PRAHASTA LENA NASEHAT ALAM UNTUK HENTIKAN ANGKARA MURKA

PRAHASTA LENA NASEHAT ALAM UNTUK HENTIKAN ANGKARA MURKA
Prof. Bani Sudardi, Guru Besar Ilmu Budaya, Fak Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret
SHARE

Oleh: Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.(*)

Universitas Sebelas Maret/ Dewan Pakar SENAWANGI

Alam selalu mengingatkan bila kita berbuat keliru. Selanjutnya terserah kita mau merenungi atau tidak. Hal ini terdapat dalam kisah Ramayana episode tewasnya Patih Prahasta. Dasamuka sudah mendapat firasat alam, anaknya yang sakti mendapat malu ketika berperang dengan Anggada. Namun Dasamuka justru membiarkan pamannya bernama Patih Prahasta maju ke medan laga. Akhirnya paman yang dicintai dan mencintai itu tewas dengan mengenaskan ketika menghadapi bala tentara monyet. Inilah awal Dasamuka terkena doanya sendiri. Dia berdoa tidak ada manusia dan dewa yang dapat mengalahkannya. Alam mengirimkan kera untuk memberinya pelajaran. Demikian ceritanya.

Tersebutlah pasukan kera sudah berkemah di sekitar Suwelagiri. Sri Rama, Lesmana, Sugriya, Anila, Anala, Anggada, Hanoman sudah mempersiapkan perang besar. Berjuta-juta pasukan kera sudah siap sedia. Mereka juga ditemani Wibisana yang mengetahui seluk beluk Alengka. Sebelum gempuran perang dimulai,  Sri Rama berpesan untuk tidak memulai perang menunggu sampai pasukan Rahwana menggempur pasukan Sri Rama.

Tersebutlah mendengar kabar kedatangan pasukan kera, maka Rahwana mengirimkan mata-mata seorang raksasa Sakti yang bernama Sukasrana. Raksasa ini memiliki keahlian untuk berubah wujud. Mata-mata ini mata-mata Dasamuka bila menginginkan informasi inteljen.

“Hai Sukasrana berangkatlah ke Suwelagiri dan hitunglah berapa jumlah pasukan Sri Rama itu,” kata Dasamuka kepada Sukrasana.

Tanpa basa-basi Sukasrana segera meninggalkan Dasamuka terbang menuju Suwelagiri untuk melaksanakan tugas mata-mata. Iya segera berubah menjadi seekor kera dan menyaru di dalam barisan kera tersebut.

Namun, Wibisana yang sudah paham betul tentang negeri Alengka, segera mengenali diantara kera itu ada jelmaan Sukasrana. Maka ia segera memerintahkan bala kera untuk mengepung dan menangkap Sukasrana.

“Wahai junjungan Sri Rama, ini ada mata-mata dari Alengka. Baiklah kita hukum mati saja supaya menjadi pelajaran bagi prajurit Alengka untuk tidak memata-matai kita,” kata Wibisana kepada Sri Rama.

“Jangan demikian Wibisana, seorang satria terlarang membunuh seorang utusan, musuh yang ditaklukan, dan orang sakit” kata Sri Rama.

“Aduh mohon ampun Baginda, saya hanyalah utusan!” tangis Sukasrana.

“Apa yang diperintahkan Junjunganmu wahai Sukasrana?” tanya Sri Rama.

“Ya saya disuruh menghitung segenap kekuatan pasukan kera. Prabu Dasamuka ingin menyiapkan pasukan untuk menghadapi Baginda,” kata Sukasrana.

“Mata-mata ini sangat berbahaya Gusti Prabu. Baik kita gantung saja,” kata Anila.

“Jangan begitu Anila,” kata Sri Rama, “Tugas kita bukan  membuat kerusakan, tetapi memayu hayuning bawana,amasuh malaning bumi, ambrasta dur angkara” tukas Sri Rama.

