Batik Tiga Negeri: Jejak Warna, Jejak Budaya, Jejak Sejarah
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd. (*)
(*) Dosen STKIP PGRI Pacitan
Di sebuah sudut Lasem yang tenang, sehelai kain menjadi saksi bisu perjalanan budaya yang tak biasa. Batik Tiga Negeri — namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian generasi muda, tapi bagi pecinta batik sejati, ia adalah mahakarya lintas budaya yang sarat nilai historis dan filosofi. Bukan sekadar kain, tapi kisah tentang warna, perjalanan, dan harmoni.
Lasem, daerah di pesisir utara Rembang, telah lama dikenal sebagai titik temu berbagai etnis: Jawa, Tionghoa, dan Belanda. Harmoni inilah yang kemudian melahirkan batik dengan tiga warna khas: merah dari Lasem, biru dari Pekalongan, dan cokelat sogan dari Solo/Yogyakarta. Masing-masing warna bukan hanya soal estetika, tapi membawa jiwa budayanya sendiri — merah sebagai simbol kebahagiaan dalam budaya Tionghoa, biru dari pengaruh Eropa, dan cokelat sogan yang menjadi napas budaya Mataraman.
Batik 3 negeri bukan hanya karya cpta karya dan rasa manusia namun sebuah alkulturasi tiga budaya menjadi satu. Ksatuan akan semakin menguatkan dalam menjadi suatu tujuan. Berdasarkan garis, warna, serta goresan pada kain engandung makna dan arti yang sangat mendalam.
Jika melihat sejarahnya untuk proses pencelupan setelah dibatik oleh ketiga budaya yang berbeda melalui perjalanan panjang penuh dedikasi. Dulu, batik Tiga Negeri secara harfiah melalui proses pencelupan di tiga kota berbeda, karena saat itu dipercaya bahwa air dan mineral tiap daerah menentukan kualitas warna.
Bisa kita bayangkan proses penciptaan karya batik 3 negeri, satu lembar kain harus menempuh ratusan kilometer dan berbulan-bulan waktu dari Lasem ke Pekalongan lalu ke Solo sebelum siap menjadi karya yang dikenakan.
Proses rumit ini menjadikan Batik Tiga Negeri sebagai batik mewah di awal abad ke-20, digunakan oleh saudagar kaya, tokoh keturunan Arab, Belanda, hingga hadiah pernikahan kaum bangsawan. Tapi nilainya tak hanya di harga — ia adalah cermin dari akulturasi budaya yang nyaris tak tergantikan.
Tak hanya warnanya yang simbolik, motif batik ini pun mencerminkan kekayaan budaya: burung hong dan naga dari Tionghoa, bunga tulip dari Eropa, hingga kawung dan parang dari Jawa. Kain ini bukan sekadar dipakai, tapi dicerna, dibaca, dirasa.
Namun, sejarah Batik Lasem tak selalu gemilang. Hingga awal 2000-an, industri batik Lasem didominasi oleh etnis Tionghoa dan cenderung tertutup. Ma’shum, yang awalnya tak memiliki latar belakang membatik, memulai perjalanannya usai mengikuti pelatihan dari Disporapar Jawa Tengah pada 2005. Bermodal semangat dan idealisme, ia merintis regenerasi pembatik muda — anak-anak dari keluarga pembatik yang diajaknya bergabung dalam usaha bersama.
Perjuangannya tak sia-sia, mengutip jatengprov.go.id, tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Rembang mulai memasukkan batik Lasem ke dalam kurikulum sekolah sebagai muatan lokal. Desa-desa seperti Babagan dan Jeruk dihidupkan kembali sebagai sentra batik. Kini, Komunitas Batik Lasem memiliki lebih dari 80 pembatik aktif.
Batik Tiga Negeri karya 3 buadaya yang berbeda antara Lasem (Rembang)-Solo-Pekalongan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Apalagi proses pencelupan dengan 3 kota dengan air dan warna yang berbeda. Penyelesaian batik 3 negeri dari segi sejarahnya menempuh perjalanan yang sangat jauh, untuk hasilkan mahakarya batik 3 negeri yang adi luhung pada masanya.
Di tengah arus cepat zaman, Batik Tiga Negeri mengajarkan satu hal: bahwa keberagaman bukan sesuatu yang dipertentangkan, melainkan dirajut bersama menjadi kekuatan. Ia adalah lambang toleransi, kerja keras, dan warisan budaya yang lahir dari kesadaran bahwa keindahan sejati datang dari kebersamaan.
