Hamemayu Hayuning Sarira: Ketika Seni, Spiritualitas, dan Piwulang Jawa Menyatu dalam Ruang Rasa

Hamemayu Hayuning Sarira: Ketika Seni, Spiritualitas, dan Piwulang Jawa Menyatu dalam Ruang Rasa
Dr. Hajar Pamdhi, M.A (Hons) bersama Dr, Agoes Hendriyanto, M.Pd
SHARE

Oleh: Dr. Hajar Pamadhi, M.A (Hons)

YOGYAKARTA – Di tengah riuhnya seni kontemporer yang kerap berpacu dengan kebaruan bentuk, hadir satu pameran yang justru mengajak kita menengok ke dalam — kepada inti diri, hakikat penciptaan, dan arah spiritualitas manusia. Pameran tunggal bertajuk “Hamemayu Hayuning Sarira” karya Hj. R.Ngt. Susilawati Susmono bukan hanya sekadar perayaan ekspresi artistik, tetapi juga buah dari perenungan mendalam atas ajaran tauhid dan kearifan lokal Jawa.

Dalam khazanah pemikiran Jawa, hamemayu hayuning sarira berarti merawat dan memperindah diri — bukan hanya secara lahiriah, tetapi lebih-lebih dalam dimensi batiniah dan spiritual. Di sinilah pijakan utama pameran ini dibangun, melalui jalinan antara piwulang lan piweling (ajaran dan nasihat), yang diejawantahkan dalam dua bentuk: ekspresi intelektual dan ekspresi kreatif.

Baca Juga  Tim Transformasi Bentukan Kapolri Ditolak Presiden, Wilson Lalengke: Semestinya Listyo Mundur Saja

Ekspresi intelektual tampak melalui pemikiran tauhid yang mendalam: Pengetahuan Tauhid, Ilmu Tauhid, dan Jiwa Tauhid. Ketiganya bukan sekadar diskursus keilmuan, melainkan napas kehidupan dalam laku spiritual sehari-hari. Sementara itu, ekspresi kreatifnya hadir dalam berbagai medium: seni lukis, sastra puisi, musik (termasuk aransemen karya bersama maestro Idris Sardi), hingga karya kriya seperti lukis tas, keramik, batik, ornamen tekstil, dan iluminasi. Ini adalah pameran yang bukan hanya untuk dilihat, tapi juga dirasakan — karena setiap karya mengandung dimensi rasa dan makna.

Karya tulis Susilawati yang bertajuk Hakikat Yunus, Wasiat Rasulullah SAW Sebelum Wafat, dan Pedoman Menjalani Wasiat Rasulullah SAW (buku ke-120, 121, dan 122) menjadi bukti bahwa seni dan ilmu bisa tumbuh dari akar spiritualitas yang sama. Tiga naskah tersebut telah dipublikasikan dalam Jurnal Holistik Kehidupan (JHK), membentangkan ruang dialog antara iman, akal, dan rasa. Pembukaan pameran besuk Sabtu (2/8/2025) di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.  Kegiatan akan dibuka oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas Wakil Ketua DPD RI jam 09.00 – 12.00 WIB.

Baca Juga  Pelaku Kecurangan Perdagangan BBM Keuntungan 7 Milyar, Ditangkap Polda Banten

Kurator Hajar Pamadhi mencatat bahwa terdapat korelasi positif antara ekspresi intelektual dan proses penciptaan seni. Di satu sisi ada ruang naqli (pengalaman spiritual dan imajinasi non-akal), di sisi lain aql (nalar) yang menghasilkan apa yang disebut sebagai spiritual art — seni yang mengandung getar jiwa dan arah ruhani.

Tema Hamemayu Hayuning Sarira sendiri menjadi simbol dari perjalanan batin seorang manusia menuju ngudi kasampurnan (upaya mencapai kesempurnaan diri), yang akhirnya bermuara pada janma utama — pribadi luhur yang hidup selaras dengan tuntunan Ilahi dan tanggung jawab sosial.

Pameran ini bukan hanya ruang estetika, tetapi juga tapak laku spiritual yang mengundang kita semua untuk bertanya: Sudahkah kita menjaga dan memperindah diri, bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi untuk harmoni semesta?