“Wahai Sukasrana, kembalilah kepada rajamu Dasamuka. Katakan pesan saya, hendaklah hentikan angkara murka, kembalikan Sinta kepadaku. Marilah kita hidup dengan damai. Sebagaimana orang-orang di sekitar. Saya tidak ingin berperang karena setiap peperangan pasti menelan korban, membawa sakit, kerusakan, dan duka cita,” kata Sri Rama.

Baca Juga  Prof. Istadiyantha, di Mesir Ditemukan Naskah Tertua dari Papirus Berumur 1.500 tahun

Sukasrana merasa gembira bahwa dia terlepas dari hukuman mati atas keluhuran budi Sri Rama. Hatinya terasa mendapat cahaya kebenaran, mendapatkan ketulusan dan cinta, serta sentuhan kemanusiaan dari Sri Rama.

Segera saja Sukasrana menuju kepada Prabu Dasamuka. Diceritakan segala kehebatan dan jumlah prajurit yang luar biasa yang sepertinya memang sudah mendapat kekuatan dari Dewata. Selanjutnya disampaikan pesan dari Sri Rama.

“Aduh Mahaprabu Junjunganku. Yang adil dan ambeging budi. Bahwa Sri Rama memang sebaik-baiknya raja. Dia sangat dicintai oleh rakyatnya dan sangat mencintai rakyatnya pula. Meskipun rakyatnya tidak wujud sebagai manusia, melainkan berwujud sebagai kera dengan berbagai warna dan bentuknya. Aduhai Mahaprabu yang arif bijaksana. Sri Rama sangat memelihara siapapun dia sehingga Hanoman, Anggada, Sugriwa, bahkan Adinda Wibisana telah direngkuhnya dengan kasih sayang yang tiada terkira. Beliau mengirimkan salam perdamaian dan meminta agar maha Prabu menyerahkan dewi Sinta. Dengan cara itu, maha Prabu yang bijaksana dan dicintai oleh para denawa akan tetap langgeng dan lestari memegang tampuk pemerintahan di Alengkadiraja,” kata Sukasrana.

“Tiada guna peperangan yang sudah pecah wahai sang Maha Prabu. Peperangan hanya akan meminta korban, membuat sakit, dan mendatangkan duka cita yang mengiris,” kata Sukrasana sambil menangis.

“Drohon Sukasrana. Aku tidak menyuruhmu untuk berkhotbah seperti itu. Kamu sudah terkena racun Sri Rama. Sadarlah akulah Ratu Gustimu yang telah memberimu kemuliaan, derajat, pangkat, dan jabatan. Itulah hasilnya kamu ke Suwelagiri. Jangan kamu sebut-sebut Wibisana” bentaknya.

Gemetar Sukasrana mendengat ucapan Dasamuka yang berdiri dengan wajah memerah dan mamasang taringnya.

“Kawula noknon. Mohon ampun seribu ampun Paduka Mahaprabu. Bukan maksud hamba menggurui Maha Prabu. Hamba sebagai debu di kaki Paduka hanya menyerahkan diri apa kehendak Paduka. Seandainya hamba akan dilebur menjadi pengamun-amun hamba siap dan menyerahkan diri, Aduhai Paduka maha Prabu. Kawula noknon,” kata Sukasrana sambil bersujud dan menangis. Luluhlah hati Dasamuka. Lalu dipanggilnya patih Prahasta dan pangeran Indrajit.

“Paman Prahasta dan anaku Indrajit. Segeralah siapkan semua prajurit untuk menghadapi serangan dari Sri Rama. Jangan kamu menunggu-nunggu, tetapi sebarang ada kesempatan untuk menghancurkan drohon Sri Rama dan Wibisana, sudahlah purba dan wasesa ada di tangan kalian berdua. Pilihlah Senopati Senopati Alengka yang sakti supaya tidak mendua kali dalam bekerja,” kata Dasamuka .

