Ayah dan Rapor: Tentang Hadir yang Tak Selalu Tampak
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd (*)
(*) Akademisi, budayawan, peneliti
Pagi itu halaman sekolah mulai ramai. Para ibu berdatangan, sebagian menggandeng anaknya, sebagian lagi saling menyapa sambil menunggu giliran menerima rapor. Di sudut lain, tampak beberapa ayah berdiri canggung, rapi dengan kemeja kerja, sesekali melirik jam di pergelangan tangan. Mereka datang bukan sekadar mengambil selembar kertas nilai, tetapi membawa harap, doa, dan rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Gerakan Ayah Mengambil Rapor bukan sekadar simbol kehadiran fisik. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan anak bukan hanya urusan ibu atau sekolah, melainkan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga. Ayah hadir bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai penyangga mental dan teladan kehidupan.
Namun tidak semua ayah berkesempatan berdiri di halaman sekolah itu.
Bagi sebagian ayah, takdir Allah SWT mengharuskan mereka bekerja jauh dari rumah. Ladang penghidupan berada di kota lain, di proyek bangunan, di pabrik, di laut, atau di perantauan yang tak jarang menuntut jarak dan waktu. Mereka meninggalkan rumah bukan karena ingin absen dari kehidupan anak, tetapi justru demi memastikan kehidupan itu tetap berjalan.
Seorang ayah yang bertanggung jawab kerap harus memilih: hadir secara fisik, atau hadir melalui kerja keras yang menjamin kebutuhan keluarga terpenuhi. Dalam sunyi perantauan, doa-doa dipanjatkan agar anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak baik. Ketika rapor dibagikan, sebagian ayah hanya bisa menunggu kabar melalui pesan singkat atau panggilan video—namun rasa bangga dan cemasnya tetap sama.
Ada pula ayah-ayah yang diberi keberuntungan: kedudukan mapan, pekerjaan stabil, dan waktu yang cukup untuk selalu bersama anak dan istri. Mereka bisa mengantar anak ke sekolah, duduk di ruang kelas, mendengar langsung penjelasan guru, dan memeluk anaknya sepulang menerima rapor. Tetapi keberuntungan itu bukan ukuran cinta, melainkan bentuk lain dari takdir.
Sebab bagi ayah yang merantau, ketidakhadiran di sekolah bukan tanda abai, melainkan bukti pengorbanan. Tanpa merantau, kebutuhan anak-anak tak akan tercukupi. Tanpa kerja keras, masa depan yang diharapkan tak akan terwujud.
Gerakan Ayah Mengambil Rapor sejatinya mengajarkan makna yang lebih dalam: bahwa ayah, di mana pun berada, tetap memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Entah dengan hadir di ruang kelas, atau dengan keringat yang jatuh jauh dari rumah, keduanya adalah bentuk cinta yang sama tulusnya.
Karena pada akhirnya, seorang anak tidak hanya mengingat siapa yang mengambil rapornya, tetapi siapa yang berjuang agar ia bisa terus bersekolah dan bermimpi.
