Hari Ibu: Doa yang Tak Pernah Pergi

Hari Ibu: Doa yang Tak Pernah Pergi
SHARE

PRABANGKARANEWS – Tanggal 22 Desember selalu datang dengan sunyi yang berbeda. Di kalender ia tertulis sebagai Hari Ibu, tetapi bagi banyak anak, sosok ibu tak selalu tampak pada hari itu. Ada yang sedang merantau jauh untuk sekolah, bekerja, atau membangun rumah tangga. Ada pula yang hanya bisa menatap layar ponsel, mengirim pesan singkat, atau sekadar menunduk rindu.

Namun ibu sejatinya tidak pernah benar-benar pergi.

Dalam keyakinan, doa seorang ibu tidak pernah terputus. Ia dihijabahi Gusti Allah SWT, diangkat dan disimpan sebagai bekal hidup bagi anak-anaknya. Ketika tangan tak lagi menggenggam, ketika suara tak lagi terdengar, doa ibu tetap mengalir—menyertai langkah anak-anaknya di mana pun berada.

Baca Juga  Update Pasien Dirawat di RS Darurat Wisma Atlet 2 Mei 2020

Bagi anak-anak di perantauan, Hari Ibu sering dirayakan dalam diam. Tak ada pelukan, tak ada masakan hangat di meja makan. Yang ada hanya ingatan: wajah ibu di pagi hari, nasihat sederhana yang dulu sering diabaikan, dan doa-doa lirih yang selalu menyertai kepergian anaknya dari rumah. Doa itu pulalah yang sering menjadi penolong saat hidup terasa berat, saat jalan terasa buntu, saat air mata jatuh tanpa saksi.

Lebih dalam lagi, Hari Ibu juga menjadi ruang rindu bagi mereka yang ibunya telah tiada. Sosok yang dahulu menjadi tempat pulang kini telah kembali ke pangkuan-Nya. Namun kasih ibu tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Doa-doa yang pernah diucapkan ibu semasa hidup menjadi warisan tak ternilai—bekal batin yang terus bekerja dalam diam.

Baca Juga  Sebaran Daerah PSBB: Update 2 Mei 2020

Banyak anak baru menyadari, keberanian yang mereka miliki hari ini, keteguhan hati menghadapi cobaan, dan kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, adalah buah dari doa seorang ibu yang tak pernah lelah menyebut nama anaknya di hadapan Allah SWT.

Hari Ibu bukan hanya tentang bunga, ucapan, atau unggahan di media sosial. Ia adalah pengingat bahwa cinta ibu melampaui jarak, waktu, bahkan kematian. Ia hadir dalam bentuk yang paling sunyi, namun paling kuat: doa.

Maka pada Hari Ibu ini, jika ibu masih ada, doakanlah ia. Jika ibu telah tiada, kirimkanlah doa untuknya. Sebab sejatinya, hubungan antara ibu dan anak tidak pernah terputus—selama doa masih dipanjatkan, dan kasih masih diingat.

Baca Juga  Silaturahmi DPRD Pacitan dan FPPA: Sinergi Media dan Legislatif untuk Pembangunan

Selamat Hari Ibu.

Untuk semua ibu, yang tampak maupun yang telah kembali ke pangkuan-Nya.