Patih Prahasta dan Raden Indrajit segera menyiapkan pasukan keluar dari benteng kota menuju Suwelagiri. Bingung lah segenap kera karena kedatangan musuh yang tiba-tiba. Segeralah terjadi satu peperangan yang dahsyat. Namun kera-kera yang dibawa Sri Rama adalah kera-kera pilihan yang sudah teruji dan memiliki kesaktian yang tiada tanding. Banyak  Senopati senapati Alengka yang tewas. Sampai berperanglah Indrajit dan Anggada dengan suatu peperangan seru.

“Hai Anggada. Ayolah ikut Ramanda Dasamuka. Kita masih sama-sama keturunan Batara Indra. Kita ini masih saudara. Engkau putra Dewi Tara, dan aku putra Dewi Tari, yang masih saudara kembar. Ikutlah ke Alengka, biar ayahanda Prabu mengangkat kau menjadi Pangeran sentana,” kata Indrajit.

Baca Juga  Bupati Pacitan Buka Sarasehan PGRI di Monumen Jenderal Soedirman

“Tidak sudi. Aku tidak ingin mengabdi kepada Angkara Murka. Sudah kupasrahkan seluruh jiwa ragaku kepada Dewata titisan Wisnu sang Rama Wijaya. Hentikan kebodohanmu. Marilah kita membangun tata kehidupan dunia yang lebih adil damai dan bersahabat,” kata Anggada.

“Wuih, pinter juga berkhotbah bedhes elek ini,” kata Indrajit.

Terjadilah perang seru di antara keduanya dan ternyata sama-sama sakti. Tetapi tiba-tiba Anggada mencabut sebuah pohon dan diputar-putar di medan laga lalu dilemparkanlah kepada Indra yang sedang mengendarai keretanya. Indrajit segera meloncat dari keretanya, dan kereta itu hancur berantakan ditimpa pohon yang dicabut oleh Anggada.

Sangat malu Indrajit menghadapi kenyataan keretanya jatuh dan hancur. Selama di dalam medan laga belum pernah ia mengalami peristiwa yang memalukan seperti ini. Maka ia segera lari ke dalam benteng istana. Di sanggar pemujaan ia memanggil ajian naga pasa untuk membalas dendam dan menebus rasa malunya.

Terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Inderajit membawa anak panah dan dilemparkannya ke atas, maka berubahlah anak panah itu menjadi naga besar yang memutar-mutar dan dari mulutnya keluar bisa berupa asap hitam yang menjadikan siapapun yang terkena menjadi lemas dan tertidur tiada daya. Naga pasa juga menjadikan alam semesta menjadi gelap, hitam, diselimuti oleh duka cita. Inilah kehebatan ajian nagapasa yang menyatu dengan panah nagapasa itu.

Banyaklah kera yang tertidur sekarat. Sri Rama dan Lesmanapun terikat oleh panah nagapasa sehingga di samping tidak bisa bergerak, mereka juga tidak punya daya pingsan seketika. Menangislah segenap kera melihat junjungannya lemas pingsan tiada daya.

Mengetahui keadaan yang sangat kritis, maka Wibisana sudah tahu bahwa ini adalah ulah dari keponakannya yang bernama Indrajit. Dengan serta merta diambillah panah Indrasta dan seketika dunia seketika menjadi terang. Lenyap sudah pengaruh nagapasa. Sri Rama dan Lesmana bangkit dan sadar kembali. Kera-kera yang pingsan pun bangun kuat seperti sedia kala.

Mengetahui bahwa rahasianya sudah terbongkar, maka Indrajit segera lari masuk ke Benteng istana. Dia sangat takut dengan pamannya Wibisana karena pamannya itu tahu segalanya tentang rahasia indrajit itu. Maka diceritakannya kepada prabu Dasamuka tentang keadaannya ini.

“Wahai Rama Prabu, sesungguhnya ananda sudah bisa memenangkan perang dan seluruh pasukan sri Rama sudah Ananda hancurkan dengan panah naga pasa. Tetapi semua menjadi hancur berantakan ketika paman Wibisana ikut campur tangan dan memanah dengan panah Indrasta, maka hilang lenyapkan nagapasa, dan Ananda terpaksa harus melarikan diri.

