Rontek: Irama Bambu Penjaga Sahur dari Pacitan yang Terus Berdetak
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto (*)
Setiap kali bulan Ramadhan tiba, malam di Pacitan terasa lebih hidup. Suara “thek-thek-thor” yang khas menggema dari sudut-sudut desa, menyusuri jalan-jalan kecil, membangunkan warga yang hendak bersantap sahur. Inilah Rontek, musik tradisional yang bukan hanya sekadar bunyi, melainkan juga warisan budaya yang masih terus bertahan di tengah derasnya arus zaman.
Bermula dari Ketoprak dan Kenthongan
Tak ada yang tahu pasti kapan Rontek lahir. Namun menurut Hari (60), warga Sirnoboyo, geliat kesenian rakyat mulai terasa kuat sejak masa kepemimpinan Bupati Tedjo Sumarto sekitar tahun 1966-an. Saat itu, pertunjukan ketoprak dan wayang orang marak diadakan, meski dengan alat musik sederhana karena keterbatasan akses terhadap gamelan.
Sebagai gantinya, warga memanfaatkan benda-benda sekitar yang bisa menghasilkan bunyi. Dari kreativitas itulah kemudian lahir alat musik sederhana dari bambu bernama tetek, dinamai dari suara khasnya: “tek… tek… tek.”
Tetek: Musik dari Bambu yang Berjiwa
Tetek tidak sekadar alat musik, ia adalah ekspresi kolektif. Dibuat dari bambu—terutama jenis ori dan betung—yang mudah ditemukan di Pacitan, alat ini menjadi simbol gotong royong remaja masjid saat Ramadhan. Mereka bahu-membahu membuat tetek, melubangi bambu, menyesuaikan nada, dan mengalungkannya ke leher untuk latihan.
Latihan dilakukan sore hari menjelang buka puasa, dan malamnya mereka akan berkeliling kampung, membangunkan warga untuk sahur dengan irama yang rancak tapi tetap menyejukkan.
Dari Ronda ke Rontek
Nama Rontek sendiri merupakan akronim dari kata “ronda” dan “thek-thek”. Kegiatan ronda malam dengan bunyi thek-thek dari bambu menjadi cikal bakal nama tersebut. Seiring waktu, alat musik pendukung seperti kendang, kenong, gong, dan seruling mulai ditambahkan untuk memperkaya irama.
Namun satu yang tak berubah: semangat kebersamaan dan kegembiraan dalam menjaga tradisi.
Seni Rakyat yang Menjadi Populer
Kini, Rontek bukan lagi hanya soal membangunkan sahur. Ia telah menjelma menjadi seni pertunjukan yang populer. Pemerintah Kabupaten Pacitan bahkan rutin menggelar Festival Rontek, menjadikannya sebagai ajang kreativitas dan kebanggaan daerah.
Setiap kelompok berlomba menampilkan aransemen terbaik, lengkap dengan kostum, koreografi, dan variasi alat musik yang memukau. Rontek tak lagi sekadar tradisi—ia menjadi identitas budaya yang mengakar dan berdaya saing.
Antara Tradisi dan Tantangan Zaman
Meski terus berkembang, tidak sedikit yang khawatir akan keaslian seni Rontek. Modernisasi memang membawa warna, tapi juga risiko komersialisasi berlebihan dan hilangnya nilai-nilai lokal. Seperti dikatakan oleh Suswanto (2016), absennya perlindungan terhadap orisinalitas rontek bisa membuka celah plagiasi dan penyimpangan makna budaya.
Namun jika dikelola dengan bijak, Rontek bisa menjadi contoh bagaimana budaya lokal bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.
Harmoni dari Pacitan untuk Indonesia
Rontek adalah bukti bahwa musik tak selalu lahir dari instrumen mahal atau panggung mewah. Kadang ia lahir dari bambu sederhana, dari semangat remaja yang ingin membangunkan tetangganya untuk sahur, dan dari kerinduan masyarakat akan harmoni yang membumi.
Di tengah malam Ramadhan, ketika sebagian dunia masih terlelap, suara thek-thek-thek itu akan tetap berdetak—mengingatkan kita bahwa kebudayaan hidup karena dirawat, bukan hanya dikenang. (Sumber: Indartato. (2021). Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan. Nata Karya: Ponorogo)
(*) Akademisi STKIP PGRI Pacitan
