Dluwang Pulang dan Ngrembaka: Semangat Gayuh Styono untuk Ponorogo
PRABANGKARANEWS, PRACIMANTORO – Kembali berproses bersama sahabat lama, Gayuh Styono, M.Sn (@kriy_art) dosen Kriya Seni di ISI Surakarta berkunjung ke Balai Pesunggingan Pracimantoro, Wonogiri Sabtu (12/7/25).
Faris Wibisono, S.Sn alumni ISI Surakarta ketemu sabat lama selalu menghadirkan obrolan yang penuh semangat dan makna. Kepedulian beliau terhadap tanah kelahirannya, Ponorogo, sungguh luar biasa. Setiap percakapan kami nyaris tak pernah lepas dari topik yang sama: kertas dluwang, warisan tradisional Nusantara yang kian langka namun sarat nilai sejarah.
Gayuh memiliki cita-cita besar agar tradisi pembuatan kertas dluwang dapat kembali hidup di Ponorogo. Tak banyak yang tahu bahwa desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo, pada masa Majapahit pernah menjadi sentra produksi kertas dluwang. Sayangnya, sejarah itu mulai terlupakan oleh generasi masa kini.
Kini, semangat pelestarian itu kembali menyala. Melalui pelatihan pembuatan kertas dluwang yang digelar di Tegalsari, Gayuh berupaya menghidupkan kembali warisan yang nyaris sirna — menjadikannya sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang tak ternilai harganya.
Maturnuwun, Gayuh, telah mampir dan membagi semangat. Semoga pelatihan ini menjadi awal dari perjalanan besar: menjadikan Tegalsari sebagai pusat kebangkitan Dluwang Nusantara.
Dluwang pulang. Dluwang ngrembaka.
