Dodo Peksi Masjid Tiban: Jejak Spiritualitas dan Peradaban Islam di Arjowinangun
PRABANGKARANEWS, PACIAN – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri. Di balik modernisasi bangunan Masjid Tiban di Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan, tersembunyi sebuah artefak budaya dan spiritual yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Islam dan seni ukir Jawa: Citus Dodo Peksi atau dikenal pula sebagai Dodok Wesi.
Kayu jati berukir halus sepanjang 282 cm dengan lebar 24 cm dan ketebalan 13 cm ini bukan sekadar elemen arsitektur lama. Ia adalah warisan dari masa ketika Eyang Joyoniman, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta di bawah pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II, mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah di tanah Pacitan. Dengan gelar Kanjeng Jimat, beliau dipercaya menjaga pusaka keraton dan diberi kehormatan menerima kayu jati pilihan dari Sri Sultan.
Kayu-kayu tersebut, sebanyak empat potong, diukir dengan motif bunga khas keraton Yogyakarta—corak halus nan sakral yang tidak sekadar indah, namun menyimpan nilai filosofis mendalam. Pada bagian tengah terdapat dudukan gantungan lampu berbentuk kembang cempaka—lambang kemurnian dan keteguhan niat spiritual menuju Gusti Allah SWT.
Lebih dari sekadar bentuk fisik, masyarakat meyakini bahwa dalam citus itu tersimpan kalimah tauhid yang tersemat secara gaib: La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Doa yang diyakini sebagai pelindung dan penolak bala bagi lingkungan sekitar, serta simbol kekuatan spiritual dan budaya Islam yang pernah berjaya di Pacitan.
Meskipun masjid telah direnovasi sesuai zaman, citus tersebut masih dijaga dengan penuh hormat—warisan yang tidak hanya bercerita tentang ukiran kayu, tetapi juga tentang kedalaman iman, kecintaan pada ilmu, dan kearifan lokal yang membaur dengan spiritualitas Islam.
Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun teng engsun, keluarga, rakyat, lan penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bumi langit sak isinipun.
Penulis: Amat Taufan
