Belik Dadung Melati: Warisan Sakral di Tanah Mojo Punung Pacitan yang Tak Lekang Waktu

Belik Dadung Melati: Warisan Sakral di Tanah Mojo Punung Pacitan  yang Tak Lekang Waktu
Amat Taufan
SHARE

PRABANGKARANEWS, PACITAN – Di sebuah kawasan tenang di Pacitan, tepatnya di Dusun Mojo, Desa Punung, terdapat sebuah mata air kuno yang tetap memancarkan kejernihan meski zaman terus berganti. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Belik Dadung Melati sumber air yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual.

Air bening yang terus mengalir dari belik ini menyimpan kisah legendaris tentang pelarian dua bangsawan Majapahit: Dewi Sekartaji (Shri Ratu Suryo) dan Raden Panji (Pangeran Kalak), yang diperintahkan Prabu Brawijaya untuk membangun kerajaan baru di wilayah selatan. Dalam pelariannya, mereka menetap di wilayah Mojo dan hidup bersama masyarakat, menyamar sebagai rakyat biasa dan menjadi anak angkat Ki Ageng Mojo, seorang tokoh spiritual yang dihormati.

Baca Juga  Memahami Komunikasi dalam Masyarakat Multikultural Indonesia

Dewi Sekartaji diyakini sering menggunakan air dari belik ini untuk mandi dan kebutuhan harian. Keunikan belik ini terletak pada lapisan tanah di bawahnya yang memiliki dua warna berbeda, yakni hitam dan putih, yang oleh masyarakat disebut sebagai “Siti Ireng”. Simbol ini diyakini sebagai lambang kemurnian dan kekuatan spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Saat ini, Belik Dadung Melati dianggap sebagai situs sakral. Banyak warga percaya bahwa airnya memiliki khasiat untuk penyembuhan dan penyucian. Tak jarang, belik ini menjadi tujuan spiritual bagi masyarakat yang mencari keberkahan dan ketenangan.

“Tempat ini bukan hanya peninggalan sejarah, tapi juga warisan nilai kehidupan,” ungkap  penjaga situs. “Kami merawatnya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan kearifan lokal.”

Baca Juga  Gunung Padang: Benarkah Peradaban Tertua Dunia Berasal dari Indonesia?

Masyarakat pun berharap agar Belik Dadung Melati bisa diakui sebagai situs budaya resmi, mengingat nilai sejarah dan spiritual yang dimilikinya. Bagi warga Dusun Mojo, belik ini bukan sekadar sumber air, melainkan peninggalan hidup dari masa lalu yang masih terus memberi makna hingga kini. (Amat Taufan)