Wayang Beber Jagong 11 Gulungan 3 “Jaka Kembang Kuning Menuju Sayembara di Kediri”
WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) –Tri Hartanto, seorang pegiat budaya yang aktif melestarikan seni tradisional Wayang Beber, saat ini menerima hibah dana Indonesiana melalui program Dana Kebudayaan Pemerintah Melalui Masyarakat (DKPM).
Dalam rangka memaksimalkan pelestarian dan edukasi budaya, ia menjalin kerja sama strategis dengan Museum Song Terus. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya melestarikan Wayang Beber salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang perlu dijaga dan dilindungi keberadaannya.
Dalam kegiatan ini, kamu akan mendapat pengalaman langsung tentang dunia Wayang Beber mulai dari proses pembuatan, teknik pewarnaan, hingga bagaimana pementasannya, bersama para pengajar yang ahli di bidangnya.
Wayang Beber Tawang Alun, hasil karya agung Sungging Prubengkara, merupakan warisan seni yang luar biasa. Karya ini tidak hanya mengisahkan cerita Panji tetapi juga menjadi dokumentasi peristiwa-peristiwa penting pada zamannya. Dengan candra sengkala “Gawe Srabi Jinamahing Wong”, gulungan pertama pada jagong keempat memiliki arti mendalam yang berhubungan erat dengan jagong ketiga dalam kisah tersebut.
Candra sengkala ini melambangkan tahun Jawa 1614 atau 1692 Masehi, yang digambarkan melalui adegan seorang pria menyentuh wanita penjual serabi di pasar. Tahun ini mencatat masa kritis di Kerajaan Mataram Kartasura, ketika intervensi VOC Belanda memicu konflik internal yang dikenal sebagai Peristiwa Pecinan.
Lakon Joko Kembang Kuning dalam Wayang Beber Tawang Alun menampilkan kisah Panji Inukertapati dari Kediri, yang merefleksikan keagungan budaya Majapahit dengan nilai-nilai luhur yang tetap lestari. Karya ini tidak hanya menonjolkan kemampuan seni Sungging Prubengkara tetapi juga menunjukkan kebijaksanaannya dalam menyatukan seni, spiritualitas, dan sejarah.
Tetenger ini menjadi bukti perjalanan panjang seni tradisional Indonesia sekaligus mencerminkan perubahan sosial-politik yang terjadi pada masanya. Usia Wayang Beber Tawang Alun yang sudah sangat tua diciptakan pada akhir era Majapahit dan disempurnakan oleh Sunan Kalijaga membuat upaya duplikasi menjadi sangat penting untuk melestarikan warisan budaya ini bagi generasi mendatang.

Jika kita merujuk pada cerita 11 gulungan 3 sebagai berikut: Nalanderma paring pawarta bilih seserahan sampun dipunatampi kaliyan Retna mindaka, Jaka Kembang Kuning polahipun seneng ngantos joged-joged. Nalanderma ugi paring pawarta kahanan ingkang kadadosan wonten ing Kediri bilih raja Kediri ngersakaken perang tandhing saha ingkang menang saged dados garwanipun Dewi Sekartaji. Jaka Kembang Kuning lajeng bidhal dhateng Kediri saha lumebet wonten ing papan sayembara menika.
Cerita 11 Gulungan 3, menceritakan abdi dalem Panji yakni Nalanderma membawa kabar penting bahwa persembahan yang mereka bawa telah diterima dengan baik oleh Retna Mindaka. Kabar ini disambut dengan sukacita oleh Jaka Kembang Kuning, yang menunjukkan rasa gembiranya dengan menari-nari penuh semangat.
Namun, suasana berubah ketika Nalanderma melanjutkan ceritanya tentang situasi di Kediri. Raja Kediri telah mengumumkan sebuah sayembara besar, di mana pemenangnya akan mendapatkan kehormatan menjadi pasangan Dewi Sekartaji. Sayembara ini berupa pertarungan yang akan menentukan siapa yang layak menjadi suami Dewi Sekartaji.
Semangat Jaka Kembang Kuning yang tidak lain adalah nama samaran Inu Kertapati atau Panji Asmorobangun membara setelah mendengar kabar ini. Dengan tekad yang kuat, ia segera mempersiapkan diri dan berangkat menuju Kediri untuk ikut serta dalam sayembara tersebut. Ia memasuki arena dengan penuh keyakinan bahwa dirinya mampu memenangkan hati Dewi Sekartaji dan memenuhi harapan Raja Kediri.
Cerita ini tidak hanya menggambarkan kegembiraan dan tekad Jaka Kembang Kuning tetapi juga menyiratkan nilai-nilai seperti keberanian, tekad yang kuat, dan semangat untuk menghadapi tantangan demi meraih cinta dan kehormatan. Jaka Kembang Kuning dengan semangat ksatria akan menunjukan cinta seejatinya kepada Dewi Sekartaji Putri Raja Kediri.
Wayang Beber terutama cerita 11 menggambarkan perjuangan anak manusia yang berbeda kasta ataupun pangkat dan derajat naamun dengan kemauan dan keberanian dan kemampuan berusaha untuk memperjuangkannya untuk memperebutkaan cinta sejajti dari Dewi Sekartaji.
Wayang Beber Tawangalun Donorojo sebagai medium penceritaan menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan manusia sepanjang masa, bahwa perjuangan demi cinta sejati dan penghormatan terhadap tradisi adalah sesuatu yang patut dihargai dan dijunjung tinggi. Bahwa sifat ksatria harus selalu ditanamkan kepada generasi muda saat ini.

Sumber: Tri Hartanto, Hendriyanto. 2025. Wayang Beber Tawangalun. Nata Karya: Ponorogo
