Savitri dan Ki Tukas: Menjaga Nyala Tari Topeng di Tengah Arus Zaman

Savitri dan Ki Tukas: Menjaga Nyala Tari Topeng di Tengah Arus Zaman
SHARE

PRABANGKARANEWS – Dalam rentang sejarah panjang seni Jawa, Tari Topeng menjadi salah satu mahakarya budaya yang telah bertahan lebih dari 12 abad. Bukan sekadar tarian, ia adalah perpaduan antara musik, gerak, lakon, dan filosofi yang mengalir dalam kehidupan para pelakunya. Di tengah arus perubahan zaman, dua nama—Savitri dari Losari, Cirebon, dan Ki Tukas dari Klaten—menjadi simbol keteguhan hati dalam menjaga nyala seni ini agar tidak padam, dilansir dari Ullensnalu Selasa (12/8/25).

Savitri: Penyambung Obor dari Losari

Lahir pada 1927, Savitri tumbuh di tengah gemblengan seni sejak usia dini. Pada umur sembilan tahun ia sudah piawai menabuh gamelan, menari, dan berlakon. Namun, jalan hidup membawanya meninggalkan kampung halaman dan panggung tari setelah menikah muda. Tiga dekade kemudian, pada 1974, usai berpisah dengan suami, Savitri kembali ke Losari dan memutuskan untuk meneruskan jejak ayahnya, Sumitra atau Ki Mitra, dalam seni Topeng Cirebon.

Baca Juga  KPK, Pernyataan Ade Puspita Putri dari Rahmat Effendi Soal ‘Kuning’ Sedang Diincar Bisa Bikin Gaduh

Dekade 1980-an menjadi titik penting. Savitri bersama saudaranya membentuk Sanggar Purwa Kancana, mewariskan keahlian tari kepada generasi muda. Tak hanya mengajar, ia juga berinovasi—memadatkan durasi pementasan, menjalin kerja sama dengan pihak akademis dan non-akademis, serta membuka ruang regenerasi. Usahanya mendapat apresiasi media nasional, yang menyebutnya sebagai “Penyambung Obor Kesenian Topeng Losari”.

Ki Tukas: Maestro Topeng Dalang Klaten

Ki Tukas Gondo Sukasno adalah generasi kedua dari keluarga penari topeng Desa Munjungan, Klaten. Ayahnya, Mbah Kuwirara, merupakan pelopor penyebaran Seni Topeng Dalang di daerah itu. Memulai kiprah pada 1942 dengan cara mbarang bersama empat rekannya, Ki Tukas mampu menyederhanakan pementasan yang biasanya memerlukan 10–15 orang.

Baca Juga  Lomba Melukis Tong Sampah Kampanyekan Pelestarian Lingkungan dalam Rangkaian Grebeg Suro 2025 Ponorogo

Perannya paling ikonik adalah sebagai Adipati Klana Sewandana—tokoh Panji yang digambarkan tinggi, besar, dan penuh wibawa. Meski bertubuh sedang, kualitas tarinya menghapus stereotipe itu. Di tangannya, Klana tampil berkarakter: berwibawa namun tetap memancarkan kekuatan dan hasrat yang menakutkan. Hingga akhir hayat pada 13 Maret 2013, Ki Tukas setia pada panggung. Bahkan, ia berwasiat dimakamkan dalam busana lengkap tokoh Klana, dengan topeng di dada dan keris di sisi tubuhnya.

Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan

Kisah Savitri dan Ki Tukas menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi bukan hanya soal mempertahankan bentuk, tetapi juga menyesuaikannya dengan zaman tanpa kehilangan ruhnya. Savitri menghidupkan kembali tari topeng di Losari lewat pendidikan dan inovasi, sementara Ki Tukas menjaga kemurnian karakter seni di Klaten dengan dedikasi penuh.

Baca Juga  Roberto Mancini Puji Perkembangan Timnas Indonesia di Bawah Shin Tae-yong

Di tengah gempuran budaya populer, langkah keduanya menjadi pengingat: warisan leluhur akan tetap hidup jika ada jiwa-jiwa yang bersedia menjadi penjaga, pengembang, dan penyambung obor, dari satu generasi ke generasi berikutnya.