KMD Angkatan X STKIP PGRI Pacitan: Dari Dimanja Masakan Panitia hingga Belajar Mengiris Daging dan Sayuran
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Angkatan X STKIP PGRI Pacitan resmi dibuka. Kegiatan yang menjadi bagian dari penguatan kompetensi kepramukaan mahasiswa tersebut berlangsung 1–7 September 2026 di Student Hall STKIP PGRI Pacitan.
Upacara pembukaan dilaksanakan pada Selasa (1/9/2026) dan diikuti peserta KMD Angkatan X bersama jajaran pimpinan, pembina, serta unsur terkait. Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sekaligus pengalaman praktis yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembinaan kepramukaan.
Namun, KMD bukan sekadar belajar teori kepramukaan. Peserta juga mulai diajak menghadapi pengalaman sederhana yang ternyata tidak mudah bagi sebagian mahasiswa: memasak sendiri.
Kegiatan memasak Kamis (3/9/2026), dilaksanakan di halaman STKIP PGRI Pacitan. Panitia menyiapkan bahan berupa sayuran dan daging yang kemudian harus diolah oleh peserta untuk memenuhi kebutuhan makan siang dan makan sore. Suasana halaman kampus pun berubah menjadi ruang praktik kepramukaan. Kelompok-kelompok mahasiswa sibuk menyiapkan bahan, mengiris sayuran dan daging, menyalakan peralatan memasak, hingga mengolah makanan untuk disantap bersama.
Bagi sebagian peserta, mengiris sayuran dan daging menjadi pengalaman baru. Ada mahasiswa yang mungkin selama ini belum terbiasa memegang pisau untuk menyiapkan bahan makanan. Namun dalam suasana KMD, mereka harus belajar dan berani mencoba. Pisau dapur yang biasanya berada di tangan orang tua atau juru masak, kali ini harus digunakan sendiri oleh mahasiswa.
Sebelumnya, peserta memang masih mendapatkan fasilitas makanan yang disediakan panitia untuk makan pagi, siang, dan sore. Tetapi secara bertahap mereka mulai “dilepas” untuk mengurus kebutuhan makan sendiri. Dari yang biasanya tinggal menikmati masakan, kini harus ikut menyiapkan bahan, mengolah, hingga menghasilkan makanan yang siap disantap.
Aktivitas memasak di halaman kampus tersebut tidak hanya mengajarkan keterampilan memasak. Peserta juga belajar membagi tugas, bekerja dalam kelompok, mengatur waktu, menjaga kebersihan, menggunakan peralatan secara tepat, serta bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan kelompok.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan kepramukaan yang menekankan kemandirian, kedisiplinan, gotong royong, tanggung jawab, dan kemampuan memecahkan persoalan. Hal-hal sederhana seperti menyiapkan makanan ternyata dapat menjadi sarana pembentukan karakter calon pembina Pramuka.
Rangkaian KMD Angkatan X selanjutnya juga akan semakin mendekatkan peserta dengan kehidupan perkemahan. Kegiatan kemah akan dilaksanakan di halaman barat STKIP PGRI Pacitan. Di lokasi tersebut peserta akan mendapatkan pengalaman praktik yang lebih nyata tentang kehidupan perkemahan, termasuk membangun kebersamaan, menjalankan tugas kelompok, menjaga lingkungan, serta menerapkan keterampilan kepramukaan yang telah dipelajari.
Halaman barat kampus nantinya bukan sekadar tempat mendirikan tenda. Kawasan tersebut akan menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi mahasiswa untuk merasakan bagaimana kehidupan seorang Pramuka yang dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan, bekerja sama, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
Di sinilah KMD memiliki makna yang lebih luas. Menjadi pembina Pramuka tidak cukup hanya menguasai teori dan materi kepramukaan. Seorang pembina juga dituntut mampu memberi teladan melalui keterampilan hidup yang sederhana.
Pisau, sayuran, daging, kompor, tenda, dan halaman kampus akhirnya menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya belajar membuat makanan untuk makan siang dan sore, tetapi juga belajar bahwa kemandirian harus dimulai dari hal-hal kecil.
Dari Student Hall hingga halaman STKIP PGRI Pacitan, dan nantinya di halaman barat kampus, KMD Angkatan X menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam ruangan. Mahasiswa belajar melalui pengalaman nyata: memasak, bekerja sama, berkemah, menghadapi keterbatasan, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kelak terjun menjadi pembina Pramuka. Sebab, seorang pembina bukan hanya orang yang mampu memberikan instruksi, tetapi juga seseorang yang harus mampu mengatakan, “Saya bisa melakukannya, mari kita lakukan bersama.”
