330 Miliar Barel Minyak Venezuela dalam Bayang-Bayang AS

330 Miliar Barel Minyak Venezuela dalam Bayang-Bayang AS
Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie. PhD
SHARE

PRABANGKARANEWS – Dunia internasional dibuat terperangah. Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikabarkan ditangkap Amerika Serikat—sebuah peristiwa yang langsung mengguncang peta geopolitik global. Bagi Washington, ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan sinyal keras tentang siapa yang masih memegang kendali di panggung dunia.

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai bahwa Maduro memang telah lama masuk radar utama Amerika Serikat, terutama di bawah kepemimpinan Donald Trump. Menurutnya, ada dua tuduhan besar yang menjadi dasar penangkapan tersebut: perdagangan senjata api ilegal dan keterlibatan dalam jaringan penyelundupan narkotika ke Amerika Serikat.

“Penangkapan ini disambut sorak sorai oleh sekutu-sekutu Amerika seperti Argentina, Ekuador, hingga Israel. Bahkan jutaan rakyat Venezuela pun dikabarkan ikut bersorak karena sosok yang mereka anggap diktator sosialis akhirnya tumbang,” ujar Jerry kepada wartawan, Senin (5/1/2025).

Baca Juga  Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, Akan Memanggil BRIN dan BMKG Terkait Perbedaan Informasi Cuaca

Namun, euforia itu tidak bersifat universal. Di belahan dunia lain, kegelisahan justru menguat. Negara-negara yang selama ini berada dalam barisan kolega Venezuela—mulai dari China, Korea Utara, Kuba, Kolombia, Prancis, hingga Rusia—disebut Jerry merasa terusik oleh langkah agresif Washington.

“Yang paling terpukul tentu Republik Rakyat China, apalagi sejumlah pejabat tinggi Beijing baru saja bertemu dengan Maduro sebelum peristiwa ini terjadi,” katanya.

Dalam perspektif sejarah, Jerry mengingatkan bahwa penangkapan kepala negara oleh Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ia mencatat setidaknya ada empat pemimpin dunia yang pernah ditangkap dan diekstradisi oleh AS: Emilio Aguinaldo (Filipina, 1901), Manuel Noriega (Panama, 1990), Saddam Hussein (Irak, 2003), dan kini Nicolas Maduro.

Baca Juga  Khofifah Indar Parawansa Menerima Penghargaan Top Government Leader for Personal Branding Award 2023

“Ini menunjukkan secara telanjang kekuatan militer Amerika Serikat, khususnya peran pasukan elit seperti Delta Force,” tegasnya.

Konsekuensi politik pun tak terhindarkan. Jerry memprediksi hubungan AS dengan negara-negara pendukung Venezuela akan memburuk. Di dalam negeri Venezuela sendiri, Mahkamah Agung disebut telah mengambil langkah cepat dengan menunjuk Wakil Presiden Dulcy Rodríguez sebagai pengganti Maduro.

Di balik narasi penegakan hukum dan demokrasi, Jerry melihat ada kepentingan strategis yang jauh lebih besar. “Keuntungan paling nyata bagi Trump jika berhasil melakukan take over Venezuela adalah penguasaan sumber daya alamnya,” ujarnya. Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab. Sebagai perbandingan, cadangan minyak Amerika Serikat hanya sekitar 74 miliar barel.

Baca Juga  Jerry Massie; PDIP dan Partai Demokrat Bisa Berkoalisi pada Pilpres 2024

Tak kalah penting, latar belakang politik domestik Maduro juga menjadi sorotan. Pada Pemilu 2024, Maduro disebut kalah dari Edmundo González, namun tetap mempertahankan kekuasaan dengan dukungan militer. Atas berbagai dugaan kejahatan tersebut, pemimpin kontroversial ini disebut berpotensi dijerat empat kali hukuman penjara seumur hidup.

Peristiwa ini menandai satu babak baru dalam sejarah Amerika Latin—babak ketika kekuasaan, hukum, dan kepentingan global bertemu dalam satu titik panas bernama Venezuela.