Situs Ngrijangan Pacitan dalam Perspektif Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, CB-Pacitan – Situs Ngrijangan, Desa Sooka, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan kondisinya perlu segera mendapatkan perhatian. Situs Ngrijangan merupakan salah satu situs arkeologi penting di kawasan karst Pacitan yang berkaitan dengan perkembangan budaya prasejarah di wilayah selatan Pulau Jawa.
Situs ini pertama kali menarik perhatian para peneliti prasejarah karena ditemukannya sejumlah besar artefak batu yang menunjukkan aktivitas produksi alat batu pada masa prasejarah. Seharusnya peerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, serta instansi terkait, dan masyarakat harus menjaga dan melestarikan.Pagarpemisah dengan tanah warga telah rusak. Sehingga perlu perbaikan untuk membuat petanda sebagai penanda bahwa lokasi tersebut merupakan Situs yang merupakan bengkel peralatan dari batu pada masa pra sejarah.
Penelitian terhadap situs-situs prasejarah di Pacitan telah dimulai sejak awal abad ke-20 oleh ahli paleontologi Belanda G. H. R. von Koenigswald dan M.W.F. Tweedie pada tahun 1935 yang kemudian memperkenalkan istilah “Kebudayaan Pacitan” dengan istilah Pacitanian untuk menggambarkan tradisi pembuatan alat batu di wilayah ini.
Penelitian lanjutan oleh berbagai arkeolog Indonesia menunjukkan bahwa kawasan Punung tidak hanya menyimpan bukti hunian manusia prasejarah, tetapi juga lokasi produksi alat batu dalam skala besar, salah satunya adalah Situs Ngrijangan.
Situs Ngrijangan terletak di lingkungan perbukitan kapur kawasan Pegunungan Sewu yang memiliki karakteristik geologi berupa batuan karst dengan kandungan batu rijang (chert) yang melimpah. Bahan batuan ini menjadi sumber utama dalam pembuatan berbagai alat batu pada masa prasejarah.

Kondisi topografi situs berupa lereng dan dataran kecil di sekitar perbukitan karst. Di permukaan tanah banyak ditemukan serpihan batu (debitage), yaitu sisa-sisa proses penyerpihan batu yang menunjukkan adanya aktivitas pembuatan alat batu secara intensif. Keberadaan serpihan batu dalam jumlah besar menunjukkan bahwa lokasi ini kemungkinan besar berfungsi sebagai bengkel pembuatan alat batu (lithic workshop) pada masa prasejarah.
Hasil survei dan penelitian arkeologi di Situs Ngrijangan menunjukkan berbagai jenis temuan artefak batu, baik dalam bentuk alat yang sudah selesai maupun yang masih dalam tahap produksi. Beberapa jenis artefak yang ditemukan antara lain:
- beliung persegi (kapak batu dari masa Neolitikum)
- kapak perimbas dan kapak penetak
- serpihan batu hasil proses penyerpihan
- pahat batu
- batu inti (core) yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan alat
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa situs ini tidak hanya menjadi tempat penggunaan alat batu, tetapi juga menjadi lokasi produksi alat batu yang kemungkinan didistribusikan ke wilayah lain.
Situs Ngrijangan memiliki nilai penting dalam kajian arkeologi prasejarah Indonesia karena beberapa alasan berikut:
- Nilai ilmiah, sebagai bukti perkembangan teknologi pembuatan alat batu pada masa prasejarah, khususnya pada periode Neolitikum.
- Nilai historis, karena menjadi bagian dari rangkaian situs prasejarah di Pacitan yang menunjukkan perkembangan budaya manusia dari masa Paleolitikum hingga Neolitikum.
- Nilai edukatif, sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat dan dunia pendidikan mengenai kehidupan manusia prasejarah di wilayah Pacitan.
- Nilai budaya, karena memperkuat identitas Pacitan sebagai wilayah yang memiliki warisan arkeologis penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia.
Dalam konteks Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Situs Ngrijangan dapat dikategorikan sebagai bagian dari objek pemajuan kebudayaan yang berkaitan dengan cagar budaya dan situs sejarah. Inventarisasi dan kajian terhadap situs ini menjadi langkah penting dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan kebudayaan daerah.
Melalui kegiatan inventarisasi objek pemajuan kebudayaan, Situs Ngrijangan dapat didokumentasikan secara sistematis sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber penelitian, pendidikan, serta wisata budaya berbasis warisan prasejarah di Pacitan.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd, Meilinda Utami
