Pelabuhan Pacitan dalam Jejak Sejarah Maritim Kolonial (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Di balik citranya sebagai kota pesisir yang tenang di selatan Pulau Jawa, Pacitan menyimpan rekam jejak sejarah maritim yang jarang terungkap. Sebuah arsip foto hitam-putih (KITLV, 1941) memperlihatkan sebuah kapal besar yang tengah bersandar di perairan Pacitan. Pada latar tampak dermaga sederhana, deretan pepohonan pantai, serta sebuah pesawat amfibi yang mengapung di laut. Dokumentasi ini menjadi bukti visual bahwa Pacitan pernah berfungsi sebagai titik persinggahan kapal dagang pada masa kolonial.
Memasuki awal abad ke-20, Pacitan memang tidak berkembang sebagai pelabuhan utama seperti Surabaya atau Semarang. Namun demikian, letaknya yang menghadap langsung ke Samudra Hindia menjadikan wilayah ini bagian dari jalur pelayaran selatan Jawa. Kapal-kapal dagang Belanda memanfaatkan perairan Pacitan sebagai tempat singgah sementara, baik untuk keperluan logistik, bongkar muat terbatas, maupun sebagai tempat berlindung dari kondisi laut lepas yang kerap tidak bersahabat.
Fasilitas pelabuhan pada masa itu masih tergolong sederhana, tetapi cukup mendukung aktivitas kapal uap dan kapal kargo berukuran menengah. Keberadaan kapal-kapal dagang di Pacitan menunjukkan keterkaitannya dengan sistem ekonomi kolonial Hindia Belanda. Berbagai komoditas dari wilayah pedalaman—seperti hasil hutan, produk pertanian, dan sumber daya lokal—didistribusikan melalui jalur laut sebagai bagian dari jaringan perdagangan kolonial.
Salah satu hal menarik dalam arsip tersebut adalah kehadiran pesawat amfibi yang diduga bertipe PBY Catalina. Pesawat ini dikenal luas digunakan pada akhir masa kolonial hingga periode Perang Dunia II untuk keperluan patroli, transportasi, dan pengawasan wilayah perairan. Kehadirannya menandakan bahwa perairan Pacitan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga peran strategis dalam aspek pertahanan dan mobilitas kolonial.
Bagi masyarakat lokal, aktivitas pelabuhan membawa perubahan sosial yang signifikan. Kawasan pelabuhan menjadi ruang interaksi antara penduduk setempat dengan pihak luar, membuka peluang terjadinya pertukaran budaya, bahasa, dan sistem ekonomi. Dari dinamika inilah Pacitan perlahan berkembang sebagai wilayah administratif yang memiliki posisi penting, meskipun berada di jalur pelayaran yang tidak seramai pantai utara Jawa.
Kini, jejak fisik pelabuhan kolonial di Pacitan telah banyak menghilang seiring perubahan zaman. Namun, arsip visual yang tersisa tetap menjadi sumber penting untuk menelusuri masa lalu. Ia merekam bahwa Pacitan pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim Hindia Belanda—sebuah pelabuhan kecil yang dahulu berperan sebagai titik singgah kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
![]()
