Selamat Jalan, Kejelekan: Sebuah Renungan di Pasar Takdir
PRABANGKARANEWS – Di tengah riuh gamelan yang mengalun lirih, pasar menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa yang telah lama terpisah oleh waktu dan takdir. Jaka Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji, dua insan yang terjalin oleh cinta dan pengorbanan, bertemu dalam senyap. Bukan di istana, bukan di medan perang, melainkan di sebuah pasar — ruang sosial yang menyatukan manusia dari berbagai arah tujuan, dengan niat baik, buruk, bahkan yang penuh kedok terpuji.
Pasar, dalam cerita Wayang Beber, bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah metafora perjalanan hidup. Di sanalah semua bertemu: antara harapan dan keraguan, antara pencarian dan kelelahan, antara terus melangkah atau memilih kembali ke asal. Di tengah kerumunan, manusia diuji—apakah akan membawa pulang kebaikan, atau justru menyemai benih kejelekan?
Jaka Kembang Kuning, dengan niat suci, menyusup ke tengah pasar, bukan untuk berdagang, melainkan memperjuangkan cinta yang direnggut kekuasaan. Ia menyamar, memainkan karawitan, melantunkan lagu-lagu rindu yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang terikat kuat. Di antara para penonton, Dewi Sekartaji menangkap sinyal itu—bahwa lelaki yang ia nanti telah tiba, meski dalam wujud yang berbeda.
Namun pasar tidak selalu ramah. Ia juga tempat topeng-topeng dilelang, tempat bisik-bisik kekuasaan bertransaksi. Di sanalah Raden Klana Sewandana, simbol dari kerakusan dan ambisi, mengintai. Maka cinta harus tetap menjadi rahasia. Dalam keramaian, keduanya memilih diam. Karena kadang, diam adalah bentuk keberanian tertinggi.
Dan seperti pasar yang menjadi persimpangan, cerita ini juga menawarkan pilihan besar: apakah akan terus berjalan atau kembali pulang?
Di sinilah letak makna terdalamnya:
“Selamat jalan, kejelekan. Aku telah sampai di pasar. Aku akan kembali. Kembali ke asal—sebagai manusia, sebagai khalifah di muka bumi, yang diciptakan bukan untuk mengumbar nafsu, tapi untuk merawat kehidupan. Bukan untuk menaklukkan cinta dengan kekuasaan, tapi untuk menjaga cinta dengan keikhlasan.”
Pasar telah menjadi tempat berpaling dari kejahatan dan kembali kepada fitrah. Jaka Kembang Kuning tak hanya menemukan kekasihnya, tapi juga menemukan dirinya. Dan kita, para penonton kehidupan, diundang untuk merenung: ketika hidup membawa kita pada pasar pilihan, akankah kita lanjut menyesat, atau pulang dengan membawa cahaya?
Karena pada akhirnya, pasar adalah tempat ujian, dan rumah adalah tempat pertaubatan.