“Bangsat Wibisana. Pengkhianat bangsa. Lalu siapakah yang bersedia menjadi Senapati Alengka saat ini,”kata Dasamuka.

Baca Juga  Indonesia U-23 Kalah Tipis dari Irak, Shin Tae-yong Siapkan Tim untuk Playoff Olimpiade

Suasana hening karena mereka sudah tahu maju menjadi Senapati berarti akan pulang menjadi bangkai. Sudah masyhur, siapa pun yang bermusuhan dengan Sri Rama, akan hancur binasa. Meskipun kesaktiannya tiada tara.

“Anak Prabu, paman ini sudah tua. Seandainya Paman ini mati di medan laga, maka tidak ada lagi keinginan paman yang tertunda. Dan ini adalah salah satu bakti Paman kepada Negeri Alengka. Maka ijinkanlah Paman maju sebagai Senapati,” kata Patih Prahasta.

“Baiklah Paman. Semoga Paman unggul di dalam peperangan ini,” kata Dasamuka.

“Kawula noknon,” kata Prahasta.

Patih Prahasta segera keluar dari pertemuan itu. Air matanya menetes karena dia mengetahui bahwa apa yang dilakukan ini adalah bagian dari Angkara Murka. Tetapi ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi keponakannya yang keras dan tidak tahu kebenaran itu. Dia juga sudah mendengar bahwa Sri Rama adalah titisan Wisnu, dan siapapun yang melawan titisan Wisnu maka akan hancur terkena Cakra Sudarsana.

Keluar ke Medan laga, patih Prahasta yang sudah tua segera disambut oleh Anila, seorang pemuda kera yang beringas. Maka terjadilah perang yang sebenarnya tidak seimbang. Prahasta yang tambun, tua, dan lamban menghadapi seekor kera yang trengginas. Bahkan beberapa pukulan Patih Prahasta, dirasakan seperti pijatan saja oleh Anila. Akhirnya dibuatnya Patih Prahasta kelelahan dengan dibawa berputar ke sana dan kemari.

Sampai akhirnya pada suatu kesempatan, Anila mengambil sebuah batu besar dan dihantamkannya ke kepala Patih Prahasta. Menyemburlah darah segar dari kepala Patih yang tua itu. Bersoraklah para kera kegirangan bahwa musuhnya sudah ditewaskan. Serat Rama menggambarkan kematian Patih Prahasti dengan tembang berikut.

  • rahnya bang sumirat kadya dhatu muncar
  • tan beda lawan wêsi
  • abang duk binakar
  • cinêlupakên toya
  • kumêcus nora mindhoni
  • Patih Prahastha
  • babarpisan ngêmasi

 

  • kadya wêsi abang pinalu sumêbar
  • mangkana rahnya patih
  • balane wurahan
  • sakarine kang pêjah
  • balêdug mawur angisis
  • angungsi kitha
  • wanara samya ngungsir

Sementara itu para denawa, berteriak ketakutan. Pimpinan mereka sudah dikalahkan . Lari tunggang langgang mereka kembali ke beteng pertahanan. Jenasah Patih Prahasta segera dibawa ke dalam beteng untuk diupacara sebagai penghormatan seorang patih sebuah negara yang besar. Biasanya sang dalang menggambarkan kondisi jenasah Patih Prahasta dengan suluk berikut.

  • Surem-surem diwangkara kingkin,
  • lir mangaswa kang layon,
  • dennya ilang memanise,
  • wadanira layu,
  • kumel kucem rahnya meratani,
  • marang saliranipun,
  • melas dening ludira kawangwang
  • nggana bang sumirat, O —

Terasa teriris hati hati Dasamuka bahwa perang ini sekarang sudah membawa korban pamannya sendiri. Tetapi, meskipun demikian dia tidak ingin mundur sedikit pun.

TANCEP KAYON

Barangsiapa menurutkan hawa nafsu, maka cahaya kebenaran akan tertutup dan penyesalan dan duka cita akan segera datang.