The Tamperan Cruiser Resmi Soft Launching, Bawa Wajah Baru Wisata Bahari Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Sebuah karya anak-anak desa Pacitan akhirnya menyentuh laut. The Tamperan Cruiser, kapal wisata yang dibangun dalam waktu hanya 52 hari, resmi diperkenalkan melalui Soft Launching & Test Drive, Kamis (20/8/2026), di kawasan Pelabuhan Tamperan Pacitan.
Kegiatan soft launching tersebut turut dihadiri Prayitno, S.T., M.T., selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan. Hadir pula Dr. Djoko Putro Utomo, M.Si., selaku Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan program dan potensi wisata yang ditawarkan Janenake.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri Direktur Akademi Komunitas Negeri (AKN) Pacitan, sejumlah media di Kabupaten Pacitan, serta berbagai pihak terkait. Keterlibatan lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam mengenalkan dan mengembangkan potensi wisata, ekonomi kreatif, serta berbagai program Janenake kepada masyarakat dan wisatawan.
Muhamad Rofikin merasa bersyukur k apal tersebut dikerjakan sejak 30 Juni hingga 20 Agustus 2026 secara siang dan malam di workshop Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung. Proses pembuatannya melibatkan Bambang Purnomo bersama para pemuda dari Sidomulyo, Kalipelus, dan Klesem. Karya tersebut dikembangkan oleh PT Janenake Kahfi Andalan di bawah pimpinan Muhammad Rofiqin yang akrab disapa Mamat.
Soft launching bertajuk “First Touch of the Sea” tersebut menjadi momentum penting bagi Janenake untuk membawa inovasi baru dalam pengembangan pariwisata Pacitan. The Tamperan Cruiser tidak hanya diposisikan sebagai kapal wisata, tetapi sebagai bagian dari konsep perjalanan “Sunset to Sunrise”.
Dari Sunset Dinner hingga Sunrise di Tengah Laut
Gagasan kapal wisata ini berangkat dari pengalaman Janenake menerima wisatawan dari luar daerah. Banyak wisatawan datang ke Pacitan untuk menikmati kuliner dan panorama matahari terbenam, tetapi kemudian langsung meninggalkan Pacitan dan tidak menginap.
Mamat menjelaskan, paket wisata yang ditawarkan Janenake dibedakan antara wisatawan dari luar Pacitan dan warga Pacitan. Untuk wisatawan dari luar Pacitan, paket dipatok Rp150.000 per orang, yang sudah mendapatkan voucher makan senilai Rp25.000 di Janenake serta fasilitas menginap satu malam senilai Rp50.000.
Fasilitas penginapan tersebut merupakan hasil kerja sama Janenake dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi, dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki DKP Provinsi.
Sementara itu, khusus bagi warga Pacitan, paket wisata ditawarkan dengan harga lebih terjangkau, yakni Rp100.000 per orang. Paket tersebut juga dilengkapi voucher makan di Janenake senilai Rp25.000.
Kondisi tersebut melahirkan pertanyaan sederhana yang menjadi dasar pengembangan The Tamperan Cruiser: bagaimana membuat wisatawan datang, menginap, kemudian menikmati Pacitan lebih lama?
Jawabannya dikemas dalam konsep Sunset to Sunrise.
Wisatawan diajak menikmati sunset dinner di Janenake, kemudian menginap di Pacitan. Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki The Tamperan Cruiser untuk menikmati sunrise dari tengah laut.
Konsep tersebut diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas perputaran ekonomi di Pacitan.
Melihat Pacitan dari Laut
Selama ini Pacitan lebih banyak dinikmati dari daratan, pantai, maupun kawasan pegunungan. Melalui The Tamperan Cruiser, wisatawan ditawarkan pengalaman berbeda: melihat Pacitan dari laut.
Kapal wisata ini diproyeksikan untuk menghadirkan berbagai pengalaman bahari, mulai dari menikmati sunset dan sunrise, menjelajahi teluk, fishing trip, hingga private charter.
Dengan demikian, laut tidak hanya menjadi latar belakang keindahan Pacitan, tetapi menjadi ruang pengalaman wisata baru yang dapat dinikmati secara langsung oleh wisatawan.
The Tamperan Cruiser memiliki panjang 10 meter, lebar 2,2 meter, tinggi lambung 1 meter, serta menggunakan mesin Yamaha 40 PK. Kapal dilengkapi atap untuk kenyamanan perjalanan, tempat duduk wisatawan, dan fasilitas glass bottom untuk menikmati keindahan bawah laut.
Kapasitas kapal mencapai 20 penumpang, dengan konsep perjalanan yang tetap mengutamakan kenyamanan dan keamanan wisatawan.
Karya Anak Desa, Dibangun di Pacitan
Hal yang membuat kehadiran The Tamperan Cruiser semakin istimewa adalah proses pembuatannya. Kapal ini lahir dari tangan tenaga lokal Pacitan.
Selama 52 hari, para pekerja mengerjakan kapal tersebut di Desa Sidomulyo. Keterlibatan pemuda dari beberapa desa menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak harus selalu bergantung pada produk dari luar daerah.
Kapal ini menjadi bukti bahwa keterampilan masyarakat desa dapat melahirkan produk wisata yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
Bagi Mamat, kapal tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem wisata yang lebih luas. Ketika wisatawan tinggal lebih lama, manfaatnya diharapkan mengalir kepada hotel, restoran, UMKM, transportasi, nelayan, pemandu wisata, hingga destinasi wisata lainnya.

Mendorong Pacitan sebagai “70 Mile Sea Paradise”
Peluncuran The Tamperan Cruiser juga membawa visi untuk memperkuat citra Pacitan sebagai “70 Mile Sea Paradise”—surga bahari dengan bentang pesisir yang panjang dan beragam karakter alam.
Mamat melihat potensi laut Pacitan belum sepenuhnya dinikmati dari perspektif laut. Karena itu, The Tamperan Cruiser hadir untuk membuka pengalaman baru bagi wisatawan.
Kamis, 20 Agustus 2026, menjadi penanda awal perjalanan tersebut.
Dari workshop di sebuah desa, setelah dikerjakan siang dan malam selama 52 hari, The Tamperan Cruiser akhirnya menyentuh laut Pacitan.
Sebuah karya anak desa, dibangun di Pacitan, untuk membawa wisatawan melihat Pacitan dari laut.
Sunset to Sunrise.
See Pacitan from the Sea.
The Tamperan Cruiser — langkah baru Janenake untuk membawa wisata bahari Pacitan semakin dikenal dan mendunia
