Permintaan Rengginang Melonjak Tajam di Bulan Ruwah, Perajin Kewalahan Penuhi Pesanan
PERABANGKARANEWS, PACITAN – Memasuki bulan Ruwah dalam kalender Jawa, para perajin rengginang di sentra industri rumahan Desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, mengalami lonjakan produksi yang signifikan. Peningkatan ini dipicu oleh maraknya tradisi hajatan pernikahan dan berbagai acara adat menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Lonjakan pesanan mulai dirasakan sejak dua pekan terakhir. Rengginang, camilan tradisional berbahan dasar beras ketan, menjadi menu wajib dalam bingkisan hantaran maupun sajian tamu pada acara pernikahan.
“Sejak awal bulan Ruwah, pesanan naik hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Bu Neneng (60), salah satu perajin rengginang rumahan, saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (14/12/2025).
Meski permintaan meningkat tajam, Bu Neneng mengaku tantangan terbesar justru datang dari proses penjemuran. Selama ini, pengeringan rengginang masih mengandalkan sinar matahari. Cuaca yang tidak menentu membuat waktu pengeringan yang biasanya hanya satu hari bisa molor hingga dua sampai tiga hari.
Untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman, sejumlah perajin mulai memanfaatkan alat pengering sederhana atau tungku pengasapan, agar pesanan tetap terpenuhi tepat waktu tanpa mengurangi kualitas kerenyahan rengginang.
Selain faktor cuaca, kenaikan harga bahan baku juga menjadi perhatian. Harga beras ketan kualitas super dilaporkan mengalami kenaikan tipis seiring tingginya permintaan pasar selama bulan Ruwah. Kendati demikian, Bu Neneng memilih tidak menaikkan harga jual, demi menjaga kepercayaan pelanggan. Ia menyiasatinya dengan memperkecil margin keuntungan serta melakukan efisiensi pada proses pengemasan.
Lonjakan aktivitas ekonomi di sektor kuliner tradisional ini diharapkan dapat bertahan hingga mendekati Hari Raya Idulfitri. Perangkat desa setempat pun berharap momentum musiman ini mampu mendorong UMKM Desa Sanggrahan semakin dikenal luas. Ke depan, produksi rengginang diharapkan tidak hanya bergairah pada bulan Ruwah, tetapi terus berkembang sebagai produk lokal yang lestari dan berdaya saing.
Penulis: Tutut Nurlinda-PBSI STKIP PGRI Pacitan
