“Ngopi Asyuro”: Meresapi Hikmah Adat dan Adab di Bulan Introspeksi
PRABANGKARAANEWS, Pacitan – Kamis pagi (10/7/2025) di pojok sederhana warung kopi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pacitan, aroma kopi bercampur hikmah menghiasi udara. Bukan sekadar ngopi biasa, obrolan santai kali ini menjadi ruang perenungan mendalam menyambut Bulan Asyuro, bulan yang diyakini penuh makna dan nilai spiritual, baik dalam dimensi keagamaan maupun kebudayaan lokal.
Tiga sosok Amat Taufan, Bambang Mahendra, dan Agoes Hendriyanto larut dalam diskusi ringan namun sarat makna. Mereka tidak sekadar membahas sejarah atau ajaran tekstual, tapi lebih pada bagaimana Bulan Asyuro menjadi cermin untuk menata hubungan vertikal dengan Sang Khalik dan hubungan horizontal antar sesama, khususnya dalam konteks kearifan lokal Pacitan.
Amat Taufan membuka diskusi dengan petuah khas Jawa:
“Ojo Lali lan Nglali, Ojo Dumeh. Daksio marang sepodo, lan Luput king kudangan, mrucut king gendongan.”
Sebuah pengingat agar manusia tidak lupa pada asalnya, tidak melupakan sesama, tidak merasa lebih dari yang lain, serta siap menghadapi jatuh dan bangun kehidupan dengan hati yang lapang.
“Bulan Asyuro adalah waktu terbaik untuk mawas diri. Kita ini mahluk paling sempurna, tapi justru sering lupa pada jati diri dan asal muasal kebajikan,” ujar Amat Taufan dengan nada lirih namun penuh keyakinan.
Diskusi bergulir ke ranah budaya. Bambang Mahendra menyoroti pentingnya menjaga nilai adab dan adat sebagai bagian dari spiritualitas masyarakat Pacitan. Di tengah gempuran zaman, kata dia, masih banyak ruang untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang turun-temurun, termasuk melalui peringatan-peringatan di bulan Muharam. Apalagi ingat ajaran-ajaran KH Toyyib Hasan Ba’bud yang akrab dipanggil Abah Toyyib merupakan salah figur kiai yang sangat sederhana.
Agoes Hendriyanto menambahkan bahwa Bulan Asyuro bukan hanya momentum ritual, tapi juga ruang kontemplatif. “Kita bisa melihat ulang perjalanan hidup, bagaimana hubungan kita dengan Gusti ALLAH SWT dan dengan sesama. Di situlah pentingnya kembali ke nilai-nilai lokal yang memperkuat jati diri,” ungkapnya.
Obrolan di sudut warung kopi itu menjadi refleksi bahwa makna hidup seringkali tersaji dalam kesederhanaan. Bahwa spiritualitas tidak melulu soal ritual, tapi tentang bagaimana hidup dijalani dengan sadar, rendah hati, dan tahu diri.
“Bulan Asyuro pun dimaknai sebagai bulan pembuka dan penutup: awal tahun Hijriah yang mendorong niat baik, dan akhir dari sikap lupa diri yang perlu ditinggalkan. Sebuah siklus harapan dan perenungan dalam tradisi yang hidup di hati masyarakat Pacitan. Jika hati nurani memang tidak setuju maka katakan tidak setuju. Terkait itu mempengaruhi keberadaan materi atau duniawi pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Agar roh atau jiwa akan krasan di fisik manusia,” tutup Agoes.
