, atau temuan baru.
  • Contoh:
    Penelitian Anda menggunakan pendekatan berbasis kecerdasan buatan untuk menciptakan sistem e-learning adaptif yang dapat menyesuaikan konten pembelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa secara real-time. Pendekatan ini belum pernah digunakan sebelumnya.

Hubungan antara Research Gap dan Novelty

  • Research gap sering kali menjadi dasar untuk mengidentifikasi novelty. Dengan menemukan celah dalam penelitian yang ada, peneliti dapat merumuskan kebaruan yang ditawarkan untuk mengisi celah tersebut.
  • Research Gap → Masalah yang ingin dipecahkan
  • Novelty → Solusi atau inovasi baru untuk mengatasi masalah tersebut
Baca Juga  IMASIND PBSI STKIP PGRI Adakan Lomba Cipta Puisi dan Cerpen

Kesimpulan:

  • Research gap menyoroti “masalah yang perlu diatasi”, sedangkan novelty menyoroti “kontribusi baru” yang dihasilkan penelitian untuk menjawab masalah tersebut.

Research Gap dan Novelty sangat diperlukan dalam penelitian khususnya di pendahuluan ataupun latar belakang kajian/penelitian.  Pada  umumnya Research Gap dan Novelty  peneliti harus memahami  subyek dan objek penelitian.  Oleh sebab itu diperlukan observasi, membaca lebih awal sebelum menentukan judul kajian ataupun penelitian.

Jika kita akaitkan dengan filsafat biasa disebut dengan Ontologi atau hakikat.  Untuk mengetahui hakikat secara otomatis peneliti harus paham dengan subyek dan objek yang harus diteliti baru bisa merumuskan permasalahan.