Wayang Beber Jagong 10 “Kisah Pengorbanan, Perseteruan, dan Harapan”
WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) -Tri Hartanto, seorang pegiat budaya yang aktif melestarikan seni tradisional Wayang Beber, saat ini menerima hibah dana Indonesiana melalui program Dana Kebudayaan Pemerintah Melalui Masyarakat (DKPM).
Dalam rangka memaksimalkan pelestarian dan edukasi budaya, ia menjalin kerja sama strategis dengan Museum Song Terus. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya melestarikan Wayang Beber salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang perlu dijaga dan dilindungi keberadaannya.
Dalam kegiatan ini, kamu akan mendapat pengalaman langsung tentang dunia Wayang Beber mulai dari proses pembuatan, teknik pewarnaan, hingga bagaimana pementasannya, bersama para pengajar yang ahli di bidangnya.
📅 Tanggal: Rabu, 11 Juni 2025
⏰ Waktu: 08.00 WIB – selesai
📍 Tempat: Galeri Temporer, Museum Song Terus
Kesempatan yang baik jurnalis berdasarkan sumber Buku Wayanag Beber Tawang alun, Donorojo, Wayang Beber Tawang Alun, karya agung dari Sungging Prubengkara, merupakan warisan seni yang luar biasa. Karya ini tidak hanya mengisahkan lakon Panji, tetapi juga merekam berbagai peristiwa bersejarah pada zamannya. Dengan candra sengkala “Gawe Srabi Jinamahing Wong”, gulungan pertama pada jagong keempat memiliki makna mendalam yang saling terhubung dengan jagong ketiga dalam rangkaian ceritanya.
Candra sengkala tersebut melambangkan tahun Jawa 1614 atau 1692 Masehi, digambarkan melalui ilustrasi seorang pria menyentuh wanita penjual serabi di pasar. Tahun ini menandai masa krisis di Kerajaan Mataram Kartasura, di mana campur tangan VOC Belanda memicu konflik internal yang dikenal sebagai Peristiwa Pecinan.
Lakon Joko Kembang Kuning dalam Wayang Beber Tawang Alun menggambarkan tokoh Panji Inukertapati dari Kediri, memperlihatkan keindahan dan nilai-nilai luhur budaya Majapahit yang tetap lestari. Karya ini tidak hanya mencerminkan keahlian artistik Sungging Prubengkara, tetapi juga kebijaksanaannya dalam memadukan seni, spiritualitas, dan sejarah.
Tetenger ini menjadi simbol perjalanan panjang seni tradisional Indonesia sekaligus cerminan dari dinamika sosial-politik masa itu. Meskipun usia wayang beber Tawang Alun sudah sangat tua—dilukis pertama kali oleh Sungging Prubengkara pada akhir era Majapahit dan disempurnakan oleh Sunan Kalijaga—upaya duplikasi karya ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutannya sebagai warisan budaya.
Wayang Beber cerita 10 dalam gulungan 3 dengan alur Cerita Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji menonjolkan kesetiaan cinta sejati yang menjadi inti perjalanan kedua tokoh utama. Walaupun menghadapi berbagai rintangan, mereka tidak pernah menyerah untuk bersatu kembali. Nilai ini mencerminkan pentingnya komitmen dalam hubungan manusia, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Latar Kerajaan Kediri dalam cerita ini menggambarkan pentingnya kebijaksanaan pemimpin dalam mengambil keputusan. Raja Kediri harus memutuskan dengan adil di tengah konflik antara pihak-pihak yang berusaha mendapatkan Dewi Sekartaji. Ini mencerminkan harapan akan keadilan dalam kepemimpinan.
Perjalanan Panji Inu Kertapati penuh dengan tantangan, termasuk persaingan dengan Raden Klana Sewandana. Nilai keberanian ini mengajarkan bahwa menghadapi rintangan dengan kepala tegak dan hati yang teguh adalah kunci keberhasilan dalam kehidupan.
Tokoh-tokoh dalam cerita, seperti Tawangalun dan para pengikut setia, menunjukkan pentingnya solidaritas dan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Janji Raja Kediri kepada siapa pun yang menemukan Dewi Sekartaji menekankan pentingnya penghormatan terhadap janji sebagai nilai moral yang harus dijunjung tinggi. Dalam konteks masyarakat, nilai ini mengajarkan integritas dan kepercayaan.
Cerita 10 terdapat pada gulungan 3 sebagai berikut: Cariyos Gulungan 3 pejagong 10, Raden Klana Sewandana Sewandana ngutus Kebo Lorodan kangge ngalahake Tawangalun saha Jaka Kembang Kuning ingkang sampun dangu nengga rawuhipun Nalanderma saha Ki Demang Kuning sampun ayem awit saking sampun wangsul kanthi selamet.
Dewi Sekartaji menjadi simbol ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan. Sikap ini mengajarkan bahwa ketenangan hati dan pikiran dapat membantu seseorang melalui masa sulit.
Cerita Panji sering menggambarkan latar yang erat dengan alam, seperti hutan, sungai, dan pegunungan. Hal ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan, sebagaimana yang menjadi tradisi masyarakat agraris. Masyarakat agraris yang menjadi landasan bagi Bangsa Indonesia untuk menjadi landasan bagi pembangunan berkelanjutan.
Wayang Beber sebagai media cerita Panji menggambarkan pelestarian seni tradisional. Nilai ini menunjukkan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas suatu bangsa. Seni ini menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang relevan sepanjang masa.
Persaingan antara Raden Klana Sewandana dan Panji Inu Kertapati mencerminkan konflik yang sering terjadi dalam kehidupan sosial. Namun, cerita ini juga mengajarkan bahwa rekonsiliasi dan solusi damai selalu lebih baik daripada permusuhan yang berlarut-larut. Hal ini selaras dengan tradisi masyarakat yang mengutamakan harmoni sosial.
Sumber: Tri Hartanto, Agoes Hendriyanto. (2025). Wayang Beber Tawangalun, Donorojo, Pacitan. Nata Karya: Ponorogo.
