Wayang Beber Jagong 6 “Pinangan Raden Klana Sewandana Ditolak Dewi Sekertaji”

Wayang Beber Jagong 6 “Pinangan Raden Klana Sewandana Ditolak Dewi Sekertaji”
SHARE

WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) – Pada jagong ke 6, gulungan kedua Wayang Beber Tawang Alun, kisahnya berpusat pada Raden Kelana Sewandana yang mendirikan kemah di Alun-alun Kediri. Ia merasa gelisah menunggu kabar dari Dewi Sekartaji, wanita yang telah lama ia dambakan. Untuk mempercepat proses, Raden Klana Sewandana mengutus adiknya, Retno Tengarong, untuk mengantarkan seserahan kepada Dewi Sekartaji melalui Retnamindaka di Pangreburan.

Namun, Retno Tengarong tidak mendapati perjalanannya berjalan mulus. Saat ia, bersama pelayannya Ni Pengilon, sedang sibuk menenun dengan penuh ketelitian, seserahan yang ia bawa ditolak mentah-mentah oleh pihak Dewi Sekartaji. Penolakan tersebut memicu kemarahan Retno Tengarong. Merasa harga dirinya terusik, ia menantang pihak yang menolak seserahan itu untuk bertanding, menegaskan tekadnya untuk menyelesaikan misi yang diemban, sekaligus menjaga kehormatan keluarganya.

Baca Juga  Rawat Jagat #2 di Kabupaten Pacitan: Memajukan Kebudayaan melalui Seni dan Warisan Budaya Takbenda

Pelestarian Wayang Beber Tawang Alun
Wayang Beber Tawang Alun, yang kisahnya berasal dari zaman Majapahit dan kemudian disempurnakan oleh Sunan Kalijaga, memiliki nilai budaya dan spiritual yang mendalam. Sunan Kalijaga memperbarui bentuknya agar lebih selaras dengan nilai-nilai Islam, menggantikan wujud manusia yang dianggap berhala dengan ilustrasi yang simbolis.

“Melihat kondisi Wayang Beber Tawangalun yang tekah berusia ratusan tahun sangat layak untuk segera lakukan upaya pelestarian agar tidak rusak.  Wayang Beber yang asli dianggap sebagai pusaka harus dilestarikan dan dilakukan penanganan khusus.  Untuk wujud aslinya  dengan hanya gunakan pengawet berupa bulu merak.  Namun harus adanya upaya maksimal dari Pemerintah,” jelas Tri Hartanto  Minggu (15/12/24).

Baca Juga  Wapres Gibran dan Mentan Amran Tinjau Langsung Kondisi Pertanian di Kupang, NTT

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Wayang Beber mulai menunjukkan kerusakan. Beberapa bagian bawah gulungan mulai mengelupas, dan detail gambar yang ada kian memudar. Untuk itu, duplikasi dan dokumentasi menjadi langkah penting guna melestarikan peninggalan ini.

Beruntung, melalui Dana Abadi Kebudayaan Indonesia tahun 2024, pemerintah memberikan stimulus anggaran untuk mendukung dokumentasi karya maestro ini. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberadaan Wayang Beber, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati dan mempelajari warisan budaya ini.

Penulis:  Tri Hartanto, Hendriyanto