Menelusuri Warisan Budaya: Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UNS Kunjungi Museum Keris Brojobuwono
PRABANGKARANEWS, Karanganyar, 14 Mei 2025 — Sebelas mahasiswa dari Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan kunjungan edukatif ke Museum Keris Brojobuwono pada Rabu, 14 Mei 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai kekayaan budaya nusantara, khususnya keris yang menjadi simbol penting dalam budaya Jawa dan telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan langsung mengenai sejarah, makna filosofis, serta tahapan pembuatan keris. Pendiri museum, Bambang Gunawan, menjelaskan bahwa setiap keris yang dibuat di museum memiliki tujuan sakral dan harus melalui proses ritual yang sarat dengan nilai spiritual serta budaya.
“Pembuatan keris harus diawali dengan beberapa ritual sebagai bentuk permohonan. Sekarang, pembuatan satu keris bisa memakan waktu hingga dua bulan dengan bantuan teknologi modern seperti blower,” ujarnya.
Meski begitu, tidak semua koleksi keris dapat disaksikan oleh pengunjung. Sejumlah keris tengah dipindahkan dari satu pameran ke pameran lainnya. Bahkan, keris tertua koleksi museum saat ini sedang dipinjamkan untuk pameran di Candi Borobudur.
Selain koleksi keris, mahasiswa juga diperkenalkan pada naskah-naskah kuno yang dimiliki museum. Sayangnya, naskah-naskah tersebut belum dapat diakses publik karena masih dalam proses renovasi ruang pamer. Rencananya, lantai satu dan dua museum akan difungsikan sebagai perpustakaan naskah kuno, sedangkan lantai tiga akan digunakan sebagai studio musik. Saat ini, ratusan naskah tersebut juga belum melalui proses digitalisasi.
“Untuk sementara waktu, koleksi naskah belum bisa dipamerkan. Kami berencana menjadikan lantai satu dan dua sebagai perpustakaan, sementara lantai tiga menjadi studio musik. Namun, sebagian besar naskah masih belum sempat didigitalkan,” imbuh pihak museum.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi awal dari hubungan kolaboratif antara institusi pendidikan dan lembaga pelestari budaya, serta mendorong penelitian dan keterlibatan lebih lanjut dalam pelestarian warisan budaya bangsa. (Laporan: Febriyanti Tri Wahyuningtyas)
