Pasar Kendaraan Listrik Indonesia Melonjak 49 Persen pada 2025, Namun Infrastruktur Masih Jadi Tantangan
PRABANGKARANEWS – Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Indonesia melonjak sebesar 49 persen pada tahun 2025 dan kini menyumbang 18 persen dari total penjualan kendaraan baru, meskipun penjualan mobil konvensional secara keseluruhan justru turun 11 persen. Hal ini berdasarkan laporan PwC ASEAN-6 Electric Vehicle Readiness Survey 2025.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan kuatnya dukungan pemerintah, antara lain melalui pembebasan penuh pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) hingga 2025 serta penurunan bea masuk impor, sehingga harga EV menjadi lebih terjangkau bagi konsumen Indonesia. Sebanyak 99 persen pemilik EV di Indonesia menyatakan puas—angka tertinggi di kawasan ASEAN, dilansir dari @Seasianews Jum’at (2/1/26).
Meski demikian, tantangan besar masih ada. Infrastruktur pengisian daya hanya mendapat skor 1,4 dari 5, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang mencapai skor 4,3. Sekitar 70 persen pemilik EV masih mengandalkan pengisian daya di rumah akibat keterbatasan jaringan stasiun pengisian cepat publik serta kekhawatiran terhadap jarak tempuh (range anxiety).
Kesiapan Indonesia dalam adopsi EV meningkat menjadi 2,8 pada tahun 2025 dari sebelumnya 2,0 pada tahun lalu. Posisi ini menempatkan Indonesia di tengah persaingan regional, di mana Thailand dan Vietnam memimpin dengan tingkat adopsi masing-masing sebesar 30 persen dan 33 persen.
Menurut Lukmanul Arsyad, Partner PwC Indonesia, perluasan infrastruktur pengisian daya serta integrasi adopsi EV dengan pengembangan energi terbarukan akan menjadi kunci agar Indonesia dapat muncul sebagai pemimpin regional dalam mobilitas listrik dalam dua tahun ke depan.
