Rumah Sigar Benguk, Jejak Pengetahuan Tradisional dan Filosofi Pacitanian
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Pengetahuan tradisional dalam pembuatan rumah di Pacitan merupakan bagian dari warisan budaya yang lahir dari kemampuan masyarakat menyesuaikan bentuk bangunan dengan kondisi lingkungan serta pandangan hidup masyarakat setempat. Salah satu bentuk rumah yang dikenal dalam tradisi bangunan Pacitan adalah Rumah Sigar Benguk.
Dalam perkembangan sejarahnya, bentuk bangunan tersebut diperkirakan berkembang pada sekitar abad ke-19 Masehi, ketika pengaruh kolonial Belanda turut membawa perubahan dalam penggunaan material dan model bangunan. Rumah yang sebelumnya banyak menggunakan bahan kayu mulai berkembang dengan penggunaan material pasir dan batu.
Perubahan tersebut juga melahirkan variasi bentuk bangunan. Dari bentuk rumah tradisional seperti limasan, kemudian berkembang model dengan pola atap menyerupai segitiga atau “Sigar Benguk”.
Di balik bentuk arsitekturnya terdapat filosofi yang dalam. Dalam perspektif Pacitanian, bentuk kerucut atau segitiga dimaknai sebagai gambaran perjalanan manusia: lahir, laku, dan lelayu. Ketiganya menggambarkan rangkaian kehidupan manusia sejak kelahiran, menjalani kehidupan, hingga menghadapi kematian.
Bagian atas atau atap bangunan juga dimaknai sebagai simbol harmonisasi antara dimensi bumi dan dimensi langit, yang dipandang saling terhubung satu sama lain. Dengan demikian, membangun rumah tidak semata-mata dipahami sebagai membangun sebuah tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol membangun kehidupan yang senantiasa terhubung antara manusia, bumi, langit, dan seluruh isinya.
Filosofi tersebut mengandung pesan bahwa perjalanan hidup manusia sejak lahir, menjalani kehidupan, hingga kembali kepada Sang Pencipta merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan. Hubungan tersebut dimaknai melampaui batas ruang dan waktu.
Model bangunan dengan konsep semacam ini juga pernah banyak diterapkan pada bangunan-bangunan pemerintahan dan pendidikan, terutama sekolah-sekolah dasar yang dibangun melalui program Inpres. Bentuknya relatif sederhana sehingga dapat dibangun dengan biaya yang lebih efisien. Karena itu, model bangunan tersebut banyak dijumpai pada bangunan SD Inpres yang berkembang pada masa tersebut.
Dari sudut pandang sejarah arsitektur, teknik dan bentuk bangunan tradisional bukan sekadar persoalan konstruksi. Di dalamnya terdapat rekam pengetahuan masyarakat, sejarah, nilai budaya, serta filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sayangnya, seiring perkembangan zaman dan modernisasi, sebagian pengetahuan mengenai makna filosofis tersebut mulai jarang dipahami oleh generasi sekarang. Padahal, teknik dan bentuk bangunan tersebut hingga kini masih dapat ditemukan dan digunakan oleh sebagian masyarakat, terutama di wilayah pedesaan Pacitan.
Melestarikan rumah tradisional dan pengetahuan yang menyertainya berarti bukan hanya mempertahankan bentuk fisik sebuah bangunan, tetapi juga menjaga ingatan, pengetahuan lokal, dan pandangan hidup masyarakat Pacitan agar tidak hilang ditelan zaman.
Mugi Gusti Allah SWT paring berkahipun teng Engsun, keluarga, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, bumi, langit, sak isine.
Penulis: Amat Taufan
