Pacitan Kota Misteri: Jejak Peradaban dari Zaman Purba, Majapahit, Islamisasi hingga Kolonialisme
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd. (*)
(*) Akademisi, Jurnalis, Budayawan
Pacitan dikenal sebagai salah satu kawasan arkeologi terpenting di Indonesia sejak ditemukannya situs Kali Baksooka di Kecamatan Punung pada tahun 1935 oleh G.H.R. von Koenigswald dan M.W.F. Tweedie. Situs ini mengungkap keberadaan bengkel manusia purba terbesar dari kebudayaan Paleolitikum yang dikenal sebagai Budaya Pacitanian, menandai aktivitas manusia pemburu dan peramu pada masa prasejarah.
Memasuki abad ke-12 hingga ke-15, Pacitan berkembang sebagai bagian dari wilayah budaya Hindu–Buddha yang berafiliasi dengan Kerajaan Majapahit. Tokoh sentral pada masa ini adalah Ki Ageng Buwono Keling yang membuka wilayah selatan (babat alas kidul) dan menetap di Jati, Kebonagung. Pada periode selanjutnya, Islam mulai berkembang di Pacitan melalui peran Ki Ageng Petung (Sunan Siti Geseng), Syekh Maulana Magribi, dan Kyai Ampok Boyo, yang menandai peralihan penting dalam lanskap keagamaan dan sosial masyarakat Pacitan.
Proses Islamisasi tidak berlangsung tanpa konflik. Pertarungan simbolik dan spiritual antara Ki Ageng Petung dan Ki Ageng Buwono Keling berakhir dengan kemenangan pihak Islam, yang kemudian ditandai dengan pembabatan hutan dan pendirian pemukiman baru sebagai tonggak peradaban Islam di wilayah Wengker Kidul. Wilayah Pacitan selanjutnya dibagi secara adat dan spiritual antara tokoh-tokoh perintis Islam tersebut.
Hubungan Pacitan dengan Majapahit juga tercermin melalui peninggalan budaya Wayang Beber di Dusun Karangtalun, Gedompol, yang mengisahkan cerita Panji dari abad ke-14 hingga ke-15. Wayang Beber menjadi bukti kuat kesinambungan tradisi sastra dan seni Jawa klasik di Pacitan.
Pada abad ke-18, nama Pacitan mulai digunakan secara resmi dalam konteks sejarah kolonial, terutama saat Perang Palihan Nagari (1746–1755) melawan VOC. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I, menjadikan Pacitan sebagai wilayah strategis dalam perjuangan gerilyanya. Dari peristiwa inilah muncul asal-usul nama Pacitan yang diyakini berasal dari “pace sak pengetan”, merujuk pada peristiwa pemulihan tenaga Pangeran Mangkubumi setelah meminum ramuan buah pace.
Pacitan kemudian berkembang sebagai wilayah administratif dengan pengangkatan para bupati dan adipati, dimulai dari Setro Ketipo (Setrowijoyo I) hingga masa kolonial Belanda. Dinamika kekuasaan lokal, hubungan dengan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta intervensi kolonial membentuk struktur pemerintahan Pacitan hingga memasuki era modern.
Pasca kemerdekaan Indonesia, Pacitan mengalami transformasi pemerintahan melalui sistem republik, yang berpuncak pada pemilihan kepala daerah secara langsung. Hingga kini, Pacitan dipimpin oleh Bupati Indrata Nur Bayuaji, melanjutkan jejak panjang sejarah wilayah yang sejak awal dikenal sebagai ruang perlawanan, spiritualitas, dan kesinambungan peradaban.
