Sarjana Mendaftar PPSU: Potret Persaingan dan Realita di Tengah Kota
PRABANGKARANEWS, Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk ibukota, sebuah fenomena mencuri perhatian: ratusan orang berlomba-lomba menjadi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Tidak hanya warga biasa, para pemegang gelar sarjana pun turut ambil bagian dalam persaingan ketat ini.
Di Kelurahan Serdang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, sebanyak 127 orang mendaftar untuk memperebutkan satu posisi kosong petugas PPSU. Salah satunya adalah Nabila (27), lulusan S1 Akuntansi dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Yang penting kerja dulu, bisa bantu keluarga, dan tetap produktif,” ujar Nabila, singkat, dikutip dari @Antaranews Jum’at (11/7/25).
Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur. Sebanyak 326 pendaftar bersaing untuk mengisi enam lowongan PPSU. Beberapa dari mereka bahkan masih aktif menempuh pendidikan tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai petugas PPSU—yang dulunya kerap dipandang sebelah mata—kini menjadi incaran banyak kalangan. Dengan sistem kontrak yang jelas, penghasilan tetap, dan jaminan sosial, profesi PPSU menjadi pilihan realistis di tengah sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai bidang studi.
Namun, di balik angka-angka itu, tersembunyi cerita tentang realitas ekonomi dan tantangan dunia kerja pasca-pandemi. Gelar sarjana bukan lagi jaminan untuk mendapat pekerjaan sesuai harapan. Banyak lulusan perguruan tinggi harus menurunkan ekspektasi demi bisa tetap bertahan.
Proses rekrutmen PPSU yang berlangsung pada Juli 2025 ini menjadi cerminan kondisi pasar kerja saat ini—persaingan ketat, pilihan terbatas, dan kebutuhan mendesak untuk mendapatkan penghasilan. Lebih dari sekadar pekerjaan, bagi para pendaftar seperti Nabila dan ratusan lainnya, ini adalah soal harga diri dan bertahan hidup di kota yang tak pernah tidur.
