Djoko Krèbèt dan Wayang Beber: Lahirnya Simbol

Djoko Krèbèt dan Wayang Beber: Lahirnya Simbol
SHARE

PRABANGKARANEWS, BUDAYA – Di tengah kisah-kisah tentang kekuasaan, dosa, dan pertapaan, lahirlah seorang anak laki-laki dalam suasana yang jauh lebih sakral—namanya Djoko Krèbèt. “Djoko” dalam bahasa Jawa berarti pemuda, sementara “Krèbèt” adalah bentuk onomatope, meniru suara “krebet-krebet” dari gulungan kertas atau kain ketika dimainkan dalam pertunjukan Wayang Beber sebuah kesenian kuno yang menarasikan cerita melalui lukisan panjang yang digulung dan digerakkan ke kiri dan kanan.

Nama itu tidak diberikan sembarangan. Sang anak lahir tepat saat ayahnya Kyai Pengging keturunan Raja Majapahit terakhir, memainkan Wayang Beber, sebuah pertunjukan suci yang di masa itu menjadi jembatan antara leluhur dan dunia sekarang. Sebuah penamaan yang bukan hanya penanda waktu lahir, tetapi juga penanaman identitas dan takdir. Sejak saat itulah, seolah-olah roh kesenian dan cerita leluhur melekat dalam dirinya.

Baca Juga  Simulasi Tanggap Bencana Tsunami Desa Sirnoboyo, Pacitan 2021

Wayang Beber sendiri bukan sekadar hiburan. Ia adalah media cerita bergambar yang menggambarkan epos besar seperti Panji, disertai iringan tembang dan narasi, dimainkan oleh seorang dalang yang membuka gulungan demi gulungan. Suara gesekan kain dan bambu, gerak lembut namun ritmis dari pembukaan cerita, itulah “krèbèt” yang kemudian menjadi simbol lahirnya si pemuda.

Djoko Krèbèt adalah gambaran manusia yang lahir bersama seni, tumbuh dalam narasi, dan kelak mungkin menjadi tokoh dalam cerita yang diwariskannya sendiri.  Joko Krebet atau Joko  Tinggir menjadi Raja Pajang  (1549 M – 1582 M) dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Ia adalah pengingat bahwa nama bukan hanya bunyi, tetapi warisan makna—dan bahwa seni bisa menjadi tempat kelahiran yang lebih murni daripada istana yang diwarnai dosa.

Baca Juga  Khofifah Larang Diskriminasi Usia dalam Rekrutmen, Legislator PAN Dukung Langkah Inklusif

 Narasi aslinya “De vorst vroeg hem verder: Djoko beteekent jongeling, en Krèbèt is een klanknabootsend woord, beteekenende eene kletterende beweging maken. Hij had dien naam gekregen, omdat juist toen hij geboren werd de Wayang bèbèr bij zijnen vader gespeeld werd. Dit is de naam van een tooneelspel, door middel van beschilderd papier, hetwelk door het heen en weder bewegen een kletterend geluid geeft.” sumber  Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1903 (1) [volgno 3]