[VIDEO] Wayang Suluh Pacitan: Media Budaya dalam Sosialisasi Pembangunan Orde Baru
PRABANGKARANEWS – Wayang Suluh merupakan salah satu bentuk budaya Nusantara yang berkembang dan hidup di Kota Pacitan. Berbeda dengan wayang klasik yang bersumber dari epos Mahabharata atau Ramayana, Wayang Suluh hadir sebagai media pertunjukan rakyat yang sarat pesan edukatif, moral, dan kebangsaan. Dalam perkembangannya, Wayang Suluh tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi sosial yang efektif bagi masyarakat.
Di Pacitan, Wayang Suluh sekitar tahun 70-an mempunyai peran yang cukup menonjol terutama pada masa Orde Baru. Pada periode tersebut, Wayang Suluh dimanfaatkan sebagai media sosialisasi program-program pembangunan pemerintah kepada masyarakat desa. Melalui lakon-lakon kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Wayang Suluh menyampaikan pesan tentang pentingnya pembangunan, gotong royong, keluarga berencana, pertanian, kesehatan, pendidikan, hingga semangat nasionalisme. Bahasa yang sederhana, tokoh-tokoh yang merepresentasikan rakyat, serta alur cerita yang komunikatif membuat pesan-pesan tersebut mudah diterima oleh warga.
Kekuatan Wayang Suluh terletak pada kemampuannya menjembatani kebijakan negara dengan budaya lokal. Pertunjukan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat, tanpa kesan menggurui. Di Pacitan, dalang Wayang Suluh berperan penting sebagai penyampai pesan sekaligus pendidik sosial. Salah satu tokoh dalang yang dikenal hingga kini adalah Rudhi Prasetya, selain Wayang Beber, Guru SMPN 1 Arjosari juga melestarikan wayang suluh yang sekitar tahun 70-an digunakan meramu pesan pembangunan ke dalam cerita wayang yang hidup dan membumi.
Melalui wawancara langsung dengan dalang, video ini menghadirkan gambaran singkat namun bermakna tentang bagaimana Wayang Suluh pernah menjadi alat strategis dalam membangun kesadaran masyarakat. Lebih dari sekadar bagian dari sejarah Orde Baru, Wayang Suluh kini dipahami sebagai warisan budaya yang mencerminkan kecerdasan lokal dalam menyampaikan pesan sosial.
Di tengah perkembangan zaman dan arus budaya modern, Wayang Suluh Pacitan menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan budaya Indonesia sebagai sarana pendidikan, komunikasi, dan pembentukan karakter bangsa.
Pewarta: Muhammad Fadllur Rifqi, Azis Tazuddin, Fachry Muhammad, Fadil Mifthakhul Faizin, Varas Yunia – STKIP PGRI Pacitan
