Sarasehan PT PGRI Jawa Timur Kembali Digelar, Bahas Daya Saing Perguruan Tinggi di Tengah Kompetisi Ketat
PRABANGKARANEWS.COM, KEDIRI – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Timur bersama Asosiasi Perguruan Tinggi PGRI Jawa Timur kembali menggelar sarasehan sebagai forum strategis untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu hingga Minggu, 25–26 April 2026, bertempat di Grand Hotel Surya Kediri.
Sarasehan yang sempat vakum selama enam tahun ini kini kembali dihidupkan sebagai wadah diskusi dan kolaborasi antarperguruan tinggi PGRI di Jawa Timur. Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh Ketua PPLP-PT/YPLP-PT PGRI serta pimpinan perguruan tinggi PGRI se-Jawa Timur.
Ketua pelaksana sarasehan, Prof. Dr. Dra. Munawaroh, M.Kes., bersama Dr. Zaenal Afandi, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa kebangkitan kembali forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi dan berbagi strategi dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan tinggi.

“Setelah vakum cukup lama, sarasehan ini kembali menjadi ruang bersama untuk bertukar gagasan. Ke depan, kegiatan ini direncanakan menjadi agenda rutin setiap tiga bulan sekali,” ujarnya.
Ketua PB PGRI Jatim Dr. Joko mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh PT PGRI di Jatim untuk melaksanakan sarasehan membahas persoalan yang semakin berat.
Menurutnya, persaingan antarperguruan tinggi, baik perguruan tinggi swasta (PTS) maupun perguruan tinggi negeri (PTN), semakin ketat. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis yang adaptif dan inovatif agar perguruan tinggi PGRI mampu terus berkembang dan berdaya saing.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., hadir sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan materi terkait implementasi Peraturan Menteri Nomor 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier, dan Dosen serta tata kelola perguruan tinggi.
Dalam paparannya, Prof. Dyah menekankan pentingnya keunggulan khas perguruan tinggi PGRI, salah satunya melalui rekonstruksi nilai-nilai ke-PGRI-an menjadi mata kuliah yang diajarkan secara berkelanjutan hingga lima semester. Hal ini dinilai mampu memperkuat karakter lulusan sekaligus menjadi identitas pembeda di tengah kompetisi global.
Selain itu, aspek penjaminan mutu juga menjadi sorotan utama dalam sarasehan ini. Perguruan tinggi didorong untuk terus meningkatkan kualitas lulusan melalui sistem penjaminan mutu yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya sarasehan ini, diharapkan seluruh perguruan tinggi PGRI di Jawa Timur dapat semakin solid, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa depan. Forum ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam memperkuat eksistensi dan kontribusi PGRI dalam dunia pendidikan nasional.
