Kethek Ogleng: Warisan Budaya Takbenda Pacitan dan Urgensi Inventarisasi Berkelanjutan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Seni Kethek Ogleng Pacitan, yang berasal dari Kecamatan Nawangan, merupakan salah satu Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan pada tahun 2019. Keberadaannya memiliki nilai penting dalam khazanah budaya lokal sehingga memerlukan upaya inventarisasi dan kajian mendalam sebagai bagian dari strategi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Pacitan.
Nama Kethek Ogleng diberikan langsung oleh penciptanya, Sutiman, melalui proses refleksi kreatif yang mempertimbangkan karakter gerak dan unsur musikal dalam pertunjukan. Istilah kethek merujuk pada gerakan yang menirukan perilaku kera, sedangkan ogleng diambil dari bunyi khas iringan gamelan yang berbunyi “gleng… glong…”. Perpaduan antara unsur gerak imitasi dan musikalitas tersebut membentuk identitas unik seni pertunjukan ini.
Proses kreatif penciptaannya berawal dari pengalaman empiris Sutiman dalam mengamati perilaku kera di lingkungan alam sekitar, yang kemudian diperdalam melalui observasi langsung di Kebun Binatang Sri Wedari Surakarta. Hasil pengamatan tersebut diolah menjadi rangkaian gerak artistik yang kemudian dipadukan dengan iringan gamelan melalui kolaborasi dengan kelompok kerawitan setempat. Tahap ini menjadi fondasi penting dalam pembentukan struktur pertunjukan Kethek Ogleng yang lebih sistematis.
Dalam perkembangannya, Kethek Ogleng tidak terlepas dari dinamika sosial-politik. Kesenian ini sempat mengalami kevakuman pada masa pergolakan politik tahun 1965, namun kembali berkembang pada era 1970-an dan mulai dikenal luas sebagai media hiburan sekaligus alat komunikasi sosial dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk agenda pemerintahan.
Memasuki era kontemporer, Kethek Ogleng mengalami revitalisasi melalui keterlibatan generasi muda serta dukungan lembaga budaya dan pemerintah daerah. Kesenian ini kini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai identitas budaya lokal dan daya tarik wisata budaya Pacitan.
Secara struktural, keaslian Kethek Ogleng ditandai oleh enam gerakan pokok yang menjadi ciri khas dan tidak dapat dihilangkan, yaitu gerakan koprol, ekspresi termenung, interaksi dengan ruang, perilaku usil, aktivitas makan, serta gerakan bercanda. Elemen-elemen tersebut mencerminkan representasi simbolik perilaku kera yang diolah secara estetis dan komunikatif.

Kesenian tradisional Kethek Ogleng dari Pacitan pernah memeriahkan Surabaya Cross Culture International Folk Art Festival (SCIFAF) pada tahun 2019, menampilkan puluhan penari dengan kostum kera. Pertunjukan ini memukau penonton di kota Pahlawan, menampilkan gerakan lincah meniru monyet yang dipadukan dengan iringan musik tradisional.
Dengan demikian, Seni Kethek Ogleng Pacitan memiliki nilai strategis sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan yang mencakup aspek seni pertunjukan, tradisi lisan, serta pengetahuan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan langkah inventarisasi, dokumentasi, dan kajian berkelanjutan guna menjaga keberlanjutan, keaslian, serta relevansinya di tengah perkembangan zaman, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Pacitan.
Seni Kethek Ogleng Pacitan merupakan salah satu Warisan Budaya Takbenda yang lahir dari kreativitas lokal masyarakat Nawangan dan memiliki nilai historis, estetis, serta sosial yang kuat. Kesenian ini tidak hanya merepresentasikan ekspresi artistik melalui gerak yang meniru perilaku kera dan iringan gamelan yang khas, tetapi juga mencerminkan dinamika budaya masyarakat dalam merespons lingkungan dan perubahan zaman.
Dalam perkembangannya, Kethek Ogleng telah mengalami berbagai fase, mulai dari proses penciptaan, masa kevakuman akibat situasi sosial-politik, hingga kebangkitan kembali melalui upaya revitalisasi yang melibatkan generasi muda dan dukungan kelembagaan.
Sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan, keberadaan Seni Kethek Ogleng memerlukan perhatian serius melalui langkah inventarisasi dan kajian yang sistematis serta berkelanjutan. Upaya ini penting untuk mendokumentasikan nilai-nilai budaya, menjaga keaslian bentuk pertunjukan, serta memperkuat fungsi kesenian sebagai media pendidikan karakter dan identitas lokal.
Dengan pendekatan yang terintegrasi antara pelestarian dan pengembangan, Kethek Ogleng tidak hanya dapat bertahan di tengah arus modernisasi, tetapi juga berpotensi menjadi aset budaya strategis yang mendukung penguatan jati diri masyarakat Pacitan serta kontribusi dalam pemajuan kebudayaan nasional.
Sumber:
- Hendriyanto A., Mustofa A., dan S. B. (2018). Filosofi Jawa Dalam Seni Kethek Ogleng Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Sirok Bastra, 6(1).
- Hendriyanto A. (2021). Upaya Pelestarian dan Pengembangan Kethek Ogleng Pacitan, Jawa Timur Indonesia. Prakerta 3 (2), 443-455.
- A Hendriyanto, B Sutopo, A Mustofa. (2019). KEKHASAN SENI KETHEK OGLENG PACITAN KARYA SUTIMAN. Jurnal Penelitian Pendidikan 11 (1), 1563-1572.
-
A Hendriyanto, A Mustofa, B Sutopo. Local Wisdom Values in Kethek Ogleng Dance Tokawi Nawangan, Pacitan. International Symposium on Social Sciences, Education, and Humanities (ISSEH …

